December 24, 2008

Kau dan Anakmu

Posted in belajar merenung at 11:01 pm by kuswandani

by: Anonymous

baby-es

Jangan didik anakmu…

Jangan didik anakmu laki-laki

Bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya

Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu laki-laki

Untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan

Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan

Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis

Dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng

Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya

Bahwa air mata adalah anugerah Tuhan yang indah

Sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya

Dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya

Jangan didik anakmu perempuan

Bagaimana menjadi cantik

Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu perempuan

Bagaimana untuk menyenangkan laki-laki

Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan

Jangan larang anakmu perempuan

Jika ia menikmati melompat, berlari, dan memanjat

Jika ia suka menjelajah dan mengutak-atik benda-benda

Jangan kaupaksa dia untuk duduk manis diam dan tenang

Karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri

Dan juga rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugerahkan

Telah kaubonsai dan kaurusak sejak dini

Isilah rumahmu

Dengan cinta, hikmat, dan kebijaksanaan

Bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar, dan kekuasaan

Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan

Keindahan menikmati mentari pagi

Kehangatan rasa ketika menggenggam pasir

Kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga

Dan merdunya suara tetes-tetes hujan

Jika kau ingin anakmu rajin beribadah

Gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu

Ia takkan bisa kaupaksa berdoa dan sembahyang

Ketika dia tak dapat menangkap makna ibadah darimu

Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan

Pancarkan rasa ingin terus belajar

Nasihatmu tak akan bisa membuatnya mau membaca

Ketika dia tak pernah menyaksikan engkau menikmati buku

Jika kau ingin anakmu penuh kasih

Tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama

Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi

Jika ia tak pernah merasakan cinta darimu

Untuk anakmu

Engkau adalah teladan yang utama

Tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat

Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kauinginkan

Hiduplah demikian!

14 Comments »

  1. Ahmad said,

    Ass…
    saya yang masih berada di posisi “anak” amat sangat setuju mas dengan wise diatas…
    terkadang orang tua tanpa disadari menyuruh tanpa mau mencontohkan ke anaknya, hanya memberi “telunjuk” tanpa mau ngasih bukti real kepada anaknya…
    Semakin anak di kekang dengan kemauan orang tuanya semakin besar rasa pemberontakan yang akan semakin menumpuk dalam bathinnya…
    Saya termasuk salah satu anak yang terdidik dalam kondisi seperti itu, tapi itu dulu, Alhamdulillah sekarang orang tua saya sudah berubah…
    Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillah…

    Jadi teringat kata2 mentor saya di tpt tholabul ‘ilm saya mas, katanya “Sebagai orang tua kita bukanlah seorang Pemanah, yang menentukan dimana jatuhnya anak panah itu, tapi jadilah sebagai busurnya yang dengan segudang perjalanan hidupnya dan segudang pengalaman yang dimiliki orang tua bisa membuat anak panah tidak keluar batas dari tempat yang seharusnya. Jangan pernah menginginkan pada posisi Pemanah, karena posisi tersebut telah dimiliki oleh Dzat Yang Maha Mutlak, yang menetukan kemana anak panah akan ditujukan…”

    Mas boleh g saya copy artikelnya? bukan untuk dikomersialkan ko, hanya untuk bahan bacaan saya dan temen2🙂

    btw mas, fotonya ngeri y, gimana klo bayi2nya jadi bongkok, coz belum waktunya duduk kayaknya, hehehehe….

    • Anonymous said,

      makasih atas tanggapannya, silakan di copy paste,…. semoga manfaat makin meluas…

  2. marfu'ah said,

    “Sebagai orang tua kita bukanlah seorang Pemanah, yang menentukan dimana jatuhnya anak panah itu, tapi jadilah sebagai busurnya yang dengan segudang perjalanan hidupnya dan segudang pengalaman yang dimiliki orang tua bisa membuat anak panah tidak keluar batas dari tempat yang seharusnya. Jangan pernah menginginkan pada posisi Pemanah, karena posisi tersebut telah dimiliki oleh Dzat Yang Maha Mutlak, yang menetukan kemana anak panah akan ditujukan…”: CUKUP HEBAT, LUAR BIASA UNGKAPAN ITU, wahai ALLAH, ampunilah diriku

  3. asw,om kuswandani,mohon izin buat di copas.makasih

    • Anonymous said,

      silakan erlangga…. gratis…

    • Anonymous said,

      silakan erlangga….

  4. Meidy said,

    Pak, ijin di share ya… Thanks

    • Anonymous said,

      silakan meidy… gratis kok…

    • kuswandani said,

      silakan meidy..

  5. Yogie said,

    Ijin share …
    Nasihat yang bagus untuk orangtua.

    • Anonymous said,

      mangga, silakan… semoga manfaat…..

      (kuswandani)

      • t said,

        Semua yang menulis di blog ini akan mengalami jadi orang tua, dan yang bacapun pasti sudah ada yang sudah dewasa dan tua. Untuk yang masih muda belajarlah untuk menghadapi jadi dewasa dan jadi orang tua. Untuk yang sudah terlanjur tua renungilah tulisan mas Kuswadani di atas apa pernah jadi pemanah atau jadi busurnya saja, karena yang nulis ini sudah termasuk tua, apa salahnya untuk mengatakan tulisannya mas Kus itu bagus. salam kenal buat mas Kus.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: