January 5, 2009

Al-Bashri dan Ratapan Seorang Gadis Kecil

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 12:15 am by kuswandani

Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin.

Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak peraturan.

Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
“Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.”

Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil,
“Ayahmu juga sebelumnya tak pernah mengalami peristiwa seperti ini.”

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya.

Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makam ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

Gadis kecil itu tiba di makam ayahnya.

Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam.

Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam.

Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu.

Kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

” Ayah kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah?

Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur?

Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu?

Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah?

Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam?

Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?”

“Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah?

Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan wajahmu tadi malam Ayah?

Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah?

Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah?

Kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu? ”

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya.

Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

” Hai, gadis kecil !
Jangan berkata seperti itu.

Tetapi, ucapkanlah,

“Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah?

Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah?

Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab.

Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawab kan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya? ”

“Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka.

Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka.

Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sehingga tulang-belulang berserakan.

Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?”

“Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik.

Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya.

Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?”

“Jika kupanggil, engkau selalu menyahut.

Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?”

“Ayah, engkau sudah tiada.
Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti.
Wahai Allah, janganlah KAU rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata,

” Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima.

Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

[Dikutip oleh Belahan Jiwaku, dengan mengambil rujukan dari : Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah (Al-Islam)]

Advertisements

November 24, 2008

Renungan Diri Sang Imam Al-Ghazali r.a

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 12:05 pm by kuswandani

….Sesungguhnya telah sampai kepada kita

bahwa umat ini akan terpecah belah menjadi 77 golongan,

yang d antaranya hanya satu golongan yang selamat.

Allah Mahatahu terhadap seluruh golongan-golongan tersebut.

Aku masih memiliki kesempatan dari usiaku untuk melihat perselisihan umat.

Aku mencari metode yang jelas dan jalan yang lurus.

Aku mencari ilmu dan amal, mencari petunjuk jalan akhirat dengan bimbingan para ulama.

Aku banyak berfikir mengenai firman-firman Allah

dengan penafsiran para fuqaha (orang-orang yang banyak memahami agama).

Aku merenungkan berbagai kondisi umat.

Aku perhatikan tempat berpijak (madzhab) dan berbagai pandangannya, dan aku pun
pikirkan mengenai hal-hal itu semua sesuai dengan kesanggupanku…

…..

Aku yakin perselisihan mereka seperti lautan yang dalam.

Banyak orang tenggelam ke dalamnya, dan hanya sekelompok kecil yang selamat…

Aku yakin setiap golongan dari mereka mengira bahwa keselamatan adalah dengan mengikuti mereka,

dan sesungguhnya yang akan binasa ialah orang yang menentang mereka…

Aku yakin di antara mereka ada orang ‘Alim (yang berilmu) yang mengetahui urusan akhirat.

Menemuinya sulit dan ketika hadir di hadapan umat tampak kemuliaannya.

Di antara mereka juga ada yang bodoh.

Ketika ia jauh dari si ‘Alim dianggapnya sebagai keuntungan baginya.

Di antara mereka ada yang menyerupai ulama, namun tergila-gila dengan dunia dan sangat mencintainya.

Di antara mereka ada yang memikul ilmu yang berhubungan dengan agama.

Dengan ilmunya ia mencari kehormatan dan kedudukan tinggi.

Dengan agama ia memperoleh kekayaan dunia.

Di antara mereka ada yang menyerupai ahli ibadah. Ia mengkomersilkan kebaikannya.

Padanya tidak ada kecukupan, ilmunya tiada abadi,

serta tidak ada sandaran bagi ilmunya.

Di antara mereka ada orang yang hafal ilmu, namun ia tidak mengetahui tadsiran dari hafalannya.

Ada juga orang yang menyandarkan dirinya kepada nalar dan kecerdasan,

namun pada dirinya tidak ada sifat wara’ (hati-hati) dan takwa.

Ada juga sekelompok orang yang saling mencintai, namun bersepakat terhadap keinginan
hawa nafsunya dan berkorban untuk kepentingan dunia, dan yang mereka cari adalah kehormatan.

Di antara mereka juga ada setan-setan dari jenis manusia.
mereka berpaling dari akhirat, serakah terhadap dunia, tergesa-gesa mengumpulkannya, serta sangat senang memperkaya diri.

Aku mengintrospeksi diri (ber-muhasabah) dari sifat-sifat tersebut,namun tiada kesanggupan untuknya.

Aku pergi mencari petunjuk dari orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk dengan cara
mencari kebenaran dan petunjuk.

Aku pergi mencari bimbingan ilmu, mempergunakan pemikiran dan aku cukup lama menanti.


Maka akhirnya kebenaran dan petunjuk itu tampak padaku dari Kitabullah, sunah Nabi-Nya, dan kesepakatan (ijma) umat.

Sesungguhnya mengikuti keinginan hawa nafsu itu menjadikan sikap menutup mata dari
bimbingan-Nya, menyimpang dari kebenaran (al-Haq), dan menjadikan lama tinggal dalam kebutaan
hati.

Aku mulai dengan pencabutan keinginan (duniawi) dari hatiku.

Aku berdiri tegak di hadapan perselisihan umat guna mondar-mandir mencari kelompok yang
akan selamat, sambil sangat hati-hati terhadap berbagai keinginan buruk dan
kelompok yang akan celaka karena khawatir ada penyerangan sebelum mendapatkan
kejelasan….


[dikutip dari pengantar risalah Kitabnya “al-Munqidz mina-dh-Dhalal”, “Sang Penyelamat dari Kesesatan”]

November 7, 2008

Kegaiban Hari Esok

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 12:03 am by kuswandani

1600_218

Oleh Zamzam A J. Tanuwijaya, Yayasan Islam Paramartha

(diedit dan diperbaiki seperlunya oleh Herry Mardian).

***
Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai hidangan bagi hatinya.
***

KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah swt untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah swt akan membukakan laut bagi mereka ? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah swt akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.

Musa a.s. dan umatnya, dalam tekanan kebingungan yang hebat, terjebak diantara laut dan kepulan debu gurun yang dihamburkan ke angkasa oleh ribuan kereta perang Fir’aun Merneptah. Cacian-cacian kepada sang Nabi mulai berhamburan dari lisan-lisan umatnya sendiri, karena Musa, nabi mereka, malah mengarahkan mereka terkepung dan terdesak ke laut Merah.

Sementara pada saat itu, seorang pemuda yang tulus, panglima dan murid Musa a.s., berseru ke imamnya dari atas kuda yang terus dikekangnya ke laut, sesuai perintah imamnya. “Ya Nabiyullah, masih terus?” Pertanyaannya menunjukkan kesiapannya.

Air laut sudah seleher kudanya, dan dia, Yusha’ bin Nun, masih  terus berusaha memacu kudanya yang sangat ketakutan itu untuk tetap maju menuju ke laut. Ia tidak mempertanyakan, apalagi membantah, perintah Allah untuk menembus laut Merah. Meski ia tahu bahwa Musa, imamnya dan Nabinya, juga
belum mengetahui apa yang akan terjadi kepada mereka setelah itu.

Apakah seorang pangeran muda yang bernama Musa, bertahun-tahun sebelum peristiwa di atas, mengetahui bahwa pukulannya—yang hanya sekali—kepada seorang koptik akan membunuhnya? Satu kejadian “sial” yang membuat Musa menjadi tercela dan kehilangan singgasanannya. Ia ketakutan dan melarikan diri ke Madyan, tempatnya Nabi Syu’aib as. Suatu peristiwa yang merevolusi hidupnya, dari seorang pangeran Mesir menjadi cuma seorang pengemis lain di dunia ini. Namun tanpa peristiwa “sial” itu, ia tidak akan bertemu Syu’aib a.s. yang menjadi gurunya.

Kita semua adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bahkan untuk semenit ke depan. Tidak kita, tidak para orang suci, tidak juga  para Rasul yang lain. Kita dilarang bahkan untuk sekedar ingin mengetahui zaman di depan. Keinginan seperti itu hanya akan menjadikan kita masuk ke
dalam golongan mayoritas, golongan orang-orang yang tidak bersyukur *.

Masa depan adalah kotak Pandora, dan keghaiban hari esok adalah bagian dari palu Allah yang dipergunakan-Nya untuk menempa dan membentuk jiwa kita. Kita semua adalah hamba-Nya, sebagaimana Rasulullah saw bangga ketika mengatakan “Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, dan rasul-Nya”.

Mari kita sambut dengan suka cita dan kita nikmati palu keghaiban-Nya, karena kita tidak tahu palu yang mana yang akan digunakan-Nya membentuk jiwa kita esok hari. Tenanglah, karena kita berada dalam genggaman Sang Maha Sutradara yang Sangat Terpercaya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan,
semua sudah diukur-Nya dengan rapi. Kita hanya melompat dari keadaan  “nyaris” yang satu ke “nyaris” yang lain. Semakin tebal tabungan “nyaris” kita, semakin terbukalah Wajah-Nya yang Maha Indah. Hati kita mungkin dibuat-Nya remuk, tapi bukankah Allah swt mengatakan, “Carilah Aku di antara para hamba-Ku yang remuk hatinya”.

Kedigjayaan diri adalah musuh hati, dan keperihan adalah obat. Keutamaan dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari penglihatan-penglihatan tentang alam yang tak terlihat, atau bisikan-bisikan skenario masa depan. Orang yang beruntung adalah orang yang bisa menjadikan keghaiban hari esok sebagai
hidangan bagi hatinya.

Sahabatku, saudara-saudaraku seperjalanan, kita semua sama, dibuat kalang kabut dengan “pengaturan-pengaturan” suci dari-Nya, dan hati-hati kita ada diantara permainan dua Jemari-Nya.

Jangan ada lagi ketragisan di hati. Kita semua ada dalam genggaman-Nya.

***

——-

[*] “Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas
manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”Q. S. Al-Mu’miin [40] : 61

October 8, 2008

Saat Doa Tidak Dikabulkan

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 3:09 pm by kuswandani


“Apabila suatu permohonan ditahan, berarti kamu telah diberi.
Akan tetapi bila permintaanmu segera diberi,
berarti suatu anugerah yang lebih besar telah ditolak.
Oleh karena itu utamakan tidak memperoleh daripada memperoleh.
Sesungguhnya seorang hamba tidak memilih sendiri,
akan tetapi menyerah kepada iradah Allah,
yang menciptakan semua kebutuhan manusia dan yang membagi-bagikannya.”

(Muhyiddin Ibnu Arabi)

September 29, 2008

Hidangan Menakjubkan dari Sang Rumi

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 4:48 pm by kuswandani

Manakala orang mendengar bahwa di suatu kota seorang manusia yg baik memperoleh karunia dan pemberian yg menakjubkan, ia akan pergi ke sana dengan harapan dapat memperoleh bagian. Karena karunia Allah begitu masyhur dan seluruh dunia mengetahui Kebaikan-Nya, mengapa engkau tidak memohon kepada-Nya? Mengapa engkau tidak berhasrat pada jubah-jubah kebesaran dan emas-emas kemurnian? Kau duduk dalam kedunguan dan berkata, “Jika (memang) Dia menghendaki, Dia akan memberikan sesuatu”, dan engkau tidak memohon sesuatu pun. Lihatlah seekor anjing yg tidak memiliki akal ataupun pemahaman, manakala ia lapar dan tidak menemukan makanan, ia datang padamu dgn mengibas-ngibaskan ekornya. Artinya, “Berilah aku makanan karena aku tidak mempunyai makanan dan engkau memilikinya”.

Hal ini mengindikasikan adanya suatu pemahaman. Kini jelaslah, kau tiada bedanya dengan anjing, yg tidur di atas debu dan berkata, “Jika dia ingin, dia akan memberikan aku makanan”. Ia menggonggong dan  mengibas-ngibaskan ekornya, kau juga, mengibas-ngibaskan ekormu dan memohon kepada pada Allah! Memohonlah, karena di hadapan Ar-Rahmaan, permohonan dikabulkan! Karena engkau bukan pewaris kebaikan, mintalah dari seseorang yg tidak kikir dan memiliki banyak kekayaan.

(Fihi ma Fihi 171-172/180)

Mereka berkata bahwa pada akhirnya, cinta adalah keinginan dan kebutuhan akan sesuatu. Karenanya, kebutuhan adalah akar, dan sesuatu adalah cabang. Kataku: Bagaimanapun juga, manakala engkau berbicara, engkau bicara tentang kebutuhan, engkau wujudkan kebutuhanmu itu. Karena engkau  menginginkan apa yg telah engkau ungkapkan lewat kata-kata, akan terwujudlah ia! Maka, kebutuhan  adalah yg utama, dan kata-kata mengalir karenanya. Tapi, dalam hal ini, kebutuhan telah ada tanpa kata-kata, cinta & kebutuhan tidak dapat disebut sebagai cabang dari kata-kata.

Seseorang berkata: Tapi tujuan dari kebutuhan adalah kata-kata. Maka bagaimana mungkin tujuan adalah cabang? Guru menjawab: Cabang-cabang selalu menjadi tujuan dari akar-akar, suatu pohon ada karena cabang-cabannya.

(Fihi ma Fihi 139/148)

Al-Qadiir, Yang Maha Kuasa, tidak memberkati
sesuatu pun tanpa kebutuhan.

Jika tiada kebutuhan bagi dunia, Tuan dari penduduk
dunia tidak akan pernah menciptakannya.

Jika bumi yg bergempa ini tidak membutuhkan
gunung-gunung, akankah Dia menciptakannya?

Andaikata tiada kebutuhan akan cakrawala, Dia
tidak akan mewujudkan tujuh langit dari non-wujud.

Matahari, bulan, dan bintang-bintang, bagaimana
mungkin menampak jika tiada tersirat kebutuhan?

Jadi, simpul segala wujud adalah kebutuhan.
Kelengkapan manusia adalah keluasan dari kebutuhannya.

Maka, oh manusia yg penuh dengan kebutuhan, segeralah tambah kebutuhanmu! Lalu Lautan Karunia akan melimpah dalam kemurahan. Para pengemis dan si pincang di jalanan menunjukkan kebutuhan mereka pada orang-orang.

Kebutaan, kepedihan, rasa sakit, dan derita,
sehingga orang-orang akan menaruh iba.

Pernahkah seorang pengemis berkata, “Wahai manusia, berilah aku roti karena aku memiliki kekayaan, gudang-gudang, dan meja yg lebar!”?

(Matsnawi II 3274-83)
Read the rest of this entry »

Antara Ilmu dan Agama

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 1:30 am by kuswandani

September 28, 2008

Berkawan Dengan Orang Bodoh atau Orang Alim

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 2:43 pm by kuswandani

Ibnu Athaillah Al-Iskandari menuntun kita:

“Engkau bersahabat dengan orang bodoh tetapi tidak mengikuti hawa nafsunya, lebih baik bagi kamu daripada engkau bersahabat dengan orang alim, tetapi suka mengikuti hawa nafsunya. Tak mungkin ilmu itu dimiliki orang alim, apabila ia menyenangi hawa nafsunya, dan dimana letak kebodohan orang bodoh yang tidak menuruti nafsunya.”

Bersahabat itu sangat penting, karena akan menambah dan meluaskan pergaulan dan meniadakan hidup kesendirian atau individual. Sebab pergaulan akan menghidupkan rasa solidaritas. Oleh karena itu, memilih teman bergaul diperlukan agar terhindar dari pengaruh jelek yang akan merusak pribadi seseorang, dan mengaburkan kesucian dari wajahnya. Demikian juga bergaul dengan orang berilmu yang saleh akan mendapatkan ilmu dan kesalehannya, sedangkan bergaul dengan orang yang bodoh dan rusak akan mendapatkan kebodohan dan kerusakannya.

Sedangkan teman sepergaulan yang paling baik ialah bergaul dengan orang bodoh tetapi berbudi pekerti baik dan saleh. Sebaliknya, sejelek-jelek pergaulan adalah bergaul dengan orang pandai, tetapi suka mengikuti hawa nafsu.

Gambaran dari hadis Nabi Muhammad saw. dalam bergaul diibaratkan pergaulan itu seperti berteman dengan penunggu tungku besi (tukang besi), dan penjual minyak wangi. Bergaul dengan tukang besi membuat kita berbau asap yang merusak hidung dan kerongkongan kita. Sedangkan bergaul dengan penjual minyak, ia akan ikut menghirup wanginya minyak tersebut, walaupun bukan pemiliknya. Hanya orang yang arif dan saleh sajalah yang mampu memahami perumpamaan dari hadits Nabi Muhammad saw.

Memang memilih teman bergaul sangat menentukan sifat dan akhlak seseorang. Seorang hamba yang menuju makrifat, selain memilih teman bergaul, juga wajib berhati-hati dalam pergaulan. Sebab hanya ada dua pilihan, akan terangkat ke maqam ketaatan dan makrifat, atau akan terjerumus ke lembah maksiat dan kerusakan.

Akan tetapi kadang-kadang terjadi orang-orang berilmu dan pemimpin umat terjerumus ke lembah hawa nafsu dan kemaksiatan, karena ilmunya tidak mampu melepaskan diri dari godaan hawa nafsu. Barangkali orang bodoh tanpa ilmu, lebih mudah menghindari hawa nafsu dan langkah maksiat. Memang kadang-kadang kebodohan menyelamatkan. Kepandaian kadang-kadang membuat orang merasa mampu berhadapan dengan pengaruh dunia melalui ilmunya, akan tetapi ternyata ia lemah ketika berhadapan dengan kenyataan. Mengapa? Karena kadang-kadang orang pandai merasa mampu lalu sombong, dan di saat sombong itulah nampak kelemahannya. Ia bisa terjebak masuk ke wilayah hawa nafsu, sadar atau tidak sadar.

Hamba yang sedang berjalan menuju makrifat dan kesalehan serta keihsanan, perlu menempatkan dirinya dalam pergaulan penuh kewaspadaan. Kemudian memberikan kekuatan bagi diri kita dengan doa dan zikir, sedekah, selain ibadah wajib lainnya. Mengasyikkan diri dalam ibadah, dan bergaul dengan orang-orang saleh, para ulama, menjadi dasar penting bagi hamba yang sedang menuju makrifat.

Untuk mendapatkan ridha Allah di dunia dan akhirat, maka hendaklah seorang hamba melakukan riyadhah dan mujahadah terus menerus sehingga ia mencapai maqam makrifat yang bertahap dari waktu ke waktu sampai kepada kesempurnaannya. Menempatkan Allah di atas segala kepentingan duniawi dalam pergaulan hidup itulah jalan yang benar dari perjalanan si hamba mendekati Allah SWT.[]

Bagaimana Mencari Sahabat?

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 2:26 pm by kuswandani

Ibnu Athaillah Al-Iskandari berkata:

“Janganlah kalian bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan semangat beribadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati Allah SWT. Apabila kalian berbuat salah, ia mengatakan bahwa itu adalah kebaikan, sebab kalian bersahabat dengan orang yang perilakunya lebih jelek dari diri kalian sendiri.”

Pembicaraanmu dengan seorang sahabat dalam pergaulan dengan cara yang baik dan sopan santun, diajarkan dalam dasar-dasar agama Islam. Demikian percakapan itu menjadi dasar dalam pergaulan hidup manusia yang dapat diambil manfaatnya. Pada dasarnya persahabatan itu mempengaruhi hidup manusia. Memilih pergaulan sebagai cara memperbagus persahabatan sama pentingnya seorang memilih makanan yang cocok dengan seleranya, juga makanan yang memberi manfaat bagi kesehatan.

Bergaul dengan orang saleh, tentu saja akan memperoleh kesalehannya. Bergaul dengan orang berakhlak buruk, ia akan mendapatkan akhlak buruk juga. Berbicarapun demikian. Berbicara selalu menjadi ukuran bagaimana keadaan seseorang. Nilai seseorang diukur dari ucapannya. Ucapan yang sesuai dengan tuntunan Nabi saw. adalah yang mampu menggerakkan semangat, beramal dan beribadah, serta sebagai pemicu amalan yang diridhai oleh Allah. Sabda Rasulullah saw “Bergaul hendaklah dengan sesama orang beriman, dan makanan yang disajikan dimakan oleh orang-orang yang taqwa” (HR Abi Daud dan Tirmidzi).

Ketahuilah, bahwasanya pokok sengketa manusia itu berasal dari pergaulan. Pergaulan yang tepat adalah memilih dan menyaring, orang yang akan bersama kita, persahabatan yang tepat adalah mendapatkan orang yang tidak hanya bisa tertawa di kala kita senang, tetapi juga menangis bersama kala kita susah.

Bersahabat memang penting, lebih penting lagi adalah kebaikannya, dan menghindari sahabat yang membawa kerusakan (mafsadah). Sebaik-baik orang yang bersahabat ialah mereka yang berjumpa karena Allah dan apabila berpisah juga karena Allah. Jangan sampai sahabat kita akan menenggelamkan kita sendiri, karena harus mengikuti kemauan mereka, tanpa mengetahui tujuan dan arah yang jelas dan bermanfaat. Sufyan Ats- Tsaury berkata, “Apabila kalian bergaul dengan orang banyak tentunya harus mengikuti mereka. Barangsiapa yang mengikuti mereka, tentu harus mengambil hati mereka, barangsiapa yang mengambil hati mereka, akan binasa seperti mereka.”

Bersahabatlah dengan orang yang akan menyelamatkanmu di dunia dan akhirat, melepaskanmu dari bencana yang sengaja atau tidak disengaja. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Biasanya kalian suka mengikuti sepak terjang sahabat-sahabatmu, maka hendaklah kalian suka memilih orang yang akan menjadi sahabatmu.” (HR Ahmad dan Tabarany).

Khalifah Ali mengingatkan, “Kawan yang paling jelek ialah orang yang suka mencari-cari kesalahanmu, dan mengajak kamu bermuka dua.”[]

August 26, 2008

Rasulullah, Pengemis Tua, dan Satu Sen

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 10:17 am by kuswandani

oleh Bawa Muhaiyaddeen

Cucu-cucuku tersayang, perempuan maupun laki-laki. Tuhan telah menempatkan seluruh kekayaan-Nya di dalam diri kita. Dia telah menganugrahkan kepada kita kekayaan mubarokat, kekayaan tiga dunia. Temukanlah khazanah ini melalui perilaku yang baik. Kekayaan itu benar-benar ada, namun tersembunyi jauh di dalam diri kita. Kita sendirilah yang telah menguburnya, terpendam oleh rasa iri dan dengki, dan kini kita musti menggalinya dalam-dalam untuk memperoleh kembali kekayaan itu. Kita musti mengeruk dan menepis jauh-jauh kegelapan untuk memperolehnya.

Anak-anakku terkasih. Untuk menjelaskannya, ijinkan aku bercerita tentang sebuah kisah. Cerita tentang Rasulullah s.a.w.

Di kota Madinah, tersebutlah seorang tua. Hidupnya sangatlah nestapa. Kesulitan demi kesulitan menimpanya, masalah demi masalah. Ia mengadukan nasib hidupnya ini kepada orang-orang yang kemudian menyuruhnya pergi ke tempat ini dan itu. Awalnya ia memohon kepada raja dan raja berkenan membantunya, namun pak tua itu tak beroleh banyak dari uluran tangannya. Lalu ia pergi ke para guru yang kemudian membantunya ala kadarnya, namun ia tetap miskin. Tampaknya tak seorang pun sanggup mengangkat kesulitan yang dihadapinya. Tak satu pun cara mampu mengubah keadaannya. Dan tiada henti ia bertanya siapa gerangan yang dapat mengakhiri kesengsaraan hidupnya ini.

Lalu, seseorang memberi nasihat kepadanya, “Temuilah Rasulullah s.a.w. dan mintalah tolong kepadanya. Ia tinggal di ujung sana. Pergilah kepadanya.”

Maka pengemis tua itu pergi menemui Muhammad s.a.w., “Wahai, Rasulullah. Kehidupanku sungguh sulit,” ujarnya. “Aku datang meminta tolong kepadamu demi mengakhiri kenestapaan ini.”

“Wahai, saudaraku, sebab itukah kau datang kemari? Bagus sekali,” jawab Rasulullah s.a.w. “Baiklah, kini serahkan kepadaku semua yang kau miliki.”
Read the rest of this entry »

August 15, 2008

Indahnya Pengetahuan Kebenaran!!

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 12:39 am by kuswandani

Berkata Imam Asy Syafi’I ra. :

Barangsiapa tiada menjaga dirinya maka tak bergunalah ilmunya.

    Barangsiapa ta’at kepada Allah Ta’ala dengan ilmu, maka bermanfaatlah bathinnya.

      Tidak seorangpun melainkan ia ada orang yang menyukainya dan ada orang yang membencinya. Apabila    demikian adanya, maka hendaklah engkau bersama orang yang ta’at kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

        • Diriwayatkan Bahwasanya Abdul Qadir bin Abdul ‘Aziz adalah seorang yang saleh dan wara’. Ia bertanya kepada Imam Asy Syafi’I ra. tentang beberapa masalah tentang wara’. Dan Imam Asy Syafi’I pun merasa senang dengan menerima kedatangannya karena wara’-nya. Dan pada suatu hari ia bertanya kepada Imam Asy Syafi’I:

        “Manakah yang lebih utama apakah sabar, ataukah diuji atau ataukah diberi keteguhan hati?…”

        Maka menjawab Imam Asy Syafi’I ra. :

        • “Diberi keteguhan hati itu derajat para Nabi, dan tak ada keteguhan hati selain sesudah adanya ujian. Apabila ia diuji maka ia bersabar, dan apabila telah bersabar maka teguhlah hatinya. Tidakkah kamu mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala menguji Ibrahim as kemudian beliau dianugerahinya keteguhan hati. Dia menguji Musa as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati. Dia menguji Ayyub as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati, dan Dia menguji Sulaiman as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati dan menganugerahinya kerajaan.

        • Keteguhan hati adalah derajat yang paling utama. Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

        “  Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf dimuka bumi (Mesir).”

        (Qs. Yusuf 21)

        • Dan Ayyub as diteguhkan hati oleh Alah setelah ujian besar. Allah Ta’ala berfirman:

        “ Dan Kami kembalikan keluarganya ke-padanya dan Kami lipatgandakan bilangan mereka.

        (Qs. Al  Anbiya 84)”

        • Ditanyakan kepada Imam Asy Syafi’I ra.:

        “Kapankah seseorang itu dipandang sebagai seorang yang ‘alim?….”

        • Beliau pun menjawab: ”Apabila ia yakin pada suatu ilmu, lalu dipelajarinya ilmu itu. Kemudian ia menempuh ilmu-ilmu yang lain, maka dilihatnya mana yang belum diperolehnya. Maka ketika itu, barulah ia menjadi orang yang ‘alim.”

        • Aku ingin manusia mengambil manfaat dari ilmu yang ini dan dari ilmu-ilmu lain yang ada padaku, meskipun sedikit.
        • Aku tidak pernah diskusi dengan seseorang lalu saya suka ia salah.

        • Aku tidak pernah berbicara kepada seseorang melainkan aku suka ia mendapat taufiq, kebenaran, pertolongan dan pemeliharaan dari Allah Ta’ala. Dan saya tidak pernah berbicara dengan seseorang sedangkan saya mengindahkan agar Allah menjelaskan kebenaran itu pada lidahku atau lidahnya.

        • Saya tidak menyampaikan kebenaran dan bukti kebenaran itu atas seseorang, lalu ia menerimanya daripadaku, melainkan saya takut kepadanya dan saya percaya akan kasih sayangnya. Sebaliknya, kalaulah orang itu menyombongkan diri kepadaku terhadap kebenaran dan ia menolak hujjah (bukti kebenaran), maka jatuhlah orang itu dari pandanganku dan aku menolak berhadapan dengan dia.”

        Next page