December 2, 2008

Kenali Dirimu Sebelum Kau Kenali Pasanganmu di Luar Dirimu

Posted in Tentang Pasangan dan Pernikahan at 5:54 am by kuswandani

Konsep pengenalan diri dalam agama manapun sebenarnya menjadi sala satu hal mendasar yang harus di pahami dan dijadikan sebagai penghayatan agung… demikian pula dalam ajaran Islam, sebagaimana dinyatakan oleh waliyullah Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali,

Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan, sesuai ungkapan hadis, ‘Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Rabb-nya,’ dan sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala,

Akan Kami perlihatkan ayat-ayat Kami di ufuk ini dan di dalam jiwa-jiwa mereka, hingga jelas bagi mereka bahwa itu adalah al-Haq…” QS Fushilat [41] : 53

Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuanmu tentang dirimu sendiri dari sisi lahiriyah, seperti bentuk muka, badan, anggota tubuh, dan lainnya sama sekali tidak akan mengantarmu untuk mengenal Allah. Sama halnya, pengetahuanmu mengenai karakter fisikal dirimu, seperti bahwa kalau lapar kau makan, kalau sedih kau menangis, dan kalau marah kau menyerang, bukalah kunci menuju pengetahuanmu tentang Allah.
Read the rest of this entry »

Mengumpulkan yang Terserak; Merenungi Sang Tulang Rusuk yang (Pernah) Hilang..

Posted in Tentang Pasangan dan Pernikahan at 5:40 am by kuswandani

Kita awali dengan ungkapan mulia Baginda Rasulullah Saw. kepada Abu Hurairah r.a., dimana sebagian penggalannya beliau mengatakan,

… Hendaklah kalian memberikan nasihat kepada perempuan dengan penuh kebaikan, karena sesungguhnya mereka dicipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok itu ialah yang paling atas. Jika engkau ingin meluruskannya (sekaligus) niscaya engkau mematahkannya, tapi jika engkau biarkan, niscaya ia tetap bengkok. Hendaklah kalian berikan nasihat kepada perempuan dengan sebaik-baiknya….”
(HR Muttafak ‘alaih dengan lafadz dari Bukhari)

Ada hal menarik ketika kita mulai masuk kedalam sebuah upaya memaknai konsep tulang rusuk yang Nabi Mulia sebutkan, dan bagaimana Beliau menuntun terutama bagi kaum laki-laki untuk memperlakukan kaum perempuan dengan sebaik-baik perlakuan..

Mari kita awali dengan melontarkan beberapa pertanyaan pencarian makna; Mengapa Allah menciptakan Hawa dari bagian tubuh Adam? Bukankah Allah Maha Berkuasa untuk menciptakan manusia dari bahan tanah yang lain dari manapun juga, tanpa harus mengambil dari bagian tubuh wujud manusia pertamanya? Mengapa harus dari bagian tubuh Adam? Mengapa juga bagian tulang rusuk yang menjadi kehendak Allah Yang Maha Kreatif, yang menjadi simbol penciptaan Hawa sebagai pasangan sejati bagi Adam a.s.? Mengapa tidak bagian tubuh yang lain?
Read the rest of this entry »

Fitrah Diri: Kebutuhan akan Pasangan Sejati

Posted in Tentang Pasangan dan Pernikahan at 5:25 am by kuswandani

Bayangkanlah jika kita bisa mengkhayalkan diri ditarik mundur sejauh-jauhnya hingga mencapai sebuah titik peradaban awal sang manusia, tatkala Allah pertama kali menciptakan sosok manusia pertama. Sebagai Adam. Tercipta dari tanah lempung, yang berair.. yang menjadi lumpur, lalu Dibentuk oleh Allah dengan sebaik-baik Ciptaan…

Bayangkanlah ketika kita hidup sebagai sosok Adam yang sendiri. Walaupun berada di surga yang penuh kenikmatan, tentu satu saat akan merasa kesepian. Dari rasa sepi itu, lahirlah sebuah harapan bahwa suatu saat akan hadir seseorang yang bisa menghilangkan rasa sepinya, yang menjadi pasangan hidupnya, yang menjadi pendampingnya, yang menyertainya serta menemaninya di dalam kehidupan. Menjadi sebuah sunatullah, ketika Dia Sang Maha Mencipta selalu menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Antara siang dengan malam, antara suka dengan duka, antara sempit dengan lapang, antara bumi dengan langit, antara matahari dengan bulan, antara daratan dan lautan, serta makhluk lainnya pun tercipta berpasangan, termasuk sebuah pasangan yang maha unik, antara Sang Khaaliq, sang pencipta yang berpasangan dengan sang makhluq, yang tercipta.

Mari bayangkan pula ketika kita memahami bahwa tatkala Allah lalu menghadirkan pasangan sejati bagi diri kita, yang disebutkan dalam kitab suci, diambil dari sebagian tulang rusuk kita… bagian dari tubuh kita.. dan terciptalah sosok Hawa, sebagai pasangan Adam, dan saat itu dirasakan pula oleh Adam sebagai sebuah anugerah besar Allah atasnya… mereka pun mendiami surga penuh kenikmatan, hidup bersama dan terpenuhilah fitrah dasar tidak ingin sendiri nya…
Read the rest of this entry »

Berimankah Kita?

Posted in belajar merenung at 5:13 am by kuswandani

Nabi Mulia Saw. Bersabda,
Tidak dikatakan beriman, para makhluk Allah
Sehingga mereka saling mengasihi.
Tidak dikatakan mereka saling mengasihi,
Sehingga mereka menjalankan perintah Allah.
Tidak dikatakan menjalankan perintah Allah, sehingga mereka menjadi orang berilmu.
Tidak dikatakan mereka orang berilmu,
Sehingga ilmunya benar-benar diamalkan.
Tidak dikatakan mereka mengamalkan,
Sehingga mereka menjauhi cinta kebendaan.
Tidak dikatan mereka menjauhi cinta kebendaan, sehingga mereka dipenuhi sikap kehati-hatian (wara’).
Tidak dikatakan penuh sikap kehati-hatian, sehingga mereka menjadi rendah hati.
Tidak dikatakan mereka rendah hati,
Sehingga mereka dapat memahami dirinya sendiri.
Dan tidak dikatakan memahami dirinya sendiri,
Sehingga mereka mampu berpikir dalam bertutur kata…

(dikutip dari buku Mutiara Berserak, Ibnu Hajar al-Asqalani)

Kenalilah Tulang Rusuk Kita! (sebuah pendahuluan)

Posted in 1 at 5:02 am by kuswandani

Baginda Mulia Rasulullah Saw. Pernah bersabda, “Barangsiapa menikah, maka dia telah memperoleh setengah bagian dari agamanya.. Maka bertakwalah kalian untuk memperoleh sebagian lainnya..” (HR Al-Hakim)

Begitu agungnya kata-kata suci itu, begitu dalamnya makna sebuah pernikahan di hadapan Nabi mulia kita, yang di dalamnya menjaminkan seseorang dari kalangan manapun juga, dari kondisi apa pun juga, dia akan memperoleh sebuah jalan ketakwaan di dalam keberagamaannya, dengan cara melewati terlebih dahulu sebuah pernikahan!

Tentunya jika Beliau Saw. mengungkapkan sebuah kalimat seperti itu, berarti makna sebuah pernikahan tidaklah sederhana, karena setengah bagian keberagamaan seseorang terjaminkan oleh hal tersebut. Jenjang pernikahan seseorang bukanlah menjadi perkara yang ringan sehingga setiap orang bisa berbondong-bondong begitu saja menempuh jalan tersebut tanpa berpikir panjang, tanpa perencanaan yang matang apalagi seringkali seseorang begitu mudah menikah dengan siapa saja yang dia anggap cocok, dan siap menikah, tanpa membangun perenungan terlebih dahulu.

Read the rest of this entry »

November 24, 2008

Renungan Diri Sang Imam Al-Ghazali r.a

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 12:05 pm by kuswandani

….Sesungguhnya telah sampai kepada kita

bahwa umat ini akan terpecah belah menjadi 77 golongan,

yang d antaranya hanya satu golongan yang selamat.

Allah Mahatahu terhadap seluruh golongan-golongan tersebut.

Aku masih memiliki kesempatan dari usiaku untuk melihat perselisihan umat.

Aku mencari metode yang jelas dan jalan yang lurus.

Aku mencari ilmu dan amal, mencari petunjuk jalan akhirat dengan bimbingan para ulama.

Aku banyak berfikir mengenai firman-firman Allah

dengan penafsiran para fuqaha (orang-orang yang banyak memahami agama).

Aku merenungkan berbagai kondisi umat.

Aku perhatikan tempat berpijak (madzhab) dan berbagai pandangannya, dan aku pun
pikirkan mengenai hal-hal itu semua sesuai dengan kesanggupanku…

…..

Aku yakin perselisihan mereka seperti lautan yang dalam.

Banyak orang tenggelam ke dalamnya, dan hanya sekelompok kecil yang selamat…

Aku yakin setiap golongan dari mereka mengira bahwa keselamatan adalah dengan mengikuti mereka,

dan sesungguhnya yang akan binasa ialah orang yang menentang mereka…

Aku yakin di antara mereka ada orang ‘Alim (yang berilmu) yang mengetahui urusan akhirat.

Menemuinya sulit dan ketika hadir di hadapan umat tampak kemuliaannya.

Di antara mereka juga ada yang bodoh.

Ketika ia jauh dari si ‘Alim dianggapnya sebagai keuntungan baginya.

Di antara mereka ada yang menyerupai ulama, namun tergila-gila dengan dunia dan sangat mencintainya.

Di antara mereka ada yang memikul ilmu yang berhubungan dengan agama.

Dengan ilmunya ia mencari kehormatan dan kedudukan tinggi.

Dengan agama ia memperoleh kekayaan dunia.

Di antara mereka ada yang menyerupai ahli ibadah. Ia mengkomersilkan kebaikannya.

Padanya tidak ada kecukupan, ilmunya tiada abadi,

serta tidak ada sandaran bagi ilmunya.

Di antara mereka ada orang yang hafal ilmu, namun ia tidak mengetahui tadsiran dari hafalannya.

Ada juga orang yang menyandarkan dirinya kepada nalar dan kecerdasan,

namun pada dirinya tidak ada sifat wara’ (hati-hati) dan takwa.

Ada juga sekelompok orang yang saling mencintai, namun bersepakat terhadap keinginan
hawa nafsunya dan berkorban untuk kepentingan dunia, dan yang mereka cari adalah kehormatan.

Di antara mereka juga ada setan-setan dari jenis manusia.
mereka berpaling dari akhirat, serakah terhadap dunia, tergesa-gesa mengumpulkannya, serta sangat senang memperkaya diri.

Aku mengintrospeksi diri (ber-muhasabah) dari sifat-sifat tersebut,namun tiada kesanggupan untuknya.

Aku pergi mencari petunjuk dari orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk dengan cara
mencari kebenaran dan petunjuk.

Aku pergi mencari bimbingan ilmu, mempergunakan pemikiran dan aku cukup lama menanti.


Maka akhirnya kebenaran dan petunjuk itu tampak padaku dari Kitabullah, sunah Nabi-Nya, dan kesepakatan (ijma) umat.

Sesungguhnya mengikuti keinginan hawa nafsu itu menjadikan sikap menutup mata dari
bimbingan-Nya, menyimpang dari kebenaran (al-Haq), dan menjadikan lama tinggal dalam kebutaan
hati.

Aku mulai dengan pencabutan keinginan (duniawi) dari hatiku.

Aku berdiri tegak di hadapan perselisihan umat guna mondar-mandir mencari kelompok yang
akan selamat, sambil sangat hati-hati terhadap berbagai keinginan buruk dan
kelompok yang akan celaka karena khawatir ada penyerangan sebelum mendapatkan
kejelasan….


[dikutip dari pengantar risalah Kitabnya “al-Munqidz mina-dh-Dhalal”, “Sang Penyelamat dari Kesesatan”]

November 7, 2008

Kegaiban Hari Esok

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 12:03 am by kuswandani

1600_218

Oleh Zamzam A J. Tanuwijaya, Yayasan Islam Paramartha

(diedit dan diperbaiki seperlunya oleh Herry Mardian).

***
Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.
***

KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah swt untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah swt akan membukakan laut bagi mereka ? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah swt akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.

Musa a.s. dan umatnya, dalam tekanan kebingungan yang hebat, terjebak diantara laut dan kepulan debu gurun yang dihamburkan ke angkasa oleh ribuan kereta perang Fir’aun Merneptah. Cacian-cacian kepada sang Nabi mulai berhamburan dari lisan-lisan umatnya sendiri, karena Musa, nabi mereka, malah mengarahkan mereka terkepung dan terdesak ke laut Merah.

Sementara pada saat itu, seorang pemuda yang tulus, panglima dan murid Musa a.s., berseru ke imamnya dari atas kuda yang terus dikekangnya ke laut, sesuai perintah imamnya. “Ya Nabiyullah, masih terus?” Pertanyaannya menunjukkan kesiapannya.

Air laut sudah seleher kudanya, dan dia, Yusha’ bin Nun, masih  terus berusaha memacu kudanya yang sangat ketakutan itu untuk tetap maju menuju ke laut. Ia tidak mempertanyakan, apalagi membantah, perintah Allah untuk menembus laut Merah. Meski ia tahu bahwa Musa, imamnya dan Nabinya, juga
belum mengetahui apa yang akan terjadi kepada mereka setelah itu.

Apakah seorang pangeran muda yang bernama Musa, bertahun-tahun sebelum peristiwa di atas, mengetahui bahwa pukulannya—yang hanya sekali—kepada seorang koptik akan membunuhnya? Satu kejadian “sial” yang membuat Musa menjadi tercela dan kehilangan singgasanannya. Ia ketakutan dan melarikan diri ke Madyan, tempatnya Nabi Syu’aib as. Suatu peristiwa yang merevolusi hidupnya, dari seorang pangeran Mesir menjadi cuma seorang pengemis lain di dunia ini. Namun tanpa peristiwa “sial” itu, ia tidak akan bertemu Syu’aib a.s. yang menjadi gurunya.

Kita semua adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahkan untuk semenit ke depan. Tidak kita, tidak para orang suci, tidak juga  para Rasul yang lain. Kita dilarang bahkan untuk sekedar ingin mengetahui zaman di depan. Keinginan seperti itu hanya akan menjadikan kita masuk ke
dalam golongan mayoritas, golongan orang-orang yang tidak bersyukur *.

Masa depan adalah kotak Pandora, dan keghaiban hari esok adalah bagian dari palu Allah yang dipergunakan-Nya untuk menempa dan membentuk jiwa kita. Kita semua adalah hamba-Nya, sebagaimana Rasulullah saw bangga ketika mengatakan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, dan rasul-Nya”.

Mari kita sambut dengan suka cita dan kita nikmati palu keghaiban-Nya, karena kita tidak tahu palu yang mana yang akan digunakan-Nya membentuk jiwa kita esok hari. Tenanglah, karena kita berada dalam genggaman Sang Maha Sutradara yang Sangat Terpercaya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan,
semua sudah diukur-Nya dengan rapi. Kita hanya melompat dari keadaan  “nyaris” yang satu ke “nyaris” yang lain. Semakin tebal tabungan “nyaris” kita, semakin terbukalah Wajah-Nya yang Maha Indah. Hati kita mungkin dibuat-Nya remuk, tapi bukankah Allah swt mengatakan, “Carilah Aku di antara para hamba-Ku yang remuk hatinya”.

Kedigjayaan diri adalah musuh hati, dan keperihan adalah obat. Keutamaan dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari penglihatan-penglihatan tentang alam yang tak terlihat, atau bisikan-bisikan skenario masa depan. Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai
hidangan bagi hatinya.

Sahabatku, saudara-saudaraku seperjalanan, kita semua sama, dibuat kalang kabut dengan “pengaturan-pengaturan” suci dari-Nya, dan hati-hati kita ada diantara permainan dua Jemari-Nya.

Jangan ada lagi ketragisan di hati. Kita semua ada dalam genggaman-Nya.

***

——-

[*] “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas
manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”Q. S. Al-Mu’miin [40] : 61

October 31, 2008

Sudahkah Kita Berkurban?

Posted in belajar merenung at 3:30 am by kuswandani

[ini tulisan yang dibuat setahun yang lalu, semoga kembali bisa mengingatkan kita, terutama bagi sang penulis, tentang makna qurban dan mengapa kita layak merayakannya…., semoga manfaat]

Bismillah ar-Rahman, ar-Rahim, semoga hamba bisa meminjam dua asma-Mu ya Rabb, semoga ini menjadi tulisan pengantar renungan kita semua. Better late than never…

Iedul Qurban, bersumber dari dua kata dalam bahasa Arab, “Ied” dari kata ‘aadaya’uudu, artinya “kembali”. “Qurban”, dari kata qaraba-yaqrabu, “mendekat”… Iedul qurban kemudian dimaknai oleh nalar saya sebagai sebuah hari di mana setiap kita belajar untuk kembali merenungi hal apa yang dapat membuat kita dapat mendekati Dia Sang Maha Lembut.

Banyak cara setiap hamba mendekati Allah, maka salah satu cara itu dengan mengorbankan sebagian hartanya yang ditukarnya dengan daging kambing atau sapi, dengan harapan Allah menarik mereka, menerima qurban mereka sebagaimana Allah menerima qurbannya Habil sang putra Adam. Tentu yang kita kurbankan adalah harta yang memang terasa berat untuk dilepas, bukan harta yang kita keluarkan dengan ringan hati disebabkan masih sangat banyaknya sisa harta yang kita miliki. Artinya kita yang bergaji 45 juta per bulan, dengan mengeluarkan dana 1 juta untuk kambing bisa jadi belum disebut berkurban karena tidak ada rasa pengorbanan yang membuat dia sulit mengeluarkannya. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang Ibrahim bisa mengeluarkan ratusan unta untuk daging kurbannya!

ibrahim-ismail.gifTentu logika pemikiran kita perlu diajak untuk memaknai, mengapa akhirnya kita mahfumi banyak sekali umat Islam, para saudara kita yang setiap tahun berhasil mengeluarkan sebagian dananya untuk berkurban, namun hal apa yang berhasil mereka peroleh dari penyisihan sebagian uangnya itu selain hal tersebut lewat begitu saja dengan tidak membawa perubahan sedikit pun ke dalam diri mereka, yang menunjukkan bahwa makna iedul kurban belum berhasil mereka peroleh…, ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak semakin halus, jasad tidak semakin beramal baik, alih-alih lewat ied itu mereka dapat menemukan amal shalih mereka.

Mungkin, (terlintas dalam benak saya) karena kita belum berhasil menemukan makna Iedul Adha, sebagai nama lain dari iedul qurban itu sendiri… “adha” memiliki makna penyembelihan, ada yang kita sembelih di setiap perayaan Iedul Adha setiap tahun.

Ketika kita belum memilki kemampuan untuk menyisihkan sebagian dana yang kita miliki dalam rangka belajar berkurban, mengorbankan harta kita, untuk menyembelih hewan kurban, kita sebenarnya telah Allah beri kemampuan melakukan penyembelihan lain, menyembelih dominasi aspek hawa nafsu dan syahwat kita, sudah waktunya sekarang, pada saat kita memasuki pergantian tahun baru ini, pergantian perilaku yang baru ini, mari kita sama-sama belajar (terutama nasihat buat saya pribadi) belajar untuk menyembelih dominasi aspek kedengkian, aspek ketakaburan, aspek buruk sangka, aspek keinginan pengakuan bahwa diri ini berharga di mata orang lain, dan segala aspek lainnya.

Ah, tidak mudah memang menyembelih semua dominasi syahwat hawa nafsu ini, untuk belajar menghargai waktu juga bukan hal yang sederhana, untuk belajar memaafkan orang lain pun juga bukan hal remeh, apalagi kita mencoba berjuang menemukan amal-amal shalih kita.

Tapi yang membuat saya pribadi senantiasa memiliki harapan kuat, karena Allah rasanya tidak pernah merasa bosan menerima dan menerima terus setiap penyesalan kita, setiap kesadaran diri yang lemah kita, setiap pengakuan dosa kita. Semoga pengakuan ini menjadi tanda bahwa kita memang butuh dan selalu membutuhkan Dia Sang Maha Pengayom dan Pembuka Jalan.

Semoga kita berhasil merayakan iedul qurban atau iedul adha kita dengan bersama2 membangun kesadaran diri. Ya Allah, semoga pengorbanan hamba demi taqarrub kepada-Mu Engkau terima, semoga Engkau beri pula hamba kekuatan untuk dapat menyembelih setiap dominasi hawa nafsu dan syahwat yang senantiasa menenggelamkan hamba. Duh Gusti… ampuni hamba.

Rasuna Said street, 4 Desember 2007, 10:26 WWIB

October 8, 2008

Ketika Kaget, mengapa Masya Allah?

Posted in Mengapa? at 10:03 pm by kuswandani

[Cucu] Abah, boleh nanya lagi nih sama abah, apa yang selama ini biasa diucapkan, tapi kok maknanya aneh….

[Kakek]  Silakan cucuku…

[Cucu]  Begini abah, kenapa kalau kita menemukan hal yang tak terduga, atau diluar keinginan kita, secara reflek biasanya orang berucap kalimat: “Maasyaa Allaah…?” Memang Nabi mengajarkan kalimat itu kan? tapi maksudnya untuk apa?

[Kakek] Baiklah, abah coba jelaskan, arti harfiahnya adalah “apa-apa yang Allah kehendaki….” Tentu makna luasnya tidak berhenti disana karena kalimat itu tampak belum tuntas, bukan kalimat sempurna… seolah ada tambahannya…

Yang abah mengerti, bisa saja tambahannya…..Apa-apa yang Allah kehendaki… terjadilah…

Apa-apa yang Allah kehendaki, terwujudlah… itulah kehendak Allah yang bisa jadi tidak bersambung langsung dengan kehendak manusia…

Kalimat masya Allah bisa jadi sebuah pengingat kita sebagai hamba-Nya yang sering merasa kecewa, marah dengan apa yang telah terjadi ketika kejadian itu diluar keinginan dan kehendak kita…

Kita sering marah, sering sulit menerima sebuah keadaan… yang tidak seiring dengan keinginan.. maka Allah mengingatkannya.. itulah kehendak-Nya… walaupun tampak diluar keinginan, maka yakinilah sesungguhnya kehendak Allah jauh lebih sempurna..

Rencana Allah dibalik kejadian itu pastilah sebuah rencana terbaik yang telah Allah izinkan terjadi, dan pasti memberi sebuah pelajaran dan makna dalam dibalik itu….

Kalau Allah sudah izinkan terjadi, seharusnya kita membangun bersama sebuah kesadaran dan keyakinan bahwa pasti itu terbaik yang Dia hadirkan. Jika kita sudah berhasil membangun kesadaran dan keyakinan bahwa itu adalah sesuatu yang terbaik.. maka menjadi tugas kita untuk terus menggali apa nilai kebaikan yang telah Allah hadirkan pada peristiwa diluar dugaan kita itu…

Dengan ucapan itu. Allah mengingatkan kita untuk segera melihat kepada-Nya… bukan kepada kejadian itu atau bukan kepada manusia lain yang menjadi sebab hadirnya perisitiwa itu…

Itulah makna ucapan masya Allah cucuku… semoga Allah senantiasa memberkati kita… Amin..

Saat Doa Tidak Dikabulkan

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 3:09 pm by kuswandani


“Apabila suatu permohonan ditahan, berarti kamu telah diberi.
Akan tetapi bila permintaanmu segera diberi,
berarti suatu anugerah yang lebih besar telah ditolak.
Oleh karena itu utamakan tidak memperoleh daripada memperoleh.
Sesungguhnya seorang hamba tidak memilih sendiri,
akan tetapi menyerah kepada iradah Allah,
yang menciptakan semua kebutuhan manusia dan yang membagi-bagikannya.”

(Muhyiddin Ibnu Arabi)

Previous page · Next page