December 26, 2008

Antara Allah dan Sang Kekasih…

Posted in belajar merenung at 7:50 am by kuswandani

mullahSeorang perawan desa sedang pergi untuk menemui kekasihnya. Ia melewati seorang Mullah yang sedang melakukan shalat. Karena tidak tahu, ia berjalan di depan Mullah itu, suatu hal yang dilarang oleh agama. Mullah itu sangat marah, hingga ketika gadis itu kembali lewat di dekatnya, ia memarahinya.

Ia berkata. “Alangkah berdosanya, hai gadis muda, berjalan di depanku ketika aku sedang shalat.

Gadis itu berkata, “Apa artinya shalat?

Dijawab, “Aku sedang memikirkan Allah, Tuhan langit dan bumi.

Gadis itu berkata, “Maafkan aku, aku belum tahu Allah dan shalat bagi-Nya, tetapi tadi aku sedang berjalan menuju kekasihku dan memikirkan kekasihku, hingga aku tak melihatmu sedang shalat. Aku heran bagaimana anda yang sedang memikirkan Allah dapat melihatku?

Perkataan gadis itu sangat berkesan pada Mullah hingga ia berkata, “Sejak saat ini, hai gadis, engkau adalah guruku. Akulah yang harus belajar darimu.”

[dikutip dari milis sebelah, by djsjah <dj_sjah@> dengan Topik: Cinta Ilahi]

December 24, 2008

Kau dan Anakmu

Posted in belajar merenung at 11:01 pm by kuswandani

by: Anonymous

baby-es

Jangan didik anakmu…

Jangan didik anakmu laki-laki

Bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya

Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu laki-laki

Untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan

Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan

Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis

Dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng

Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya

Bahwa air mata adalah anugerah Tuhan yang indah

Sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya

Dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya

Jangan didik anakmu perempuan

Bagaimana menjadi cantik

Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya

Jangan didik anakmu perempuan

Bagaimana untuk menyenangkan laki-laki

Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan

Jangan larang anakmu perempuan

Jika ia menikmati melompat, berlari, dan memanjat

Jika ia suka menjelajah dan mengutak-atik benda-benda

Jangan kaupaksa dia untuk duduk manis diam dan tenang

Karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri

Dan juga rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugerahkan

Telah kaubonsai dan kaurusak sejak dini

Isilah rumahmu

Dengan cinta, hikmat, dan kebijaksanaan

Bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar, dan kekuasaan

Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan

Keindahan menikmati mentari pagi

Kehangatan rasa ketika menggenggam pasir

Kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga

Dan merdunya suara tetes-tetes hujan

Jika kau ingin anakmu rajin beribadah

Gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu

Ia takkan bisa kaupaksa berdoa dan sembahyang

Ketika dia tak dapat menangkap makna ibadah darimu

Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan

Pancarkan rasa ingin terus belajar

Nasihatmu tak akan bisa membuatnya mau membaca

Ketika dia tak pernah menyaksikan engkau menikmati buku

Jika kau ingin anakmu penuh kasih

Tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama

Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi

Jika ia tak pernah merasakan cinta darimu

Untuk anakmu

Engkau adalah teladan yang utama

Tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat

Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kauinginkan

Hiduplah demikian!

HATI SEORANG AYAH

Posted in belajar merenung at 10:58 pm by kuswandani

by: Anonymous

father-and-daughter-at-lakeSuatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah , mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian terbungkuk?”
Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : “Sebab aku laki-laki.” itulah jawaban ayahnya.
Anak wanita itu berguman : ” Aku tidak mengerti.”

Dengan kerut-kening karena jawaban ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian ayahnya mengatakan :
“Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”
Demikian bisik ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri ibunya lalu bertanya :
“Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”

Ibunya menjawab : “Anakku, jika seorang laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.”
Hanya itu jawaban sang bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi.
Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas
sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. ”

“Kuciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. ”

“Kuberikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. ”

“Kuberikan keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu
dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”

“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. ”

“Kuberikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap.
Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.”

“Kuberikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani. & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka.
Walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.”

“Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia.
Dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”

“Kuberikan kepada laki-laki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah amanah di Dunia & Akhirat.”

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh.
Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.
” Aku mendengar & merasakan bebanmu, ayah…”

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan ayah…

With love to all father ” Jika kamu mencintai ayahmu – sekarang merasa sebagai seorang ayah kirimlah cerita ini kepada orang lain, agar seluruh orang di dunia ini dapat mencintai & menyayangi ayahnya & dan mencintai kita sebagai seorang ayah.

Berbahagialah yang masih memiliki ayah.
Dan lakukanlah yang terbaik untuknya…

Berbahagialah yang merasa sebagai ayah.
Dan lakukanlah yang terbaik untuk keluarga kita…

[catatan: ilustrasi foto dipinjam dari http://www.flickr.com/photos/arunsasi/2096705146/%5D

December 12, 2008

What Will You Plant?

Posted in belajar merenung at 12:08 am by kuswandani

(dikutip dari sumber yang annonym juga….) semoga manfaat….
507109

If you plant honesty, you will reap trust.
If you plant goodness, you will reap friends.
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory.
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success.
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation.
If you plant openness, you will reap intimacy.
If you plant patience, you will reap improvements.
If you plant faith, you will reap miracles.
But:
If you plant dishonesty, you will reap distrust.
If you plant selfishness, you will reap loneliness.
If you plant pride, you will reap destruction.
If you plant envy, you will reap trouble.
If you plant laziness, you will reap stagnation.
If you plant bitterness, you will reap isolation.
If you plant greed, you will reap loss.
If you plant gossip, you will reap enemies.
If you plant worries, you will reap wrinkles.
If you plant sin, you will reap guilt.

December 2, 2008

Berimankah Kita?

Posted in belajar merenung at 5:13 am by kuswandani

Nabi Mulia Saw. Bersabda,
Tidak dikatakan beriman, para makhluk Allah
Sehingga mereka saling mengasihi.
Tidak dikatakan mereka saling mengasihi,
Sehingga mereka menjalankan perintah Allah.
Tidak dikatakan menjalankan perintah Allah, sehingga mereka menjadi orang berilmu.
Tidak dikatakan mereka orang berilmu,
Sehingga ilmunya benar-benar diamalkan.
Tidak dikatakan mereka mengamalkan,
Sehingga mereka menjauhi cinta kebendaan.
Tidak dikatan mereka menjauhi cinta kebendaan, sehingga mereka dipenuhi sikap kehati-hatian (wara’).
Tidak dikatakan penuh sikap kehati-hatian, sehingga mereka menjadi rendah hati.
Tidak dikatakan mereka rendah hati,
Sehingga mereka dapat memahami dirinya sendiri.
Dan tidak dikatakan memahami dirinya sendiri,
Sehingga mereka mampu berpikir dalam bertutur kata…

(dikutip dari buku Mutiara Berserak, Ibnu Hajar al-Asqalani)

October 31, 2008

Sudahkah Kita Berkurban?

Posted in belajar merenung at 3:30 am by kuswandani

[ini tulisan yang dibuat setahun yang lalu, semoga kembali bisa mengingatkan kita, terutama bagi sang penulis, tentang makna qurban dan mengapa kita layak merayakannya…., semoga manfaat]

Bismillah ar-Rahman, ar-Rahim, semoga hamba bisa meminjam dua asma-Mu ya Rabb, semoga ini menjadi tulisan pengantar renungan kita semua. Better late than never…

Iedul Qurban, bersumber dari dua kata dalam bahasa Arab, “Ied” dari kata ‘aadaya’uudu, artinya “kembali”. “Qurban”, dari kata qaraba-yaqrabu, “mendekat”… Iedul qurban kemudian dimaknai oleh nalar saya sebagai sebuah hari di mana setiap kita belajar untuk kembali merenungi hal apa yang dapat membuat kita dapat mendekati Dia Sang Maha Lembut.

Banyak cara setiap hamba mendekati Allah, maka salah satu cara itu dengan mengorbankan sebagian hartanya yang ditukarnya dengan daging kambing atau sapi, dengan harapan Allah menarik mereka, menerima qurban mereka sebagaimana Allah menerima qurbannya Habil sang putra Adam. Tentu yang kita kurbankan adalah harta yang memang terasa berat untuk dilepas, bukan harta yang kita keluarkan dengan ringan hati disebabkan masih sangat banyaknya sisa harta yang kita miliki. Artinya kita yang bergaji 45 juta per bulan, dengan mengeluarkan dana 1 juta untuk kambing bisa jadi belum disebut berkurban karena tidak ada rasa pengorbanan yang membuat dia sulit mengeluarkannya. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang Ibrahim bisa mengeluarkan ratusan unta untuk daging kurbannya!

ibrahim-ismail.gifTentu logika pemikiran kita perlu diajak untuk memaknai, mengapa akhirnya kita mahfumi banyak sekali umat Islam, para saudara kita yang setiap tahun berhasil mengeluarkan sebagian dananya untuk berkurban, namun hal apa yang berhasil mereka peroleh dari penyisihan sebagian uangnya itu selain hal tersebut lewat begitu saja dengan tidak membawa perubahan sedikit pun ke dalam diri mereka, yang menunjukkan bahwa makna iedul kurban belum berhasil mereka peroleh…, ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak semakin halus, jasad tidak semakin beramal baik, alih-alih lewat ied itu mereka dapat menemukan amal shalih mereka.

Mungkin, (terlintas dalam benak saya) karena kita belum berhasil menemukan makna Iedul Adha, sebagai nama lain dari iedul qurban itu sendiri… “adha” memiliki makna penyembelihan, ada yang kita sembelih di setiap perayaan Iedul Adha setiap tahun.

Ketika kita belum memilki kemampuan untuk menyisihkan sebagian dana yang kita miliki dalam rangka belajar berkurban, mengorbankan harta kita, untuk menyembelih hewan kurban, kita sebenarnya telah Allah beri kemampuan melakukan penyembelihan lain, menyembelih dominasi aspek hawa nafsu dan syahwat kita, sudah waktunya sekarang, pada saat kita memasuki pergantian tahun baru ini, pergantian perilaku yang baru ini, mari kita sama-sama belajar (terutama nasihat buat saya pribadi) belajar untuk menyembelih dominasi aspek kedengkian, aspek ketakaburan, aspek buruk sangka, aspek keinginan pengakuan bahwa diri ini berharga di mata orang lain, dan segala aspek lainnya.

Ah, tidak mudah memang menyembelih semua dominasi syahwat hawa nafsu ini, untuk belajar menghargai waktu juga bukan hal yang sederhana, untuk belajar memaafkan orang lain pun juga bukan hal remeh, apalagi kita mencoba berjuang menemukan amal-amal shalih kita.

Tapi yang membuat saya pribadi senantiasa memiliki harapan kuat, karena Allah rasanya tidak pernah merasa bosan menerima dan menerima terus setiap penyesalan kita, setiap kesadaran diri yang lemah kita, setiap pengakuan dosa kita. Semoga pengakuan ini menjadi tanda bahwa kita memang butuh dan selalu membutuhkan Dia Sang Maha Pengayom dan Pembuka Jalan.

Semoga kita berhasil merayakan iedul qurban atau iedul adha kita dengan bersama2 membangun kesadaran diri. Ya Allah, semoga pengorbanan hamba demi taqarrub kepada-Mu Engkau terima, semoga Engkau beri pula hamba kekuatan untuk dapat menyembelih setiap dominasi hawa nafsu dan syahwat yang senantiasa menenggelamkan hamba. Duh Gusti… ampuni hamba.

Rasuna Said street, 4 Desember 2007, 10:26 WWIB

August 30, 2008

History of Prayer

Posted in belajar merenung at 1:40 am by kuswandani


Aku memohon diberi Kekuatan….
Dan ALLAH memberikan Kesulitan agar membuatku menjadi kuat.
Aku memohon agar menjadi Bijaksana….
Dan ALLAH memberiku Masalah demi masalah untuk diselesaikan dan disikapi dengan sebaik-baik penyikapan.

Aku memohon Kekayaan….
Dan ALLAH memberi saya Bakat, Waktu, Kesehatan, dan Peluang hingga akhirnya aku menemukan nilai sebuah kekayaan lahir dan batinnya…

Aku memohon Keberanian….
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.

Aku  memohon Rasa Cinta….
Dan ALLAH memberikan orang orang bermasalah untuk dibantu

Aku memohon Keberanian….
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.

Saya memohon Kelebihan….
Dan ALLAH memberiku jalan untuk menemukannya.

“ Aku tidak menerima apapun yang kuminta….
…….Akan tetapi Aku menerima semua yang seharusnya aku butuhkan ”

(ps..hatur nuhun teh opi-sidoarjo… bait lama dari sang anonym,  dikutip lagi dan disesuaikan redaksinya….)

(gambar saya unduh dari swaramuslim.net/islam/more.php?id=5348_0_4_0_M)

August 25, 2008

06.21 Wib, 25 Agustus 2008, senin…

Posted in belajar merenung at 8:04 pm by kuswandani

itulah angka-angka dan kalimat, yang tampil menyertai kehadiran sang amanah bagi bapaknya… amanah bagi ibunya…

titipan dari Dia Sang Maha Pemelihara….

Rabbi, kiranya Engkau pula yang kelak akan menurunkan kekuatan bagi kami dalam menjalani amanah-Mu..

menuntun hamba-Mu yang lahir di hari-hari jelang ramadhan-Mu….

Rabbi, kiranya Engkau pula yang menjadi tumpuan sebenar-benar pengharapan kami, untuk bisa mengenalkan kepada anak kami ini, asma-Mu, sifat-Mu, dan tindakan-tindakan mulia-Mu…..

ajarkan kami agar kami pun bisa mengenalkan rahasia indah sebuah kesabaran dalam menghadapi luasnya lautan dunia menjebak ini…

ajarkan kami, agar kami pun bisa mengenalkan rahasia indahnya sebuah rasa syukur dalam memanfaatkan setiap karunia apa pun yang telah Engkau hadirkan…

Rabbii…

Tak ada lagi ruang kata-kata bagi sebagai rasa syukur mendalam kami dalam menyambut sang putera ini…

kami hanya mampu mengantarkan sebuah doa…. Engkau Sang Pengabul…

kami hanya mampu mengantarkan sebuah harapan… Engkau Yang Mewujudkan harapan itu…

kami hanya mampu mengantarkan sebuah kebergantungan… Engkau yang menyambutnya…

duh Gusti…

ampuni dari segala ketergelinciran dan kelalaian kami….

..

August 15, 2008

Rasulullah Saw. dan Pengemis Yahudi Sang Penghina…

Posted in belajar merenung at 4:09 pm by kuswandani

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah
lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

ps. makasih buat sdr. adang atas mailing kisah ini… punten saya bajak ke sini.. semoga manfaat buat kita semua…

July 24, 2008

Adakah Makna Luhur Dibalik Wudlu Kita?

Posted in belajar merenung at 1:24 am by kuswandani

(Disarikan dari Buku Menjelang Hidayah Al-Ghazali dan ditambah dengan pemaknaan diri oleh Kuswandani sebagai bahan diskusi dan renungan bersama)

Wudlu menurut bahasa Arab berarti air juga memiliki arti lain sebagai pensucian, artinya sebuah tata cara yang Rasulullah Saw. ajarkan agar umatnya menggunakan air sebelum melaksanakan shalat agar tersucikan baik secara lahir maupun batinnya.

Wudlu sebagai tindakan lahiriyah seorang hamba untuk mensucikan dirinya terlebih dahulu sebelum melakukan penghadapan wajah kepada Allah yang Maha Suci.

Namun ternyata tindakan pembasuhan atau pencucian sebagian anggota tubuh ini tidak sekedar sebuah ritual membersihkan aspek lahiriah berupa jasad kita saja… dibalik aspek lahiriah ini, saya menemukan sebuahh pemaknaan lain yang tampak lebih luhur, lebih dalam, lebih menyejukkan sebagai sebuah prosesi membangun kesadaran diri akan pentingnya pensucian lahiriyah yang seharusnya berdampak pada pensucian batin kita…

Pensucian lahiriyah dengan air wudlu, dan pensucian batin kita dengan hadinya pengetahuan. Pengetahuan yang benar dimata-Nya adalah pengetahuan yang melahirkan sebuah kesadaran baru, dari kesadaran demi kesadaran seharusnya kelak akan melahirkan bentuk penghayatan. dan dari sebuah penghayatan akan hidup ini, kelak akan terbit sebuah bentuk lain dalam diri yaitu penyesalan akan kesalahan demi kesalahan masa lalu kita, keburukan kita, dan segala kelalaina serta ketergelinciran kita…

dari penyesalan inilah nurani kita akan menuntun pada sebuah ungkapan istighfar, memohon ampunan akan segala dosa dan kesalahan….

inilah bentuk proses taubat sebagai pensucian jiwa.

Seberapa layak kita memperoleh sambutan Allah Yang Maha Suci, bergantung penuh kepada kesucian lahiriyah kita dan batiniyah kita.
Read the rest of this entry »

Next page