September 28, 2008

Mengapa Saya Beri’tikaf?

Posted in Ramadhan-kan Hamba Ya Allah!! at 1:06 am by kuswandani

(berikut ini tulisan sahabat dan saudara saya, Muhammad Sigit Pramudya. Dan atas izinnya untuk dihidangkan di blog ini dg beberapa penyesuaian redaksi agar dapat di “santap” oleh pembaca lebih banyak lagi sehingga keberkahannya pun bertambah, insya Allah. semoga hidangan ini memberi makna dalam bagi kita semua….) ilustrasi gambar saya unduh dari http://kaffah4829.wordpress.com/2006/10/11/itikaf/

******
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa itikaf.
Sudah pamitan sama anak dan istri, sampai jumpa di Idul Fitri nanti, insya Allah. Sudah berbackpack, dengan pakaian yg cukup hingga lebaran.

Semoga sampai di Idul Fitri, dengan hati baru, bukan barang baru (ini motto yg sedang beredar di perempatan2 jalan Dago, yang disponsori oleh BaBe – Barang Bekas –> toko junkyard). Tendensius, tapi lucu.

Dan lucu juga setelah mengamati itikafnya itu sendiri. Ternyata bagi banyak umat Islam, itikaf itu bermakna di masjid bersama-sama. Jadi kalo tidak bersama-sama, tidak rame, tidak ngariung, bukan itikaf namanya.

Makanya ketika ada beberapa beberapa jamaah yang datang ke sebuah Masjid kecil di Dago dengan niat beritikaf, tapi begitu menyaksikan tidak banyak orang yang hadir, maka dia membatalkan itikafnya. Ah… kalo sendirian-mah itikaf di rumah aja lah…

Lho… sejak kapan ada itikaf di rumah?
dan sejak kapan itikaf harus ramai2?

Bukankah justru itikaf itu bertujuan membangun kesendirian kita dengan Allah swt. Semakin sepi, semakin baik mestinya. Atau kalaupun masjid banyak orang, hati kita mesti sepi dari orang2 banyak itu.

Rasulullah saw dan para sahabat, meski sama2 beritikaf di masjid, tapi tidak mengisinya dengan aktivitas ‘rame-rame’ seperti ngobrol ngalor ngidul. Mereka justru asyik bermunajat, sholat, baca Al-Qur’an, dzikir, dan berbagai aktivitas sendiri lainnya.

Bahkan diriwayatkan di beberapa hadits, bahwa Rasulullah saw jadi berubah di 10 malam terakhir, sehingga seolah tidak mengenal lagi sahabat2nya.

Tapi, memang akhirnya tergantung kebutuhan kita kepada Allah. Apa memang kita sudah butuh Dia sebagaimana Dia adanya? Kebanyakan kita, mungkin memang belum butuh bersendirian, dan berasyik masyuk dengan Allah. Mungkin sungkan, grogi, atau gak kebayang caranya. Gak kebayang, gimana sih sendiri dengan Allah swt itu?

Kehidupan dunia yang padat, rutinitas yang memasung seluruh waktu hidup kita, tuntutan beramal yg seakan mengejar2 kita, keluarga yang hangat dan membutuhkan kehadiran kita, jadwal mudik, mungkin tanpa disadari membuat kita lalai bahwa kelak kita akan kembali ke haribaan Allah swt, yang sunyi dan senyap dari gemuruh dunia tadi.

Makanya munajat, uzlah, itikaf, dsb nya itu semestinya jadi oase bagi khususnya para pencari Allah.

Alhamdulillah, itikaf di bilangan Dago, di mesjid kecil ini sungguh sunyi dan damai. 🙂

Bandung, 18 Okt 2006

******
Tambahan: Ternyata saya juga punya tulisan berikut.

Kenapa saya Itikaf?

Tentu saja alasan pertama adalah ridlo Istri dan anak-anak
Merentang alasan untuk ini. Ingin merasakan seperti apa ber-uzlah, ber-khalwat sendiri saja dengan Allah, mungkin gagasan besarnya. Tapi prakteknya, saya hanya ingin tau, apa saya kuat untuk ber-itikaf dalam arti sebenarnya. Yaitu berada di masjid 24 jam dalam sehari, dan 10 hari dalam ramadhan. Dan berada di masjid, itu tidak hanya berarti fisiknya, tapi juga fikiran dan hatinya. Bagi saya bisa bekerja dimanapun selama ada notebook dan jaringan akses, berdiam di masjid secara fisik tidak masalah sebenarnya. Tapi mendiamkan fikiran dan hati hanya ada di masjid, untuk munajat kepada Allah, itu benar-benar masalah. Saya tidak yakin akan mampu, tapi benar ingin mencobanya. Ingin mengukur diri, seberapa mampu saya duduk tenang hanya utk ibadah.

Karena ada kisah seorang abid yang hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Sepanjang waktu dia selalu sholat, tanpa sempat mengurus dunianya. Dan untuk itu, Allah berikan pada abid tersebut makanan berubah buah yang keluar dari tangkainya setiap pagi dan sore. Abid ini yang kemudian berdebat dengan Allah, tentang alasannya dimasukkan surga oleh Allah. Allah berkata, masukkan ke surga karena RahmatKu, sedang Abid tsb berpendapat bahwa dia masuk surga karena ibadahnya.
Hingga akhirnya Allah pun mengeluarkan TimbanganNya, yang kemudian membuktikan bahwa pahala seluruh ibadah sang Abid tidak lebih berat dari sebutir biji mata yang Allah berikan. Maka akhirnya Abid tersebut ‘mengakui’ bahwa Rahmat Allah-lah yang menyebabkannya masuk surga.

Biasanya kisah ini disampaikan untuk jadi alasan kenapa kita tidak harus jadi abid yang seperti itu. Bahwa dunia kita adalah dunia yg berbeda, dimana ibadah bisa mendarat di berbagai aktivitas kehidupan manusia. Tentu saja saya tidak sedang menolak itu, tapi saya hanya sedang ingin merasakan saja, dan mengagumi mungkin, kekuatan ibadah orang-orang terdahulu. Yah seperti kita tahu, bahwa Allah banyak
memberikan rukhsah (keringanan) bagi kita umat Islam. Sedang umat Musa a.s. dulu, bahkan diberi beban syariat sholat 50 kali setiap hari. Saya bayangkan, wah itu mah udah gak sempat bekerja apa-apa lagi. Maka sungguh mengagumkan kekuatan ibadah mereka.

Jadi itikaf kali ini, semacam napak tilas ttg kekuatan ibadah orang-orang terdahulu.

Definisi itikaf sendiri, sudah bergeser banyak tampaknya. Bahkan masjid-masjid di Surabaya, sudah menyediakan akses wifi bagi para peserta itikaf-nya. 🙂
Betapa orang mudah sekali terjebak pada definisi lahir dari syari’at.
Mentang-mentang itikaf adalah berdiam dimasjid, maka yang dia lakukan adalah memindahkan kantornya, pekerjaannya, ke masjid. Dan pada akhirnya, tetap saja dia tidak menyediakan waktu khusus dan spesial bagi Allah selain dari yang biasa dia berikan sehari-hari.

Maka di itikaf kali ini, saya juga melekatkan harapan semoga Allah menjadikan beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT menjadi hal yang indah dan nikmat dalam kehidupan ini. Lebih mengasyikkan dari nonton, main game, browsing, nye-krip (bikin program), bisnis, baca koran, bahkan hubungan intim suami-istri. Saya ingin tahu, bagaimana Allah swt menjadikan ibadah yg membosankan seperti sholat, dzikr, tadabbur qur’an, dsb itu bisa lebih indah dari hal-hal yg syahwatiyyah tadi.

How it can be?

Di Al-Qur’an dinyatakan, orang-orang yang lebih mencintai kehidupan akhirat dari kehidupan dunia? Saya sejak dulu bertanya2, bagaimana itu bisa terjadi? Faktanya saat ini kita masih di doktrin ttg keindahan akhirat. Kita masih jauh dari mencintai akhirat, apalagi membandingkannya dengan kecenderungan kita terhadap dunia. Jujur
sajalah, jalan-jalan, browsing, ngobrol ngalor-ngidul, dsb masih lebih indah dari aktivitas ukhrawi (keakhiratan) seperti ibadah dsb. Betul? Maka koq Al-Qur’an bisa bilang, bhw ada kondisi dimana kehidupan Akhirat itu jadi lebih menggairahkan dari pada kehidupan dunia yang semarak dan hingar-bingar ini. Kesunyian, bagaimana mungkin bisa lebih mengasyikkan ketimbang keramaian?

Bagaimana kita bisa menanti-nantikan waktu sholat, seperti kita menanti-nantikan waktu berbuka puasa.

Bagaimana kita bisa menanti-nantikan datangnya Ramadhan, seperti kita menanti-nantikan malam pertama.

Sungguh kita butuh Allah, untuk merubah sistem persepsi kita ini.

Sementara, kita cuma punya waktu beberapa tahun lagi untuk menikmati semua keramaian dunia, sebelum akhirnya kita akan mengisi ribuan tahun kehidupan kita selanjutnya dengan kesunyian. Hingar-bingar dunia yg selama ini jadi ‘bahan bakar’ kehidupan kita, sebentar lagi habis apinya. Maka setelah itu, dari mana kita bisa dapatkan api lagi? Di alam barzakh, kita tak lagi punya jasad yg bisa kita perintahkan untuk mengakses dunia. Maka sungguh repot kalo kita selama ini hanya bisa
mengakses dunia. Sunyilah hidup kita, kelamlah Barzakh kita. Jangankan internet, bahkan dunia pun padam.

Maka saya ber-itikaf, dengan niat untuk mencoba dan latihan menikmati hidup hanya bersama Allah. Mencari gairah dibalik ibadah dan hukum-hukum dasarNya. Bukan berarti itu tidak bisa dilakukan dalam hingar-bingar dunia, tidak. Tapi hanya ingin mencoba menikmati syariat dasar, ibadah makhdoh tanpa tafsir macam-macam. Logikanya bagaimana kita bisa bersama Allah dalam urusan yg kompleks seperti dunia kita, bila dalam syariat dasar dan ibadah-ibadah makhdoh kita belum merasakan kebersamaan denganNya.

Semoga Allah meridlai, dan membukakan sekelumit saja keindahan akhirat ini, agar bisa jadi memori jiwa saya. Bahwa memang kampung akhirat itu, lebih layak untuk kita harapkan ketimbang dunia. Bahwa surga itu, memang lebih menggairahkan ketimbang dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: