December 8, 2008

Sudahkah Kita Termasuk Golongan Orang Yang Ber-qurban?

Posted in Kumpulan Ceramah dan Khutbah Ied at 2:15 pm by kuswandani

بســم الله الرحمن الرحيــم ، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره ،ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا

من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليّا مرشدا

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أنّ مهمدا عبده ورسوله

عمّا بعد ،

الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر و لله الحمد

Hadirin kaum muslimin dan muslimat, kaum mu’minin dan mu’minaat, para aa’idiin dan aa’idaat.

Pagi ini, kita kembali melaksanakan iedul adha, merayakan dan mensyukuri iedul qurbaan, hari dimana umat islam di seluruh penjuru dunia berbondong bondong melaksanakan sunnah Nabi suci Ibrahim a.s. melaksanakan shalat sunnat berjamaah yang dilanjutkan dengan ibadah pemotongan hewan yang kita kurbankan untuk Allah.

Sepanjang malam hingga fajar menyingsing tadi pagi, kita semua mendengarkan takbir berkumandang tiada henti-hentinya, Sebuah takbir yang semua umat Muhammad Saw. kumandangkan, sebagai bentuk pengagungan kebesaran Allah, dan pengakuan atas kemaha-kecilan manusia, sebuah takbir yang menjunjung ke maha tinggian Allah dan merendahkan kedudukan manusia yang lemah ini, sebuah takbir yang seandainya setiap ummat mentafakkurinya akan sangat berpengaruh besar dalam menggugurkan kesombongan kita.

Karena itu alangkah berbahagianya apabila di dalam takbir demi takbir kita pun seluruhnya merasakan kemaha lemahan kita, kefakiran kita dan ketidak berdayaan dan merasakan pula hinanya manusia ketika diliputi oleh sebuah kesombongan dan kedengkian.

Allahuakbar, Allahu akbar Allahu akbar wa lillahilhamd.

Hadirin para a’idin dan a’idaat. Pada kesempatan di pagi indah penuh kesucian ini marilah kita renungkan bersama-sama hikmah ilahiyah yang sangat luhur dari jejak hidup seorang Ibrahim a.s. Sebuah jejak kehidupan yang sangat menakjubkan dari diri seorang Ibrahim yang semoga dapat dijadikan model ideal kehidupan kita pula.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillaahil-hamd

Setelah Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari pembakaran Raja Firaun Namrud, ia mengorbankan seribu ekor domba jantan, tiga ratus ekor sapi dan seratus ekor unta sebagai wujud rasa syukurnya. Tidak pernah ada orang yang lebih dermawan daripada sang Ibrahim di saat itu.

Ketika ditanya kenapa ia rela mengurbankan begitu banyak harta, Ibrahim menjawab, “Aku telah siap untuk berkorban nyawa bagi Rabbku, mengapa aku harus keberatan mengorbankan harta? Lagipula sebenarnya kekayaan siapakah yang aku kurbankan? Hidup dan segala hartaku semuanya kepunyaan Allah. Apa yang telah aku korbankan tidak ada artinya. Aku bahkan akan mengorbankan bagi Allah milikku yang paling berharga. Jika aku dianugerai seorang anak, aku akan mengorbankannya jika Allah menghendaki.”

Itulah apa yang telah diungkapkan junjungan kita Ibrahim a.s. lalu Bagaimana dengan kita? Adakah diantara kita yang mampu berkata hal yang sama? Dan sekalipun kita tidak berada pada tingkat Nabi Ibrahim, seberapa ikhlaskah kita mengorbankan sebagian harta yang telah Allah limpahkan kepada kita, memberikan milik kita untuk sebuah pengabdian dan demi kepentingan serta kemaslahatan orang lain? Karena sesungguhnya orang yang tidak mau menolong orang lain atau beramal bagi orang lain, ia bukanlah sifat dasar seorang manusia, apalagi orang yang dekat kepada Allah.

Beberapa tahun kemudian, Allah menganugerahi Nabi Ibrahim seorang Putra bernama ismail. Ismail telah menunjukkan tanda-tanda kenabiannya sejak masih anak-anak. Ia sering ikut bepergian kemana-mana, bersama dengan ayahnya dan sekalipun masih kecil, ia sering ikut serta dalam diskusi tentang agama yang rumit.

Kemudian dalam sebuah mimpi, Allah menyampaikan kepada Nabi Ibrahim, “Wahai ibrahim, penuhilah janjimu! Engkau berkata jika engkau mempunyai seorang putra, engkau akan mengorbankannya bagi-Ku. Sekarang engkau harus memenuhi janjimu.”

Keesokan harinya, Ibrahim bertafakkur tentang mimpinya semalam, Walaupun Allah pernah muncul kepadanya dalam mimpi sebelumnya, ia menyadari pula bahwa Allah melarang pengorbanan manusia. Tidak ada sebelumnya seorang nabi yang pernah diminta untuk mengorbakan seseorang. maka sebagai gantinya ia mengorbankan seraatus ekor unta.

Malam itu Allah datang lagi kepadanya lewat mimpi dan sekali lagi memberitahukan kepadanya untuk memenuhi janjinya. Sekali lagi dalam tafakkurnya keesokan harinya nabi ibrahim as berpendapat bahwa Allah tidak pernah menginginkan pengorbanan manusia. Karenanya kembali ia mengorbankan seratus ekor unta.

Malam yang ketiga, sekali lagi Allah menyampaikan dalam mimpi nabi Ibrahim a.s. untuk mengurbankan putranya satu-satunya. Keesokan paginya nabi Ibrahim a,s memutuskan bahwa ia memang harus melaksakanan keinginan Allah tersebut.

Nabi Ibrahim as meminta putranya Ismail as untuk menemaninya ke tempat pengorbanan. Ditengah perjalanan Iblis muncul ke hadapan Ibrahim a.s dan memepertanyakan tentang kehendak Allah. “Apa benar engkau tega memotong leher satu-satunya putramu sendiri? Bahkan seekor binatang pun tidak akan melakukan hal seperti itu.” Ibrahim a.s. menjawab, “Walaupun alasanmu tampak masuk akal dan rasional, aku telah menerima perintah Allah dan aku akan melaksanakan kehendak-Nya!”

Iblis segera pergi dari hadapan Nabi Ibrahim a.s. akan tetapi ia tidak menyerah. Ia datang menemui Siti Hajar r.a. ibunda dari nabi Ismail a.s. Iblis mengatakan kepadanya bahwa Ibrahim a.s. akan mengorbankan satu-satunya putra dari siti Hajar. Siti Hajar pun menjawab bahwa suaminya Ibrahim adalah benar-benar seorang Nabi, yang mengetahui perintah Allah. Ia juga mengatakan bahwa ia rela mengorbankan hidupnya sendiri, jika Allah menghendaki hal tersebut. Lalu Siti Hajar r.a. segera mengusir Iblis dari hadapannya.

Akhirnya, Iblis berusaha mempengaruhi Ismail a.s. Ia muncul dihadapannya dan mengatakan bahwa ayahnya akan mengikatnya di altar dan menyembelih lehernya.

Iblis pun berkata kepada Ismail a.s. bahwa ayahnya telah mengkhayalkan Allah telah memerintahkan hal itu kepadanya. Tetapi Ismail menjawab bahwa ayahnya adalah sungguh-sungguh seorang Nabi yang mengetahui kehendak Allah, yang tidak mungkin mengkhayalkan hal seperti itu. Ismail a.s. mengatakan bahwa ia siap mengorbankan hidupnya sendiri, jika memang itu yang Allah kehendaki.

Sekali lagi, Iblis menanyakan kepada Ismail tentang kesediaannya dipotong lehernya oleh ayahnya. Dengan marah, Ismail berseru kepadanya, “Apabila Allah telah benar-benar memerintahkan hal ini kepada ayahku, pasti ia telah diberi kekuatan pula untuk melaksanakan kehendak Allah. Dan demikian pula dengan aku!” Lalu ia mengambil sebutir batu dan melemparkannya ke arah sang Iblis terkutuk itu…

Demikianlah, syetan dan Iblis berusaha menggoda kita dengan cara seperti itu. Ia mencoba menghampiri akal kita, mengemukakan bahwa Allah tidak benar-benar menginginkan kita melakukan hal-hal yang sulit atau berbahaya. Ia mencoba menghampiri kita lewat kasih sayang kita, bagian dari diri kita yang lunak, menggoda dengan alasan bahwa tugas-tugas tertentu itu terlalu menyakitkan atau terlalu berat bagi diri kita atau orang-orang lain. Ia mencoba membuat kita bingung, melahirkan keraguan dan membuat kita takut untuk memenuhi kehendak Dia Yang Maha Bijak itu…

Di dalam pelaksanaan haji ke Mekkah, seluruh jama’ah haji pergi ke Mina dan di sana melemparkan batu ke arah tiga buah pilar. Di sanalah, dahulu Nabi Ibrahim a.s. mengorbankan Nabi Ismail a.s. Ketiga pilar itu mewakili ketiga penolakan terhadap Syetan yang terkutuk oleh Nabi Ibrahim a.s., siti Hajar r.a. dan Nabi Ismail a.s. Kepada setiap pilar, tujuh buah batu dilemparkan. Seorang ulama besar yaitu Syaikh Muzaffer Ozak memaknainya sebagai sebuah simbol penolakan kita terhadap tujuh kualitas diri yang buruk, yaitu; egois, kesombongan, kemunafikan, iri, amarah, riya dan ketamakan.

Ketika mereka tiba di tempat pengorbanan, Nabi Ibrahim as. Bercerita kepada Nabi Ismail a.s. tentang mimpinya. Alih-alih memaksa putranya ke altar, Nabi Ibrahim a.s. malahan menanyakan kepada anaknya apakah ia suka rela memenuhi kehendak Allah dan bersedia mengorbankan dirinya sendiri. Dalam ketundukkan kepada ayahnya, Nabi Ismail a.s. mengajarkan kepada kita semua tentang keberserahdirian yang luar biasa, sehingga bersedia mengorbankan diri sendiri demi kecintaan kepada Allah dan kepatuhan kepada orang tua.

Walaupun kita seyogyanya bersedia melakukan apa saja dalam kepatuhan kepada orang tua sesuai dengan perintah Allah, kita tidak boleh patuh jka hal yang mereka minta bertentangan dengan kehendak Allah. Sementara kesopanan dan rasa hormat harus tetap dijaga, kita harus menolak untuk patuh kepada siapa pun yang meminta kita menetang kehendak-Nya.

Nabi Ismail a.s. setuju untuk dikorbankan. Ia mengatakan kepada Nabi Ibrahim a.s. untuk mengikatnya erat-erat dengan tali, sehingga saat ia sekarat nanti— ia tidak akan melukai ayahnya. Ia juga meminta ayahnya untuk menelungkupkan wajahnya, agar Nabi Ibrahim a.s. tidak perlu melihat wajahnya yang dapat membuat tangannya gemetar sehingga tidak sanggup untuk menyembelih dirinya. Nabi Ismail a.s. juga meminta ayahnya untuk menyingsingkan jubahnya, sehingga ayahnya itu tidak perlu kembali ke rumahnya dengan jubah yang ternodai cipratan darahnya, yang akan menambah kesedihan ibundanya.

Nabi Ibrahim a.s. sepakat dan sangat tersentuh oleh keyakinan dan kasih sayang putranya. Ia meletakan putranya di atas altar dan berdoa kepada Allah agar merahmati dirinya dan diri puteranya. Ketika Nabi Ibraim a.s. mengangkat pisau pengorbanannya, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, “Lihatlah keyakinan dan cinta dari khalil-Ku, hamba-Ku, Ibrahim. Ia bahkan rela mengorbankan putra satu-satunya dalam kepatuhan kepada perintah-Ku.

Akhirnya Allah pun memerintahkan Jibril a.s. agar menggantikan posisi Nabi Ismail a.s. dengan merubahnya menjadi seekor domba jantan, dan Allah menyatakan bahwa keberserah dirian dan keyakinannya Dia Ta’ala terima dan Allah berkenan kepada mereka berdua.

Allah menuntut pengorbanan-pengorbanan kepada semua yang ingin mengenal Dia Ta’ala. Kita diminta untuk bisa mengorbankan bagi-Nya apa-apa yang seringkali kita anggap paling kita cintai, yaitu keterikatan kita kepada materi dunia, kebiasaan-kebiasaan buruk kita dan kesombongan-kesombongan kita..

Kita berkurban adalah kita sedang melakukan sebuah upaya agar diri ini menjadi dekat dengan-Nya… apapun yang bisa kita kurbankan, apakah pengorbanan harta, tenaga, waktu kita, pengetahuan kita… jika kita niatkan semata-mata karena keinginan kita untuk dekat dengannya, maka makna qurban dalam bahasa Arab berarti “mendekatkan” dapat kita hayati bersama….

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil’hamd…

Hadirin kaum Muslimin dan Muslimat. Para Aa’idiin dan aa’idaat..

Mudah-mudahan di kesempatan perayaan iedul qurban kita tahun ini, walaupun kita tidak memiliki kemampuan untuk mengurbankan sebagian harta untuk membeli domba atau sapi, tapi setidaknya semangat ingin berkurban demi harapan dekat dengan Allah dapat kita wujudkan.

Semangat ingin melakukan sebuah tindakan yang membuat orang lain dimudahkan, saudara kita diringankan bebannya, anak-anak kita dilapangkan jalan menuju ketaatan kepada Allah. Semoga Allah berkenan menerima pengurbanan kita sebagaimana diperkenankannya pengorbanan sang Ibrahim sang Khalilullah, sahabat Allah yang terdekat….

Marilah pada akhir khutbah ini, mari kita menghadap Rabbul’Alamin dengan khusyuk dan khidmat. Marilah kita sampaikan pengakuan dosa dan kelamahan diri kita di hadapan Allah swt.

Allahumma shalli ‘alaa muhammad wa ‘alaa ali Muhammad, wa sallim waradiyallahu an kulli shahaabati rasuulillaahi ajma’iin…

“Ya Allah kami berkumpul di hadapanMu, sebagaimana kami akan berkumpul di hadapan-Mu pada hari kiamat nanti. Sekarang Engkau inginkan kami memanggilMu dan memohon ampunanMu. Kelak di hari kiamat Engkau akan mengadili kami dan mempersiapkan azabMu.

“Ya Allah, Engkaulah yang memanggil kami ke sini, Engkaulah yang menuntun kami untuk mensucikan diri. Rabbana, Engkau perintahkan kami untuk memaafkan orang yang menzalimi kami. Kami sudah menzalimi diri kami sendiri, ampunilah kami.

Engkau perintahkan kami untuk bersedkah kepada kaum fuqara di antara kami dan inilah kami, ya Tuhan semua fuqara dihadapan-Mu, berilah kami.

Engkau melarang kami mengusir orang-orang miskin di adapan-Mu,, janganlah Engkau usir kami dari pintuMu.

“Ya Ghafar, dengan cahaya-Mu kami mendapat petunjuk. Dengan karuniaMu kami mendapat kecukupan. Dengan nikmat-Mu, kami masuki pagi dan petang. Dan inilah kami, membawa dosa-dosa kami di hadapanMu.

Ya Allah, kami mohonkan ampunan-Mu. Kami bertaubat kepadaMu.

Engkau limpahi kami dengan kenikmatan, tapi kami melawan-Mu dengan kemaksiatan.

Kebaikan-Mu turun kepada kami dan kejelakan kami naik kepadaMu.

Tidak henti-hentinya malaikat yang mulia mengantarkan kepadaMu kejelekan amal kami. Tapi itu tidak mencegahMu untuk melimpahi kami denga nikmatMu dan untuk memuliakan kami dengan anugerahMu.

Ya Allah, yang memelihara kami dengan karunia dan anugerahMu di dunia dan melindungi kami dengan ampunan dan kemurahanMu di akhirat.

Kami menyeru-Mu, Gusti, dengan lidah yang sudah bisu karena durhaka. Kami memanggilMu, Ya Rabbi, dengan hati yang berlumur dosa. Kami menyeruMu, Rabbana, dengan perasaan galau, takut, cinta, cemas dan harap.

“Rabbi, bila kami melihat dosa kami, kami menggigil ketakutan. Bila kami sadar akan kemurahanMu, kami melonjak kegirangan. Jika Engkau ampuni, Engkau memang pengasih. Jika Engkau menyiksa, Engkau bukan penyiksa yang zalim.

“Rabbana, sekarang ini telah Kau tutup aib dan dosa kami, keluarkan kecintaan kepada dunia dari hati kami. Kumpulkan kami bersama Nabi Al-Musthafa dan keluarganya, dengan para nabi pilihanMu di antara makhlukMu. Bantulah kami menangisi diri kami. Kami sudah menyia-nyiakan usia kami dengan kelalaian dan angan-angan. Kami sudah menjadi orang-orang yang putus harapan.

“Rabbana, inilah hamba-hambaMu yang sepenuhnya bergantung kepada kasih sayang-Mu. Kasihanilah kelemahan tubuh kami. Ampunilah kesalahan kami dan bersihkanlah hati kami. Bukakan pintu rahmatMu, terimalah do’a-do’a dan amal-amal kami.”

Ya Allah, beri kami kekuatan-Mu untuk dapat menjalankan segala hidup ini dengan penuh keridlaan-Mu, penuh bimbingan-Mu. Ampuni dosa kami, dosa kedua orangtua kami dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihani kami sejak kecil.

Allahumma Innaka ‘afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa pa’fu’anna ya kariim.

Subhaanaka Rabbika Rabbi-l-Izzati ‘amma yashifun wasalaamun ‘allal mursalin walhamdulillahi rabbil ‘alamin

Wassalamu’alaikum wr.wb.

*) Teks Khutbah Ini disampaikan oleh Kuswandani Muhammad Yahdin, pada pelaksanaan iedul Adha 1429 H / 8 Desember 2008 di Masjid Al-Amin, Pesanggrahan Permai / Villa Pratama Ciledug Jakarta Selatan

1 Comment »

  1. Tri Harjanti said,

    Terima kasih kang Dani atas kotbahnya . aku sudah membacanya🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: