July 15, 2008

Apa Bedanya Qalb dengan Ruh, Nafs, Lubb dan ’Aql ?

Posted in Mengaji Diri...Tentang Hati Nurani at 6:55 pm by kuswandani

bismillah, saya lanjutkan lagi, ngaji diri saya, kiranya Dia Ta’ala berkenan dengan pemaknaan awal si dani ini..

Lebih lanjut dalam kitabnya Alghazali menguraikan perbedaan mendasar antara qalb atau hati dengan makna lain yang oleh masyarakat kebanyakan dianggap sama dengan istilah qalb itu, seperti ruh, nafs, lubb dan ’aql.

Ruh
Ruh dalam pemahaman saya sementara ini, mengaminkan apa yang menjadi pemaknaan Alghazali yang menyebutkan, bahwa dia adalah sesuatu yang abstrak, yang bersemayam dalam rongga hati biologis, dan mengalir melalui urat-urat dan pembuluh-pembuluh, ke seluruh anggota tubuh. Adapun mengalirnya dalam tubuh dengan membawa limpahan cahaya kehidupan, perasaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman ke dalam semua anggota badan. Sedangkan makna yang kedua adalah bagian dari manusia yang bersifat lathiifah, yang juga memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mencerap, namun hanya sebatas itu penjelasannya, tidak lebih sebagaimana ungkapan Allah dalam firman-Nya,

”Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang ruh, katakanlah ruh itu adalah berasal dari amr Rabbku.” (QS 17: 85)

Begitulah, ruh memang ciptaan Allah yang amat sangat menakjubkan, membuat kebanyakan akal dan pemahaman manusia tak berdaya meliputi pengetahuan tentang hakikatnya.

Nafs
Nafs atau jiwa atau soul, adalah sebuah entitas lain dari diri manusia sebagai jasad, dimana dia berasal dari alam malakut yang terbuat dari elemen cahaya, akan tetapi bukanlah seperti cahaya yang terbayangkan oleh kita ketika melihat cahaya lampu, elemen cahaya ini sangat khas dan tak terinderai oleh mata lahiriyah kita, sebagaimana Allah telah menciptakan malaikat dari elemen yang sama. Jiwa juga memiliki indera sebagaimana yang dimiliki oleh indera jasad tetapi dalam dimensi yang berbeda karena perbedaan elemen pembentuknya.

Misalkan dalam jasad ada mata untuk melihat setiap benda yang dapat di inderai yang memiliki wujud dengan ruang dan waktu, maka dalam jiwa atau nafs terdapat mata jiwa atau istilah umum yang digunakan adalah mata batin, yang dalam Alquran diistilahkan dengan al-bashirah, juga memiliki fungsi untuk melihat, namun yang dilihatnya adalah apa yang tak tampak dalam penglihatan jasad, karena itu dia dapat memiliki kemampuan melihat jauh di atas kemampuan jasad, seperti alam malakut semisal malaikat dan jiwa-jiwa lainnya. Bahkan sering kita mendengar seorang yang karena keshalihannya sehingga Allah Swt anugerahkan sebuah keterbukaan pada bashirah-nya hingga dia bisa membaca apa yang ada dalam hati orang lain.

Jasad memiliki telinga untuk mendengar demikian pula dalam indera jiwa ada telinga batin yang juga berfungsi untuk mendengar, tapi mendengar hal-hal yang jauh lebih batin lagi.

Demikian pula dengan indera jasad lainnya, maka jiwa pun memiliki indera yang semisal. Jadi yang membedakan keduanya hanyalah materi yang membentuknya. Jasad tersusun dari materi bumi, yaitu air, api, tanah dan udara yang semuanya berasal dari alam mulk atau alam kasat mata (alam syahadah), sedangkan jiwa dibuat dari materi cahaya, yang semisal dengan materi malaikat karena keduanya berasal dari alam malakut. AlGhazali menyebut istilah nafs ini dengan sebutan ”sesuatu yang abstrak yang membentuk diri manusia secara hakiki”.

Selanjutnya beliau melanjutkan bahwa nafs ini dilukiskan dengan berbagai macam sifat sesuai dengan bebagai keadaannya yang berbeda-beda. Jika ia dalam keadaan selalu tenang dan tenteram dalam menerima ketentuan Allah dan lainnya, dan terhindar dari kegelisahan yang disebabkan oleh pelbagai macam godaan ambisi, maka ia disebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenang dan tentram), Seperti dalam firman Allah,

”Wahai nafs muthmainnah, kembalilah kepada Rabb-mu dalam keadaan ridla dan diridlai.” ( QS 89 : 27-28 )
Sedangkan apabila nafs ini selalu gelisah karena berada dalam kondisi perlawanan terhadap godaan syahwat hawa nafsu, maka ia disebut dengan nafs lawwaamah. (jiwa yang senantiasa menyesali dirinya dan mengecam). Karena ia selalu menyesali dirinya sendiri atas kelalaiannya dalam melakukan pengabdian kepada Allah… Firman-Nya,

”..dan Aku (Allah) bersumpah dengan nafs lawwaamah (jiwa yang selalu mengecam)” (QS 75:2)
Selanjutnya, jika nafs ini tidak berusaha menyesali dirinya, bahkan senantiasa tunduk patuh kepada dorongan hawa nafsu dan memperturuti bisikan syetan, maka ia disebut nafs ammaarah bis-suu`i (Nafs yang cenderung menyuruh pada kejahatan).

’Aql,
Dari tulisannya Dr. Yunasril Ali, MA, di buku, Jalan Kearifan Sufi, Serambi, Jakarta, saya kutip bahwa, kata ’aql berarti ”ikatan, batasan, atau menahan/mengekang”. Binatang unta yang telah diikat dan dijadikan sebagai tebusan atas suatau tindakan melanggar hukum (diyat) disebut juga ’aql. Lalu kemudian kata itu digunakan untuk menyebut daya ruhaniah manusia yang difungsikannya sebagai alat menimba ilmu dan mempertimbangkan sesuatu yang akan diperbuatnya. Alquran tidak menggunakan kata itu dalam bentuk kata benda melainkan dalam bentuk kata kerjanya sebanyak 50 kali, yang maknanya mengacu kepada upaya fungsionalisasi hati dalam menerima atau menangkap sesuatu dengan menggunakan pertimbangan dan pemikiran yang jernih.

Dalam hadis banyak dibicarakan tentang ’aql, antara lain,

”Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia dari akal ” (HR at-Turmudzi)

”Apabila manusia mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan, maka dekatkanlah dirimu dengan akal mu.” (HR Abu Nu’aim)

Dalam hadis lain diceritakan bahwa Umar, Ubai ibn Ka’ab dan Abu Hurairah r.a. bertanya kepada Nabi Saw tentang orang yang paling berpengetahuan, yang paling berkualitas dalam pengabdiannya, dan paling utama. Semua dijawab oleh Nabi Saw dengan, ”Orang yang berakal” (HR Ibnu Mihbar).

Aql dengan demikian bisa kita katakan sebagai alat untuk berpikir, mencerna sesuatu, mencerap pengetahuan, adalah sesuatu yang telah Allah anugerahkan bagi manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya.

Dimanakah letak dan peran penting Akal dalam perjalanan manusia menuju Tuhannya?
Dalam terminologi Islam yang dimaksud dengan akal terbagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:

1. Akal Otak /Akal Bawah
Akal jenis ini merupakan perpaduan dari rasio, logika, dan memory. Memory adalah bagian dari otak yang berfungsi untuk menyimpan informasi-informasi. Informasi-informasi inilah yang disebut ilmu. Baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Rasio adalah bagian dari otak yang berfungsi menangkap hasil indera dari panca indera. Penangkapan rasio adakalanya tidak diolah lebih jauh dengan logika, namun langsung disimpan kedalam memory menjadi ilmu. Maka dalam tahapan ini seseorang dikatakan mengetahui. Sedangkan Logika adalah bagian dari otak yang berfungsi untuk menganalisa dan mensintesa sumber-sumber informasi yang didapatkan dari rasio dan dibandingkannya dengan informasi sebelumnya yang tersimpan di memory. Hasil dari pengolahan logika ini kemudian diisimpan kedalam memory menjadi ilmu. Dalam tahapan ini seorang dikatakan mengerti atau memahami. Rasa akal yang dalam dari pengertian dan pemahaman, merembas kedalam hati.
Pemahaman terhadap ilmu pengetahuan, akan merembas ke dalam qalbu menjadi intuisi. Pemahaman ilmu yang baik dan benar akan memandu aktivitasnyal menjadi amal shalih. Sedangkan ilmu pengetahuan yang salah hanya akan menjadi waham yang menghijab dirinya dengan tuhannya.

2. Akal Atas (Akal Hati/Lubb)
Akal jenis ini disebut Lubb. terletak di dalam inti qalb yang telah termurnikan dari segala keburukan dan dosa…  sebagaimana fungsi akal bawah atau akal pikiran yang terletak pada aspek jasad manusia, yang berfungsi untuk mengenali dan memahami urusan dunia, urusan yang tampak secara empirik, urusan yang sifatnya material, maka lubb atau akal atas memiliki fungsi yang lebih luhur lagi, karena dia terletak di dalam inti qalb atau nurani manusia, maka dia memiliki kesanggupan untuk bisa mengenal sekian aspek yang tak kasat mata, aspek ketuhanan, aspek hakikat agama, aspek yang non empirik dan aspek agama lainnya…

Seorang manusia yang hatinya masih didominasi oleh hawa nafsu dan syahwat, maka dia akan sangat kesulitan untuk dapat menggunakan aspek lubb nya, karena sang hawa nafsu dan syahwat nya cenderung merebut kendali diri.. berfikir hanya untuk kepentingan dunia semata.

Sementara seorang yang diberi rahmat oleh Allah sehingga jiwa muthmainnahnya sehat kembali dan mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwatnya, maka hadirlah dalam lubb-nya ini Al Haq. Orang seperti inilah yang dalam Al Qur’an disebut Ulil Albab.
Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan Al-Ulama, orang-orang yang berilmu, dalam Al Qur’an atau hadits-hadits Rasulullah SAW adalah orang-orang telah hadir Al Haq dalam lubb-nya.
Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah Al-Ulama. ( QS. 35:28 )

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali Al-Alimun (yang berpengetahuan). (QS. 29:43)

Sebenarnya, dia itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS. 29:49)

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, (QS. 58:11)

Al-Ulama itu adalah pewaris dari Nabi-Nabi … Isi langit dan isi bumi meminta ampun untuk Al-Alim (yang berpengetahuan). (HR. Abu Dawud, Ath Turmudzi dari Abi Darda)

Kelebihan Al Alim dari seorang abid, seperti kelebihanku dari orang yang paling rendah dari shahabatku (HR Tirmidzi dari Abi Amamah)

saya pribadi sangat tidak sepakat apabila ulama hanya disematkan pada mereka yang telah mempelajari banyak ilmu agama secara lahiriyah tapi gagal memahami dan menemukan buah agama dalam bentuk tindakan amal shalih lahir dan batinnya….

Perilaku Manusia
Perilaku manusia adalah merupakan keputusan yang diambil untuk merespon segala sesuatu yang diinderanya. Keputusan ini terjadi setelah terjadi hubungan komunikasi antara akal otak (akal) dan akal hati (lubb) nya. ini apabila lubb nya memang sudah bekerja… berfungsi karena kejernihan hatinya dari dosa… tapi bila tidak, maka yang bekerja secara leluasa adalah akal pikiran luarnya… dunia empiriknya, baik-buruk hanya ditimbang apa yang tampak lahiriyah…

Namun, apabila dalam lubb seorang telah tumbuh Al Haq, maka keputusan tindakannya adalah kesepakatan antara akal dan Al Haq-nya. Sementara Al Haq adalah media petunjuk, hidayah, dan penganugerahan ilmu Allah. Dengan demikian seorang yang telah tumbuh Al Haq dalam dirinya, akan dibimbing Allah untuk mengambil sebuah keputusan langkah.

Al Haq itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)

“Maka yang benar dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan”. (QS. 38:84)

Allah menganugerahkan akal dalam atau lubb atau akal jiwa, sebagai mata yang ada dalam jiwa yang itu digunakan untuk memahami urusan dibalik dunia ini. Urusan agama atau sesuatu yang menyangkut makna hidup, pengenalan diri, pengenalan Allah hanya bisa dicerna dengan dua mata dalam jiwa itu sendiri. Indah sekali ungkapan Rasulullah menjelaskan tentang hal ini,

”Tak seorang pun manusia, kecuali memiliki empat mata; dua di kepalanya yang dengannya ia melihat ihwal dunianya, dan dua di hatinya, yang dengannya ia melihat ihwal agamanya” (HR Abu Mansur Ad-Dailami)

Dalam penjelasan lebih jauh lagi, Imam Al-Ghazali menguraikan dunia Qalb atau hati ini dengan uraiannya yang sangat halus,

”Setiap sesuatu yang dapat kamu tangkap dengan penglihatan fisik, maka ia adalah bagian dari dunia yang dikenal dengan alam syahadah (alam kasat mata). Sementara hati bukan termasuk dalam dunia ini, melainkan dunia metafisik, dan posisinya di dunia ini sebagai sesuatu yang asing. Potongan daging teresebut tersusun dari beberapa unsur, dimana setiap anggota tubuh adalah pasukan-pasukannya, sementara ia sendiri sebagai raja. Ia mempunyai sifat mengenal Allah dan menyaksikan indahnya kehadiran-Nya, ia dikenakan beban kewajiban dan perintah lainnya, ia juga akan mendapatkan pahala dan siksa, mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, dan akan selalu diikuti oleh apa yang dinamakan dengan ruh kebinatanagan (ar-ruuh al-hayawaani).

Mengenal hakikat dan sifatnya merupakan kunci untuk mengenal Allah Swt. Dengan demikian, kamu harus berusaha untuk mengenalnya, karena ia merupakan substansi mulia yang berasal dari substansi malaikat, dan substansi ini berasal dari hadirat Ilahiyah. Dari tempat ini ia datang dan ke tempat ini pula ia kembali.

saya sadar betul kini,

bahwa apapun yang termaknai sekarang sangatlah tidak mewakili sebuah kebenaran hakiki yang tak terbantahkan, kebenaran Dia yang Maha Haq….

tulisan ini cuma secuil percikan pikiran lemah saya… sangat mungkin dikritisi… monggo..

24 Comments »

  1. win said,

    Semoga Kita mendapatkan Nafs Muthmainnah.. amin.

    Salam

  2. Abu Umar said,

    Jazakumullahu khaeran artikelnya, izin copy untuk tugas

  3. @abu umar.. silakan… semoga manfaat

  4. Ahmad said,

    bagus mas.. alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk membacanya.. hanya bahasanya terlalu berat untuk orang awam seperti saya,, saya memang harus banyak belajar.. jazakallah..

  5. @ahmad said, iya nih, mohon maaf kalau sebagian bahasanya berat untuk di baca.. tapi yakinilah, some day.. makanan yang tampak keras itu mudah2an akan mudah dicerna juga kok… semua ada waktunya kita bisa memahami sesuatu… wong ini pengalaman saya juga kok… saya jg butuh waktu yang gak sebentar untuk bisa memahami satu demi satu nya…

  6. budi kris said,

    trimakasih pak

  7. jazakillah..Saya bisa belajar dari artikel ini..Sangat bermanfaat..
    Salam kenal ^_^

  8. Primi Artiningrum said,

    terima kasih artikelnya mas. Saya tadi juga membaca dari web lain ttg Ruh dan Nafs, tetapi tidak selengkap ini. Awalnya saya hanya memahami 1 soul/spirit. Namun ternyata ada Ruh yang paling ‘murni’ dan ada Nafs yang memberikan manusia pilihan-pilihan (terus terang ini masih ngawang2 di pikiran saya). Ada juga pertanyaan yang masih mengganjal, yaitu: apakah ‘Ruh’ itu abadi? (Immortal)…. bukankan ‘Ruh’ akan kembali ke Rab? Bukankah ruh akan hidup di Surga/Neraka? atau di alam yg berbeda dgn alam kita sekarang… Apakah berarti Ruh akan berpindah tempat hidup ketika jasad tidak mampu lagi menampungnya (=mati)?

    Dalam kehidupan, kita sering diminta untuk mendengar ‘kata hati’… Terutama dalam menetapkan pilihan thd arah2 mana yg tepat bagi hidup kita (ini tidak semudah membedakan hitam & putih ). Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa yg inilah kata hati yang benar, dan yg lain sudah banyak dipengaruhi oleh pikiran-pikiran. Apakah ada yang bisa menjelaskan?

    Terima kasih sebelumnya…

    • kuswandani said,

      maaf sekali baru bisa menjawab sekarang, tentang Ruh, dia berasal dari Allah dan akan kembali ke Allah, Yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah adalah elemen jiwa kita sejak di alam barzakh sudah menuai hasil amal perbuatan di dunia, sedang kan di akherat nanti, jiwa akan dibangkitkan kembali bersama jasad yang dihidupkan lagi.

      Tentang kata hati, jika hati kita bersih dari dosa, maka kita akan dimampukan oleh Allah untuk mendengar secara jelas kata hati kita. Namun jika hati masih terkotori, maka kita akan mengalami kesulitan mendengarnya. untuk itulah dalam kehidupan kita, jalan pertaubatan menjadi sebuah keniscayaan sehingga Allah menerima taubat kita dan membersihkan hati kita sehingga kelak Allah akan memberikan kita kemampuan tambahan khususnya dalam upaya mendengarkan kata hati kita secara benar.

      wallahu A’;am bish-shawab

      • Andi said,

        yang merasakan siksa kubur siapa mas…

  9. Anonymous said,

    Sangat cerdas mas artikelnya…saya salut mas udah bisa memetakan apa dan siapa diri kita sebenarnya semoga Allah S.W.T mengilhamkan lebih lagi rahmat dan karunianya kepada kita semua dengan pengenalan tersebut dari mas….amiiiiiiin

  10. dhetto said,

    Mantap artikelnya….paling berbobot dibandingkan dengan yg ada di blog2 lain….tapi pertanyaan saya masih belum terjawab apa perbedaan kualitas hati orang kafir yang selalu berbuat baik dengan orang beriman yang juga selalu berbuat baik ?
    Jawabannya mungkin satu dilandasi oleh iman dan yang satu tidak ?
    Apakah kebaikan duniawi itu terletak di jiwa (dan bukan di hati)…dan kebaikan akhirat (yg disertai niat mencari Ridha-Nya) terletak di hati ?

    • kuswandani said,

      semua manusia baik yang beriman atau yang tidak memiliki iman akan Allah hargai seadil-adilnya, penghargaan Allah kita sebut sebagai pahala. Yang menarik buat saya adalah, bentuk pahala yang Allah berikan adalah dengan cara didekatkannya mereka dengan Allah. Nah yang tadinya kafir kemudian berbuat baik.. maka akan Allah anugerahi kedekatan sehingga kelak jika kebaikannya dilakukan secara tulus, dan konsisten dengan kebaikannya maka akan ditariklah mereka kepada kedekatan dengan-Nya hingga diimankan-Nya dan dijadikannya sebagai orang beriman. sedangkan bagi kaum yang sudah beriman tentu akan lebih didekatkan lagi kepada Allah atas segala amal kebaikan mereka.

      kebaikan di dunia jika dilandasi ketulusan dan keikhlasan saya pikir akan berbuahkan akhirat. saya memahami hati itu terletak dalam jiwa, so siapapun yang berbuat baik… dari kafir-menjadi iman- dari iman akan terus disempurnakan imannya dan didekatkan sedekat-dekatnya dengan Allah.

      wallahu a’lam

      • Anonymous said,

        Terima kasih atas balasannya..
        Kemungkinan orang2 kafir diberikan iman tergantung pada hidayah yang diberikan oleh Allah SWT…Tapi banyak sekali juga orang kafir yang banyak beramal membantu orang lain tetapi masih tidak dapat beriman kepada Allah SWT.
        Hal ini yang membuat saya befikir kalau kebaikan manusia itu adanya di hati nurani (conscious), dan iman itu berada di hati (qalbu)…
        Jika hati nurani dan “hati” itu sendiri adalah sama…mungkin kebaikan itu baru datang dari hati bagian luar, sementara iman itu berada di dalam hati yang paling dalam….dan hanya hidayah Allah lah yang dapat membuat hati seseorang terbuka untuk menerima cahaya Ilahi sehingga dapat menerima keimanan….
        wallahu alam…

      • Andi said,

        Ass. Mas Kuswandi..Salam Kenal..apakah setiap perbuatan kita ini syariat, pekerjaan hakikat…

  11. cn-seha said,

    alhamdulillah sebuah artikel yang menambah khsanah keilmuan saya kang dani, banyak istilah-istilah dalam artikel ini yang menurut saya masih baru “awam”. mudah-mudahan bermanfaat..

    jika seorang dalam pikirannya merasa resah, dalam hatinya ada dendam tetapi seorang tersebut masih dapat mengontrolnya sehingga dendamnya tersebut tidak sampai dilampiaskan terhadap orang lain. bagaimana mendamaikan hati agar pikiran itu tetap positif..?

    wasallam kang….

  12. ezzar said,

    alhamdulliah.. semoga allah menjadikan ku Al-Alimmun,,InsyaAllah.
    di tunggu postingan yg lain nya mas..,he he he he..

    wassalam..

  13. ezzar said,

    izin copas gan

  14. Andi said,

    Ass. bagaimana caranya kita dapat benar-benar mengenal diri kita yang sebenarnya..tks

  15. Noor AW said,

    Ass. apakah setiap perbuatan kita ini syariat dari pekerjaan hakikat…

  16. andi said,

  17. teawell said,

    subhanallah…🙂

  18. ika said,

    bolehkah gw berpendapat sesuai pendapat gw pribadi coy???!? tp jangan seratus persen dipercayai toh gw ini hanya manusia biasa yg ga ma’sum, ucapan gw kadang bener kadang juga salah. aku mohon diampuni dan dimaafkan oleh allah jika pendapatku salah. amin!

    memank waktu itu aku jg suka bahkan sering mikirin, apa sih perbedaan antara ruh, nafs (jiwa), ‘aql (akal), dan qalb (kalbu)??? ditambah pula, apa sih bedanya itu semua dengan lubb???
    tp setelah dipahami dan digali ilmunya ternyata bukan seperti itu pemahamannya.

    kluw menurut pendapatku pribadi, baik ruh, nafs (jiwa), ‘aql (akal), qalb (kalbu), maupun lubb, itu semuanya sebenernya sama-sama aja yakni organ mental manusia. mental itu dibagi 5:
    – pikiran (untuk berpikir)
    – perasaan (utk merasakan sedih, senang, bahagia, marah, takut, dlsb)
    – ingatan (memori otak)
    – kesadaran (supaya melek tdk tidur)
    – insting (naluriah).

    yang aku tahu, dlm otak manusia itu ada otak sebelah kiri dan ada otak sebelah kanan. otak sebelah kiri berfungsi utk berfikir, fokus, waspada. sedangkan otak sebelah kanan berfungsi utk merasa senang, sedih, marah, takut, dlsb.
    jadi klo menurutku, baik ruh, nafs, ‘aql, qalb, maupun lubb, itu sama-sama aja termasuk bagian2 mental manusia.

    mungkin, ruh berfungsi sebagai pemberi kesadaran (melek) serta berfungsi untuk nyawa kehidupan. ‘aql berfungsi sbg pikiran dan ingatan. qalb adalah jantung, tp bisa juga qalb serta lubb berarti perasaan.

    terus kalo nafs apa?? ya nafs itu jiwa. apa bedanya nafs ama ruh?? ar-ruh itu berarti angin.

    mengenai perbedaan antara ruh dengan nafs, sorry sorry sorry, aku masih bingung utk membedakannya. sebagian ulama menganggap ruh dagn nafs itu sama, sdgkn sbagian yg lainnya menyatakannya itu berbeda. kalo ga salah, namanya itu syaikhul islam ibnu taimiyyah rhm yg menyamakan dgn ruh dgn nafs. dy bilang bhw ruh dgn nafs itu sama-sama aja, cuman klo kata ar-ruh itu khusus buat ruh yg gak nyambung ke jasad, sedangkan klo kata an-nafs itu khusus buat ruh yg nyambung dgn jasad.

    sedangkan menurut syeikh ubeid al jabiri hafidzahulloh:

    ruh adalah yang menghidupi jasad, yang mana jika (ruh tersebut) dicabut, maka matilah jasad itu.
    adapun ‘nafs (jiwa)’, ada 2 pengertian:
    1. bisa berarti mengenai dzat/badan itu sendiri. sebagaimana firman alloh:
    ونفس وما سوَاها

    artinya: “dan demi nafs (jiwa) dan penyempurnaannya (ciptaannya).”(asy syams:7)

    2. bisa juga berarti ruh, sebagaimana firman alloh:

    اللهُ يَتَوَفَّى الأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

    artinya: “allah memegang nafs (jiwa) (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka dia tahanlah jiwa (nafs) (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa (nafs) yang lain sampai waktu yang ditentukan. sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan allah bagi kaum yang berpikir.” (az zumar: 42).
    wallohu a’lam.

    jd menurut syaikh ubeid al-jabiri, ruh dgn nafs itu beda. kluw ruh berarti nyawa, sedangkan nafs bisa berarti persatuan ruh & jasad, bahkan bisa jg berarti ruh itu sendiri.

    ya udah,, ruh and nafs itu sama kagak sih??? kluw menurut aku pribadi sih beda. bedanya apa??? kluw ruh gak nyambung ke jasad, sedangkan kluw nafs ya nyambung ke jasad.

    contohnya ayat ini:

    Rasulullah Saw bersabda: “Malaikat masuk (ke dalam perut) untuk meniupkan ruh kepada janin setelah 40 hari.” (Shahih Musnad Ahmad: 15556).

    Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (Qs As-Sajdah: 9).

    pada ayat tersebut yang dibahas adalah ruh, karena memank ruhnya gak nyambung ke jasad. sedangkan ruh yang udah nyambung ke jasad barulah disebutnya nafs. contohnya ayat ini:

    Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap nafs mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?’ Nafs mereka menjawab: ‘Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” ﴾Qs Al-A’raf: 172).

    begitu juga, setelah ruh keluar dari jasad, itu dinamakan ruh bukan nafs, sebab memang dia tidak nyambung ke jasad manusia. contohnya pada hadits mengenai ruh orang kafir yang dibawa oleh malaikat maut:

    Rasulullah SAW bersabda: “Fatakhruju ka-antani riihi jiifatin hattaa ya’tuuna bihi baabal ardhi. Fayaquuluun: Maa antani Haadzihir riihi hattaa ya’tuuna bihi arwaahal kuffaar (Begitu ruh ke luar dari jasad orang kafir, tercium bau busuk bangkai. Mereka (para malaikat) lalu membawa ruh itu ke pintu bumi. Para penjaganya berkata: “Betapa bau busuknya ruh ini!” Begitu sampai ke bumi, mereka mencampakkan ruh itu hingga bergabung dengan ruh-ruh kafir lainnya”. (Hadits Riwayat Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan lainnya).

    nah gan, sedangkan ketika ruh masih nyambung ke jasad, maka dia masih dinamakan nafs bukan ruh, sebab ruhnya masih nyambung ke jasad. contohnya pada ayat mengenai orang tidur:

    Allah Ta’ala berfirman: “Allah memegang nafs (orang) ketika matinya dan (memegang) nafs (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan nafs (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nafs yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (Qs Az-Zumar: 42).

    kesimpulan:

    jadi kesimpulannya adalah, menurutku, ruh itu berfungsi sbg nyawa yg sekaligus berfungsi sbg kesadaran (supaya melek gak tidur), sedangkan hakikat ruh itu urusan allah. kalo nafs adalah terbentuk setelah ruh dan jasad menyatu. diibaratkan jasad adalah hp, ruh adalah batre hp yg sekaligus casan hp, dan nafs adalah batre + casan hp yg nempel di dlm hp. setiap kali manusia ngantuk, maka haruslah ia tidur, biar ruh (nafs)nya dicas di atas ‘arsy-nya. begitu juga hp, setiap kali batrenya lemah, maka haruslah ia dicas biar terisi lg batrenya. mungkin diibaratkan ruh yg nyambung ke jasad adalah casan hp yg nempel dgn hp yg dicas maupun tidak.

    sedangkan menurutku, kluw qalb, lub, dgn ‘aql, itu hanya bagian2 dr mental manusia saja. hny saja kluw qalb bisa berarti jantung, bisa jg berarti perasaan. lubb jg bermaksud perasaan. sedangkan ‘aql bisa berarti memori otak, bisa jg berarti pikiran (daya pikir).

    dn ini hny pendapat gw gan, gw kaga taw pendapat gw ini ga taw bener ato kagak. jd itu semuanya wallahu ta’ala a’lam bi showwab…

    salam, ika.
    rodiyatuwljanatrika64@gmail.com

  19. Anonymous said,

    Assalamualaikum.Terimakasih atas share pendapatnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: