July 20, 2008

#2 [06:52:22]

Posted in chatting untuk memaknai hidup at 10:31 am by kuswandani

MW: kang, kok saya merasa hidup ini jadi terlalu apatis..

kuswandani : gpp…namanya juga proses

MW: terlalu terhanyut dalam rutinitas pencarian status

kuswandani : itulah dunia…kenapa disimbolkan dengan lautan…karena memang menenggelamkan…
makanya Musa butuh tongkat “pengetahuan” yang tepat hingga dapat membelah lautan itu..

MW: saya menyimak

kuswandani : atau nabi Nuh dengan perahunya, selamat dari banjir… dan untuk menemukan tongkat serta membuat perahu.. butuh pengorbanan, butuh kesadaran butuh tahan ujian makian dan cercaan… itulah hidup

MW: saya menyimak

kuswandani : dan proses membuat perahu memang gak sebentar sebagaimana proses Musa mendapatkan tongkat juga gak sesaat…Musa melewati perjalalanan gurun panjang, harus shaum 40 hari.. dan mendaki bukit.. baru Allah anugerahkan tongkat itu..,

MW: saya menyimak..

July 18, 2008

# 1 (pukul 04:18 wibb)

Posted in chatting untuk memaknai hidup at 4:18 am by kuswandani

tanya: kang, apa di surga bahasanya bahasa Arab?
jawab: gak tau tuh.. gak pernah kesana..hehe
yang saya paham, setiap jiwa menggunakan bahasa yang universal…
walaupun berawal dari bahasa ibunya masing-masing
saya belum meneliti jargon atau hadis atau bukan yang menyebutkan bahasa arab adalah bahasa surga
lebih ke pemahaman simbolis, bahasa arab adalah bahasa agama yang mengenalkan pada akhir tempat surga kelak, kalau memang agama berhasil di tanamkan dalam diri…

tanya: kalau memang itu hadis, (yang menyebutkan kecintaan rasul pada arab itu ada tiga…diantaranya bahasa di surga,,kata temenku), mungkin sudah included gitu kali’ ya, bukan berarti bahasa Arab yang dipelajari di dunia. kalau anak bayi lahir di indonesia meninggal belum belajar bahasa arab, bisa plangah plongoh di surga dong

jawab : hehe, benar sekali…. sayangnya banyak ungkapan Nabi (kalau kita yakin itu sebagai hadis) yang tidak bermakna tunggal tuh…
seringkali memiliki makna ganda, makna lahir dan makna batin….
contoh…
beliau makan dengan tiga jari…
lantas yang pake sendok apakah bid’ah…
maka kita cari essensi tiga jari… adalah makan dengan penuh kesederhanaan…
walaupun tetep pake sendok tapi penuh kesederhanaan, semoga ini adalah sebuah pelaksanaan atas sunnah Rasulullah….

ah, inimah jawaban yang saya pahami ajah.. semoga manfaat..