08.15.08

Rasulullah Saw. dan Pengemis Yahudi Sang Penghina…

Posted in belajar merenung at 4:09 pm by kuswandani

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah
lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

ps. makasih buat sdr. adang atas mailing kisah ini… punten saya bajak ke sini.. semoga manfaat buat kita semua…

Indahnya Pengetahuan Kebenaran!!

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 12:39 am by kuswandani

Berkata Imam Asy Syafi’I ra. :

  • Barangsiapa tiada menjaga dirinya maka tak bergunalah ilmunya.
  • Barangsiapa ta’at kepada Allah Ta’ala dengan ilmu, maka bermanfaatlah bathinnya.
  • Tidak seorangpun melainkan ia ada orang yang menyukainya dan ada orang yang membencinya. Apabila    demikian adanya, maka hendaklah engkau bersama orang yang ta’at kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

  • Diriwayatkan Bahwasanya Abdul Qadir bin Abdul ‘Aziz adalah seorang yang saleh dan wara’. Ia bertanya kepada Imam Asy Syafi’I ra. tentang beberapa masalah tentang wara’. Dan Imam Asy Syafi’I pun merasa senang dengan menerima kedatangannya karena wara’-nya. Dan pada suatu hari ia bertanya kepada Imam Asy Syafi’I:

“Manakah yang lebih utama apakah sabar, ataukah diuji atau ataukah diberi keteguhan hati?…”

Maka menjawab Imam Asy Syafi’I ra. :

  • “Diberi keteguhan hati itu derajat para Nabi, dan tak ada keteguhan hati selain sesudah adanya ujian. Apabila ia diuji maka ia bersabar, dan apabila telah bersabar maka teguhlah hatinya. Tidakkah kamu mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala menguji Ibrahim as kemudian beliau dianugerahinya keteguhan hati. Dia menguji Musa as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati. Dia menguji Ayyub as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati, dan Dia menguji Sulaiman as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati dan menganugerahinya kerajaan.

  • Keteguhan hati adalah derajat yang paling utama. Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

“  Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf dimuka bumi (Mesir).”

(Qs. Yusuf 21)

  • Dan Ayyub as diteguhkan hati oleh Alah setelah ujian besar. Allah Ta’ala berfirman:

“ Dan Kami kembalikan keluarganya ke-padanya dan Kami lipatgandakan bilangan mereka.

(Qs. Al  Anbiya 84)”

  • Ditanyakan kepada Imam Asy Syafi’I ra.:

“Kapankah seseorang itu dipandang sebagai seorang yang ‘alim?….”

  • Beliau pun menjawab: ”Apabila ia yakin pada suatu ilmu, lalu dipelajarinya ilmu itu. Kemudian ia menempuh ilmu-ilmu yang lain, maka dilihatnya mana yang belum diperolehnya. Maka ketika itu, barulah ia menjadi orang yang ‘alim.”

  • Aku ingin manusia mengambil manfaat dari ilmu yang ini dan dari ilmu-ilmu lain yang ada padaku, meskipun sedikit.
  • Aku tidak pernah diskusi dengan seseorang lalu saya suka ia salah.

  • Aku tidak pernah berbicara kepada seseorang melainkan aku suka ia mendapat taufiq, kebenaran, pertolongan dan pemeliharaan dari Allah Ta’ala. Dan saya tidak pernah berbicara dengan seseorang sedangkan saya mengindahkan agar Allah menjelaskan kebenaran itu pada lidahku atau lidahnya.

  • Saya tidak menyampaikan kebenaran dan bukti kebenaran itu atas seseorang, lalu ia menerimanya daripadaku, melainkan saya takut kepadanya dan saya percaya akan kasih sayangnya. Sebaliknya, kalaulah orang itu menyombongkan diri kepadaku terhadap kebenaran dan ia menolak hujjah (bukti kebenaran), maka jatuhlah orang itu dari pandanganku dan aku menolak berhadapan dengan dia.”

08.14.08

Terimalah…!

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 10:26 pm by kuswandani

Ketentuan Allah tidak dapat ditolak oleh siapapun juga.
Terimalah…maka kalian akan merasakan ketenangan.

Datangnya siang dan malam apakah hendak kalian tolak?
Saat malam datang, terimalah….suka ataupun tidak.
Begitu juga saat datangnya siang.
Itulah ketentuan Allah dan kadar yang diberikan atas kalian.

Ketika malam kefakiran datang, abaikan terangnya kekayaan.
Saat datang sakit, terimalah…abaikan kesehatan.
Jika datang apa yang kalian benci, maka terimalah…dan abaikan apa yang kalian cintai.
Sambutlah rasa sakit, siksa, kemiskinan dan hilangnya kekayaan dengan hati yang tenang

Janganlah menolak apapun berupa ketentuan dan takdir-Nya, sehingga kalian binasa dan keimanan kalian hilang, hati kalian keruh dan nurani kalian menemui kematian.

Allah SWT berfirman:
Aku adalah Allah yang tiada Tuhan selain Aku.
Barangsiapa menerima ketentuan-Ku, sabar menghadapi ujian-Ku, mensyukuri nikmat-Ku.
Kucatat ia sebagai orang-orang yang benar.
Sebaliknya siapa yang tidak menerima ketentuan-Ku, tidak sabar menghadapi ujian-Ku, tidak mensyukuri nikmat-Ku,
maka carilah Tuhan selain Aku!

(Syekh Abdul Qadir Jailani)

08.12.08

Jalan Sang Rumi….

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 3:12 pm by kuswandani

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah
menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,

karena Aku-lah jalan itu.”

08.07.08

Hadiah Bagi Tebakan Jitu…

Posted in sisi lain hidup: tersenyumlah!! at 3:04 pm by kuswandani

Baginda Raja Harun Al Rasyid kelihatan murung. Semua menterinya tidak adayang sanggup menemukan jawaban dari dua pertanyaan Baginda. Bahkan para penasihat kerajaan pun merasa tidak mampu memberi penjelasan yang memuaskan Baginda. Padahal Baginda sendiri ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya.

Mungkin karena amat penasaran, para penasihat Baginda menyarankan agar Abu Nawas saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu.

Tidak begitu lama Abu Nawas dihadapkan. Baginda mengatakan bahwa akhirakhir ini ia sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan menyingkap dua rahasia alam.

“Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?” tanya Abu Nawas ingin tahu.

“Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku.” kata Baginda.

“Bolehkah hamba mengetahui kedua teka-teki itu wahai Paduka junjungan  hamba.”

“Yang pertama, di manakah sebenarnya batas jagat raya ciptaan Tuhan kita?” tanya Baginda.

“Di dalam pikiran, wahai Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas tanpa sedikit  pun perasaan ragu, “Tuanku yang mulia,” lanjut Abu Nawas ‘ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu manusia tidak akan pernah tahu di mana batas jagat raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas.”

Baginda mulai tersenyum karena merasa puas mendengar penjelasan Abu  Nawas yang masuk akal. Kemudian Baginda melanjutkan teka-teki yang kedua.

“Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak jumlahnya : bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut?”

“Ikan-ikan di laut.” jawab Abu Nawas dengan tangkas.

“Bagaimana kau bisa langsung memutuskan begitu. Apakah engkau pernah menghitung jumlah mereka?” tanya Baginda heran.

“Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkapi dalam jumlah besar, namun begitu jumlah mereka tetap banyak seolah-olah tidak pernah berkurang karena saking banyaknya. Sementara bintang-bintang itu tidak pernah rontok, jumlah mereka juga banyak.” jawab Abu Nawas meyakinkan.

Seketika itu rasa penasaran yang selama ini menghantui Baginda sirna tak berbekas. Baginda Raja Harun Al Rasyid memberi hadiah Abu Nawas dan  istrinya uang yang cukup banyak.

08.04.08

Doa Bagi Sang Pengantin….

Posted in Tentang Pasangan dan Pernikahan at 11:30 am by kuswandani

Semoga Ikrar Pernikahan ini Diberkati-Nya

Semoga Pernikahan ini Senikmat Air Susu, Semanis Anggur dan Halwa

Semoga Pernikahan ini Menawarkan Buah Naungan Layaknya Pohon Kurma.

Semoga Pernikahan ini Penuh Berhias Tawa, Setiap Harinya Bagaikan Sehari di Surga

Semoga Pernikahan ini Menjadi Simbol Cinta dan Kasih Sayang, Segala Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Semoga pernikahan ini Berwajah Indan dan Bernama Baik, Bersambut Pertanda Bulan di Langit Biru Jernih

Tiada Lagi Kata dapat Kuucapkan Untuk Melukiskan, Betapa Alam Ruhaniah Berbaur Dalam Pernikahan ini…

(Maulana Jalaluddin Rumi, Ode no. 2667)

08.02.08

tuhan-tuhan di sekitar kita

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 6:04 pm by kuswandani

Di dalam dadamu ada banyak tuhan.

Ketakutanmu kepada penguasa dan gubernur di tempat tinggalmu adalah tuhan.

Kebergantunganmu kepada pekerjaan, kepada keuntungan, kemampuan, kekuatan, pendengaran
dan penglihatan adalah tuhan.

Pandanganmu pada kemudaratan dan kemanfaatan, pada pemberian ataupun penolakan dari makhluk, juga adalah tuhan.

Banyak makhluk bergantung pada berbagai perkara ini dengan hati mereka, tetapi menampakkan diri seolah-olah hanya bergantung kepada Allah SWT.

Zikir mereka yang hanya ditujukan kepada Allah semata senantiasa terucap dari lidah,  tetapi bukan dari hati mereka.

Kelak akan jelaslah berbagai aib dan tampaklah berbagai rahasia.

Celakalah engkau!

(Syaikh Abdul Qadir Jailani)

08.01.08

Mengapa 33 kali Dzikir Ketiga usai Shalat …. Allahu Akbar…?

Posted in Mengapa? at 12:44 am by kuswandani

[Cucu] Sekarang biar lengkap abah, saya mau tanya tentang dzikir setelah shalat yang ketiganya, mengapa harus bertakbir sebanyak 33 kali?

[Kakek] Saya coba jawab lagi sesuai dengan pemahaman abah hari ini yah…. Semoga Allah terus menuntun abah, jika pemahaman ini benar adanya menurut-Nya, tentu Dia akan menguatkan makna ini, tapi sebaliknya jika ini hanya permainan akal manusia lemah kayak abah sekarang, semoga Allah juga akan menunjukkan yang lebih baik dari sekarang….

Takbir Allahu Akbar, adalah ungkapan akan kecilnya diri ini, dan Maha Besarnya Dia Yang Agung…

Allahu Akbar, Allah Yang Besar, diri yang kecil,
Allah yang Besar, masalah diri yang jauh lebih kecil, sehingga keputus-asaan kita dalam menghadapi masalah yang tampak kita tidak mampu mengatasinya, dengan menganggap-Nya besar, maka si hamba yang kelak akan mendapatkan kekuatan-Nya dalam menghadapinya..

Allah yang Besar, ujian hidup diri yang mestinya lebih kecil, seberat apa pun pandangan lemah kita dalam menghadapi ujian, serumit apa pun tampaknya di mata manusia, sehebat apa pun dirasakannya oleh kita, semoga dengan takbir ini, akan terbangun sebuah pengharapan besar, Dia Ta’ala yang kelak akan memberikan kita kemampuan melihat hakekat sebenarnya dibalik ujian-Nya,
Read the rest of this entry »

07.29.08

Yang Tahu Memberitahu Yang Tidak Tahu…

Posted in sisi lain hidup: tersenyumlah!! at 11:10 am by kuswandani

Suatu hari, Nashruddin Effendy berdiri di mimbar; di depan massa, untuk memberikan nasihat. Dia berkata, “Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan kepada kalian?” Orang-orang itu menjawab, “Tidak! Kami tidak tahu.”

Kemudian Nashruddin berkata kepada mereka,
“Baiklah, kalau kalian tidak tahu… Tidak ada gunanya berbicara dengan orang-orang yang tidak tahu.” Dia pun turun dan meninggalkan mereka.

Beberapa hari kemudian, dia kembali dan berbicara pada mereka dengan pertanyaan sama, yang pernah dilontarkannya. Dia berkata, “Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan kepada kalian?” Mereka menjawab, “Ya, kami tahu.” Dia kemudian berkata, “Jika kalian sudah tahu apa yang akan saya sampaikan, saya tidak perlu lagi mengatakannya.” Lalu, dia pun pergi meninggalkan mereka.

Orang-orang itu pun kebingungan; apa yang seharusnya mereka katakan untuk menjawab pertanyaan Nashruddin itu. Namun, mereka sepakat untuk pada kesempatan mendatang, jika Nashruddin melontarkan pertanyaaan serupa, sebagian di antara mereka akan menjawab ya dan sebagian lain akan menjawab tidak.

Beberapa hari kemudian, Nashruddin kembali ke tempat itu dan berkata, “Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan pada kalian?”

Jawaban mereka pun beragam; sebagian berkata, “Ya, kami tahu,” dan sebagian lagi mengatakan, “Tidak, kami tidak tahu.” Nashruddin berkata kepada mereka, “Baik, sebagian di antara kalian sudah mengetahuinya dan sebagian lain tidak. Karena itu, saya berharap, yang tahu memberitahu yang tidak tahu.” Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka.

ps: dikutip dari eBook oleh : Nurul Huda Kariem MR. dengan judul : CANDA ALA SUFI Penerbit Cahaya-Bogor, 2004

Filosofi Abu Nawas!

Posted in sisi lain hidup: tersenyumlah!! at 10:05 am by kuswandani

Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini— sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir.

Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab”, la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.

Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.

Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana.

Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara
memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo’akannya, maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.

Namun… demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Read the rest of this entry »

« Older entries