July 22, 2008

Taubata-n-Nasuuhaa… sulitkah?

Posted in belajar merenung at 7:28 am by kuswandani

pesan indah terungkap dibalik perintah Sang Maha Lembut….
“Kembalilah kalian kepada Allah dengan taubata-n-nasuuha….semoga Rabb Sang Pemelihara akan menghapus sayyi’ah (keburukan) kalian, dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, ….. ( QS 66:8 )

taubata-n-nasuuha mengandung dua kata, taubat dan nasuha…taubat memiliki makna kembali, seseorang yang bertaubat adalah dia yang sedang kembali, kembali ke jalan Allah, mencari Allah kembali, seseorang yang berjuang keras untuk bisa mengenal Allah kembali…

lantas, kenapa taubat bisa dimaknai “jalan kembali”, apakah seseorang pernah mengenal-Nya? mengenal jalan-Nya? pernah berjalan bersama-Nya?
hakekatnya setiap diri manusia sebagai entitas jiwa, dia sudah pernah berjumpa dengan-Nya, berjanji di hadapan-Nya, dengan sebuah persaksian khusus, sebuah dealing antara Sang Pencipta dan Sang makhluk ciptaan… sebuah perjanjian dan pengembanan amanah dari Sang Maha Mengenal kepada hamba-Nya yang dicipta dan di beri takaran daya jangkau unik satu sama lain…amanah spesial dalam setiap diri sang hamba tentang misi apa yang akan diembannya untuk dijalankan di muka bumi sesaat ini… (QS 7:172)

Namun sayang sungguh sayang, ketika jiwa dan ruh manusia disematkan dalam jasad setiap janin, lantas lahir dalam bentuk bayi, tumbuh menjadi anak kecil, remaja, dewasa….. mereka mulai mengenal nilai kebaikan dan keburukan, mulai merasakan akibat sebuah kebaikan dan keburukan, dan mulai pula unsur keburukan melumpuhkan kemurnian jiwanya… membuat lupa dan tidak sadar elemen jiwa nya, membuat sang jiwa yang di dalamnya terdapat hati nurani menjadi tak berkemampuan apapun untuk mengingatkan jasad dan sang pikiran tentang pengalaman masa lampaunya ketika mereka berhadapan dengan Rabb Azza wa Jalla… Nilai kebaikan universal yang ditanamkan dalam jiwa setiap manusia manapun, dalam agama manapun, peradaban di mana pun, mulai tidak lagi bisa diwujudkan dalam tindakan kesehariannya… pikiran liar yang menguasai jasad manusia lebih cenderung ingin mengungkapkan, ingin mengeluarkan apa yang menjadi keliarannya… apalagi ketika pikiran itu membentuk keyakinan, tindakan hingga penghakiman atas apa yang dilakukan orang lain…

Bayi yang pada awal kelahirannya, sejalan dengan fitrahnya, ketika beranjak dewasa, mulai memakai topeng demi topeng kehidupan berikutnya yang dipasangkan awal mula oleh orangtuanya, lalu lingkungannya, lalu dirinya sendiri pun mulai berkreasi mandiri, membentuk ratusan ribu topeng berikutnya… dan akhirnya, dan akhirnya, lupalah ia dengan diri murni nya, dengan jati diri sebenarnya dengan siapa dia, darimana dia, hendak kemana dia…..

walaupun hati nurani dalam jiwa seseorang senantiasa berteriak-teriak, memohon untuk bisa dilihat dan diajak kerjasama, memohon agar dapat membangun perenungan demi melahirkan kesadaran diri. ketika sang topeng itu jauh lebih berkuasa… maka berjalan teruslah ia sesuai dengan kehendaknya… sang jiwa, sang nurani makin terpuruk, makin lemah makin terdiam…

Akirnya terpuruklah semakin dalam setiap diri manusia dalam ketidakmengertiannya akan tujuan hidup sebenarnya… sementara itu, sebagian kecil manusia lain terus berjuang mengenal jati dirinya, mengenali dan menggali dirinya hingga menemukan kemana seharusnya hidupnya diarahkan…

maka, kesimpulan besarnya, ketika seseorang mengalami kesadaran baru tentang jalan hidup yang selama ini ditempuh tidak seperti yang seharusnya nuraninya inginkan… bahwa makna hidup yang disadari ini bukan seperti apa yang selama ini dibayangkan… mereka mengalami sebuah kesadaran baru bahwa mereka harus kembali menemukan jalan sebenarnya…. itulah taubat…itulah makna kembali…
kembali mencoba menemukan jalan yang seharusnya mereka tempuh…
kembali meluruskan niat untuk belajar kembali menemukan-Nya, dengan menempuh jalan menuju-Nya, jalan yang telah Allah ajarkan kepada para kekasih-Nya… jalan apakah itu? Jalan yang lurus menuju-Nya… itulah makna shirath-al-mustaqim, yang senantiasa setiap muslim mengucapkannya sehari semalam minimal 17 kali….
artinya, ketika seseorang ingin bertaubat, seseorang sedang ingin kembali menempuh jalan-Nya.
Allah pun menuntunnya hingga kelak mereka akan dapat kembali merasakan nikmatnya ada di jalan itu..
jalan yang telah berhasil ditempuh oleh para Nabi, para Shiddiqin (semisal Abu Bakar ash-Shiddiq), syuhada (jalannya orang-orang yang syahid di medan perang fisik atau medan perang batinnya), dan jalannya kaum Shalihin… (QS 4:69)

maka, tatkala seseorang telah berhasil menempuh jalan itu kembali… dia telah bertaubat dengan kualitas taubatan-nasuha…. taubat yang murni, taubat yang paripurna….

sulitkah?
ini pertanyaan inti…
sulit bagi yang belum menemukan celah masuknya.. apalagi hanya dengan mengandalkan pikirannya saja…
tapi mudah bagi yang mendapatkan kemudahan dari-Nya.. mudah bagi yang senantiasa memohon kemudahan dari-Nya… jalan ini butuh ilmu, butuh pengetahuan yang benar, pengetahuan yang melahirkan pemahaman, pemahaman yang melahirkan kesadaran, kesadaran yang melahirkan sebuah perenungan demi perenungan….

nah, minimal, kesulitan pertama adalah bagaiamana kita membangun kesemangatan untuk menemukan pengetahuan yang benar….?

mari kita temukan pada bab berikut nanti….
Insya Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: