September 29, 2008

Hidangan Menakjubkan dari Sang Rumi

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 4:48 pm by kuswandani

Manakala orang mendengar bahwa di suatu kota seorang manusia yg baik memperoleh karunia dan pemberian yg menakjubkan, ia akan pergi ke sana dengan harapan dapat memperoleh bagian. Karena karunia Allah begitu masyhur dan seluruh dunia mengetahui Kebaikan-Nya, mengapa engkau tidak memohon kepada-Nya? Mengapa engkau tidak berhasrat pada jubah-jubah kebesaran dan emas-emas kemurnian? Kau duduk dalam kedunguan dan berkata, “Jika (memang) Dia menghendaki, Dia akan memberikan sesuatu”, dan engkau tidak memohon sesuatu pun. Lihatlah seekor anjing yg tidak memiliki akal ataupun pemahaman, manakala ia lapar dan tidak menemukan makanan, ia datang padamu dgn mengibas-ngibaskan ekornya. Artinya, “Berilah aku makanan karena aku tidak mempunyai makanan dan engkau memilikinya”.

Hal ini mengindikasikan adanya suatu pemahaman. Kini jelaslah, kau tiada bedanya dengan anjing, yg tidur di atas debu dan berkata, “Jika dia ingin, dia akan memberikan aku makanan”. Ia menggonggong dan  mengibas-ngibaskan ekornya, kau juga, mengibas-ngibaskan ekormu dan memohon kepada pada Allah! Memohonlah, karena di hadapan Ar-Rahmaan, permohonan dikabulkan! Karena engkau bukan pewaris kebaikan, mintalah dari seseorang yg tidak kikir dan memiliki banyak kekayaan.

(Fihi ma Fihi 171-172/180)

Mereka berkata bahwa pada akhirnya, cinta adalah keinginan dan kebutuhan akan sesuatu. Karenanya, kebutuhan adalah akar, dan sesuatu adalah cabang. Kataku: Bagaimanapun juga, manakala engkau berbicara, engkau bicara tentang kebutuhan, engkau wujudkan kebutuhanmu itu. Karena engkau  menginginkan apa yg telah engkau ungkapkan lewat kata-kata, akan terwujudlah ia! Maka, kebutuhan  adalah yg utama, dan kata-kata mengalir karenanya. Tapi, dalam hal ini, kebutuhan telah ada tanpa kata-kata, cinta & kebutuhan tidak dapat disebut sebagai cabang dari kata-kata.

Seseorang berkata: Tapi tujuan dari kebutuhan adalah kata-kata. Maka bagaimana mungkin tujuan adalah cabang? Guru menjawab: Cabang-cabang selalu menjadi tujuan dari akar-akar, suatu pohon ada karena cabang-cabannya.

(Fihi ma Fihi 139/148)

Al-Qadiir, Yang Maha Kuasa, tidak memberkati
sesuatu pun tanpa kebutuhan.

Jika tiada kebutuhan bagi dunia, Tuan dari penduduk
dunia tidak akan pernah menciptakannya.

Jika bumi yg bergempa ini tidak membutuhkan
gunung-gunung, akankah Dia menciptakannya?

Andaikata tiada kebutuhan akan cakrawala, Dia
tidak akan mewujudkan tujuh langit dari non-wujud.

Matahari, bulan, dan bintang-bintang, bagaimana
mungkin menampak jika tiada tersirat kebutuhan?

Jadi, simpul segala wujud adalah kebutuhan.
Kelengkapan manusia adalah keluasan dari kebutuhannya.

Maka, oh manusia yg penuh dengan kebutuhan, segeralah tambah kebutuhanmu! Lalu Lautan Karunia akan melimpah dalam kemurahan. Para pengemis dan si pincang di jalanan menunjukkan kebutuhan mereka pada orang-orang.

Kebutaan, kepedihan, rasa sakit, dan derita,
sehingga orang-orang akan menaruh iba.

Pernahkah seorang pengemis berkata, “Wahai manusia, berilah aku roti karena aku memiliki kekayaan, gudang-gudang, dan meja yg lebar!”?

(Matsnawi II 3274-83)

Di mana ada rasa sakit, datanglah obat! Di mana
ada kemiskinan, akan diikuti kekayaan.

Di mana ada pertanyaan, jawaban akan diberikan,
di mana ada kapal, di situ ada air mengalir.

Luangkan sedikit waktu untuk mencari air dan oba-
tilah dahaga! Maka air akan melimpah dari atas dan dari bawah.
(Matsnawi III 3210-12)

Terdengar sudah teriakan, “Wahai pencari, datang-
lah! Bagaikan seorang pengemis, sebab karunia membutuhkan para pengemis!”

Karunia mencari para pengemis dan si miskin, se-
bagaimana seorang wanita mencari sebuah cermin.

Cemin menjadikan wajahnya cantik, dan para pe-
ngemis menyingkap suatu kemurahan dari balik tabir.

(Matsnawi I 2744-46)

Sungguh, lapar adalah sultan dari segala obat.
Semayamkanlah lapar dalam jiwa, dan jangan anggap ia sebagai kehinaan!

Lapar menjadikan segala yg tak menyenangkan
menjadi menyenangkan, tanpanya segala yang menyenangkan akan tertolak.

Seseorang makan roti yg terbuat dari kulit padi.
Ada yg bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau berselera terhadapnya?”

Dia menjawab, “Manakala lapar telah berlipat-lipat
melalui sabar, roti barley menjadi halva di mataku”.

Allah telah menganugerahkan lapar kepada
orang-orang pilihan-Nya sehingga mereka menjadi singa-singa perkasa.

(Matsnawi V 2832-35, 38)

Lapar memberikan kenikmatan, bukan makanan
manis yg segar, lapar menjadikan roti barley lebih baik dari gula.

Penyakit memperbarui obat-obatan kuno dan me-
motong setiap cabang persamaan.

Penyakit adalah al-kimia yg membangun kembali,
di manakah persamaan manakala penyakit campur tangan?

Awas, jangan terpaku pada persamaanmu! Carilah
penyakit! Carilah penyakit, penyakit, penyakit!

(Matsnawi VI 4296, 4302-04)

Di mana ada penyakit, datanglah obat; di mana ada
tanah rendah, ke situ air menuju.

Jika engkau menginginkan air kasih, pergi, merendah-
lah! Lalu minumlah air kasih dan mabuklah!
(Matsnawi II 1939-40)

Aku ingin lari dengan cepat, cepat, untuk mencapai para penunggang; aku ingin menjadi nonwujud, menjadi bukan sesuatu pun, untuk mencapai Yang Tercinta.

Aku telah meraih kesenangan, penuh kesenangan,
aku adalah percikan api.

Aku akan membakar rumahku dan menuju Gurun.

Aku ingin menjadi debu, kotor, sehingga Engkau
menjadikanku hijau. Aku ingin menjadi air dan bersujud di sepanjang jalan menuju Taman.

Terjatuh dari langit, aku bagai sebutir debu, aku
akan meraih keamanan dan berhenti meratap manakala aku telah sampai Tujuan.

Cakrawala adalah sebuah tempat terhormat, dan bumi adalah tempat kehancuran, aku akan terbebas dari dua bahaya itu manakala telah sampai pada Sultan.

Dunia tanah dan air ini adalah substansi dari ke-
kafiran dan kefanaan, aku telah memasuki jantung kekafiran agar memperoleh keyakinan.

Raja dunia yg selaras & seimbang mencari seorang pecinta yg seimbang. Lihat, wajahku kuning bagai koin emas sehingga aku dapat memperoleh tempat dalam timbangan Mizaan-Nya.

Kasih Tuhan adalah air, ia akan menuju ke tanah
yg rendah. Aku ingin menjadi debu dan objek Kasih-Nya supaya dapat mencapai Ar-Rahiim.

Tiada seorang dokter pun yg memberi pil dan obat-
obatan jika bukan karena penyakit, aku ingin benar-benar sakit sehingga memperoleh Obat.
(Diwan 1400)

Karena obat di dunia ini mencari penyakit dan rasa
sakit, kita dapat melepaskan diri dari segala obat dan penyakit.

(Diwan 35477)

Cinta adalah dokter yg mencari penyakit, karena
itu, mengapa kita harus menjadi sakit dan lemah?
(Diwan 33964)

Sungguh, tiada pecinta meraih persatuan tanpa
kekasih yg mencarinya.

Tapi cinta para pecinta menjadikan jasad sebagai
tujuan, sementara cinta orang-orang yg tercinta menjadikannya kebahagiaan dan kesuburan.

Manakala cahaya cinta di dalam hati ini mencintai
daging-daging, ketahuilah bahwa tiada juga cinta di dalam hati itu.

Manakala cinta kepada Allah telah berlipat-lipat di
dalam hatimu, tanpa ragu, Allah telah mencintaimu.

Engkau tidak akan pernah mendengar tepukan ha-
nya dengan sebelah tangan.

Dahaga manusia itu adalah suatu ratapan, “Oh air
yg manis!”, air juga meratap, “Di manakah para peminum?”

Dahaga jiwa kita ini adalah daya tarik Air, Ia me-
miliki kita dan Ia milik kita.

(Matsnawi III 4393-99).

Tentu saja, cinta dan ikatan persahabatan selalu datang dari kedua belah fihak. Dorongan hasrat dan
semangat berasal dari kedua arah. Karenanya, cinta pada Khalik atau pada makhluk bukanlah
sesuatu yg bersifat sefihak. Orang tidak akan pernah mendengar tepukan hanya dari sebelah
tangan, atau menari dengan hanya satu kaki. Dia mencintai mereka tidak pernah terpisah dari me-
reka yg mencintai-Nya, tidak juga Allah ridha terhadap mereka kecuali mereka juga ridha terhadap-Nya.
(Maktubat 98: 102/195)

Semua raja diperhamba oleh hamba-hamba mereka,
seluruh makhluk mencintai para pecinta mereka.

Hati para pemerkosa hati adalah penjara bagi me-
reka yg kehilangan hati.

Manakala engkau mengharapkan seorang pecinta,
ketahuilah bahwa dia juga yg dicintai, karena mudahnya bicara, dia adalah ini sekaligus itu.

Meski dahaga mencari air dari dunia, tapi air di
dunia juga mencarai dahaga.

(Matsnawi I 1736, 39-41)

Aku menyandang sebutan “pecinta”, tapi sungguh,
Dia tidak tahan tanpaku, cinta dari Kekasihku telah melampaui batas cintaku.

(Diwan 25028)

Orang-orang yg mencintai diri sendiri tidak akan
melakukan pencarian! Di dunia ini hanya ada satu pencari kecuali Dia.

(Diwan 4471)

Para pecinta pasti mencari Yang Dicintai, berlarian
di atas wajah dan kepala mereka bagai aliran air yg deras menuju gelombang-Nya.

Tapi, hanya Dia-lah Sang Pencari, dan kami ibarat bayang-bayang. Oh, kata-kata kami adalah
kata-kata Yang Tercinta!

Kami duduk dengan-Nya dan berkata, “Wahai Kekasih, di manakah Yang Tercinta?” Mabuk,
di jalan Yang Tercinta kami menyanyikan, “Di mana? Di mana?”

(Diwan 4650-51, 57)

Menakjubkan! Yang Tercinta bersamamu di tengah-
tengah pencarianmu! Dia memegang tanganmu ke mana pun engkau pergi.

(Diwan 27421)

Melalui pancaran Engkau, batu-batu menjelma
permata! Melalui pencarian Engkau, para pencari menemukan Yang Dicari!

(Diwan 32450)

Dia melakukan segala pencarian, meski gelar-Nya adalah “Yang Dicari”, Dia melakukan segala pe-
mujaan, meski gelar-Nya adalah “Yang Dipuja”.
(Diwan 30467)

Manakala hati telah lebur bersama-Nya, Dia tetap
ada; itulah yg difahami dari kata-kata-Nya, “Akulah Sang Pencari dan Yang Dicari”

(Diwan 13517)

Manakala engkau melihat cinta dalam dirimu sendiri, tambahlah ia supaya terus bertambah! Mana-
kala engkau melihat bekal di dalam dirimu sendiri, pencarianmu akan Dia, tambahlah itu melalui
pencarian! Karena “Dalam setiap perbuatan itu tersimpan berkah-berkah”. Jika engkau tidak me-
ninggalkannya, bekalmu akan meninggalkanmu.

Engkau tiada bedanya dengan tanah. Orang-orang mengganti tanah dengan memindahkannya dan
mengeruknya dengan sekop, lalu jadilah ia persemaian. Manakala mereka meninggalkannya,
akan mengeraslah ia. Karena engkau melihat pencarian dalam dirimu sendiri, datang dan pergilah!
Jangan bertanya, “Apa manfaatnya pergi?” Manfaat akan tampak dengan sendirinya. Manakala
seseorang pergi ke toko, tahulah ia apa gunanya, untuk memenuhi kebutuhannya. Maka Allah me-
menuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi, jika dia (hanya) duduk di rumah, hal itu berarti dia telah
mampu mencukupi diri, dan kebutuhan sehari-harinya tidak akan datang kepadanya.

Aku heran pada anak kecil yg menangis ini, sedang ibunya memberinya susu. Jika difikir-fikir,
“Apa gunanya menangis? Apa ia yg menyebabkan susu datang kepadanya?” – lalu ia tidak me-
nerima susu. Tapi kita tahu bahwa ia menerima susu dikarenakan tangisnya.

(Fihi ma Fihi 215/222)

Haruskah anak kecil tahu akibat tangisnya itu
terhadap hati?

Maka menangislah, meski engkau tidak tahu apa
hasilnya! Taman-taman dan sungai-sungai Firdaus yg kekal, lahir dari air matamu.
(Diwan 11090, 92)

Apakah dengan berjalan atau berlari, akhirnya
orang yg mencari akan menemukan apa yang dicari.

Sibukkan diri sepenuhnya dengan pencarian,
karena pencarian adalah sebuah petunjuk yang baik di atas Jalan!

(Matsnawi III 978-979)

Setiap orang yg lapar pada akhirnya akan men-
dapatkan makanan, akan padanya memancar matahari kebaikan.

(Matsnawi V 1755)

Jangan engkau melihat pada keindahan dan ke-
burukan bentukmu, tataplah Cinta dan Sasaran pencarianmu!

Jangan engkau melihat pada kerendahan dan
kelemahanmu, tataplah hasratmu, oh manusia terhormat!

Dalam kedaan apa pun, carilah! Carilah air tiada
henti, oh manusia dengan bibir kering!

Karena keringnya bibirmu menjadi saksi bahwa
akhirnya engkau akan menemukan sebuah mata air.

Keringnya bibir membawa pesan dari air, “Jika
engkau terus mencari, pasti engkau akan menemukanku”.

Pencarian adalah perbuatan yg diberkati, pencarian membunuh segala rintangan di tengah ja-
lan menuju Tuhan.

Pencarian adalah kunci dari sasaran-sasaran
kehendak, ia adalah prajuritmu dan kebebasan keterkungkunganmu.

(Matsnawi III 1437-43)

Entah engkau suci atau tidak, jangan lari! Karena
kedekatan dengan-Nya menambah kesucian.
(Diwan 7096)

Apa pun yg kau miliki, bukanlah hasil dari pen-
carianmu?

Pencarian-pencarianmu mengingatkanmu selalu
dan memberimu kabar baik.

Berusahalah supaya pencarianmu bertambah, ia
yg telah menanam dengan sungguh-sungguh akan memetik hasil yg berlimpahan.

(Diwan 3753-54)

Jika engkau seorang yg beriman, masukilah garis
pertempuran! Sebuah pesta telah dipersiapkan untukmu, di surga.

Tumpahkan air matamu dan bakarlah ia dalam
pencarianmu sepanjang malam, seperti lilin yang dipenggal oleh nyala api.

Tutuplah bibirmu bagi makanan dan minuman, se-
geralah menuju ke hidangan surga!

Jika engkau telah dibawa ke sana, tiada terduga!
Jangan engkau melihat pada ketidakmampuanmu, lihatlah pada pencarianmu!

Pencarian adalah simpanan tuhan di dalam dirimu,
karena setiap pencari itu selalu mendapatkan yg terbaik dari pencariannya.

Berjuanglah hingga pencarianmu
bertambah, sehingga hatimu meninggalkan penjara jasad ini.
(Matsnawi V 1727, 29-30, 33-35)

Apa pun tujuan dari hasratmu, melangkahlah!
Fanalah di dalam kekasihmu! Miliki bentuk dan sifat-sifat yang sama!

Jika engkau menginginkan Cahaya, persiapkan diri bagi Cahaya! Jika engkau ingin jauh dari-Nya,
jadilah orang yang hanya melihat pada diri sendiri, dan menjauhlah!

Dan jika engkau ingin keluar dari puing-puing
penjara, jangan berpaling dari Yang Tercinta, tapi bersujudlah dan dekatkan diri.
(Matsnawi I 3605-07)

Apa pun yg menjadikanmu tergetar, ketahuilah bahwa itu yg terbaik bagimu! Itulah sebabnya,
hati seorang pecinta lebih besar daripada Arsy Allah.

(Diwan 6400)

Allah akan memberi apa yg engkau cari. Di mana engkau gantungkan cita-cita, engkau akan me-
raihnya, karena “Burung terbang dengan sayap-sayapnya, tapi orang-orang yg beriman terbang
dengan cita-citanya”.

(Fihi maa Fihi 77/89)

Setiap orang berada dalam 18.000 dunia cinta dan keutamaan, setiap pecinta bergantung pada
keutamaan yg dicintainya. Manakala yg dicintai lebih lembut, tersaring, dan substansi yg agung,
maka sang pecinta menjadi lebih agung.

Burung siang pasti lebih baik dari burung malam, dalam arti yg sama cahaya lebih utama daripada
kegelapan, karena ia mencintai cahaya mayahari, sementara burung malam mencintai kegelapan.
(Maktubat 1:4/35)

Kebesaran cinta diukur melalui apa yg dicintai.
Oh pecinta yg miskin, termasuk golongan manakah dirimu!

(Diwan 27832)

Manusia bagai permata yg menentukan kadar nilainya sendiri, tiada Sanjar atau Qubad pernah
merasa bahagia menjadi seorang pemimpin!
(Diwan 26027)

**************************************************************

Diambil dari halaman 311-322, terjemahan buku “The Spiritual Teaching of Rumi”, karya William C. Chittick, 1983.
(terima kasih kepada kzam atas postingan awalnya dari milis yang kemudian saya copy-kan untuk dihidangkan di blog ini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: