July 18, 2008

MENGAPA KEJAHATAN MUDAH MUNCUL?

Posted in belajar merenung at 7:00 am by kuswandani

Kejahatan merupakan bagian dalam kehidupan yang akan selalu hadir menghadang setiap umat manusia di manapun dan kapan pun peradaban itu muncul. Kejahatan menjadi sesuatu keadaan yang sangat dibenci oleh sebagian pihak, namun menjadi satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh pihak lainnya, karena pilihan itu yang membuat dia dapat meraih setiap apa yang dikehendakinya, dan hal itu menguntungkannya secara materi dan kepuasan pribadinya.

Kalau kita hanya menyandarkan diri pada pendapat masyarakat manusia secara luas, baik kepada mereka yang memang biasa berbuat kejahatan ataupun sebaliknya, maka tentunya kita tidak akan menemukan kesepakatan secara utuh bahwa kejahatan itu adalah sesuatu yang merusak, merugikan dan melahirkan ketidak seimbangan hidup, melahirkan penderitaan sebagian pihak yang menjadi objek sebuah kejahatan.

Tapi sebaliknya kalau nurani yang berkata, akan ditemukan sebuah kesepakatan tentang sisi buruk sebuah kejahatan…

Itulah Allah Sang Pencipta Alam Semesta umumnya dan manusia khususnya mengaruniai setiap bayi yang baru lahir sebuah kesucian, dan fitrah dengan seperangkat potensi kebaikan yang sama. Allah juga menganugerahi setiap manusia sebuah naluri yaitu keinginan untuk berbuat baik, dan membenci sebuah kejahatan, serta naluri yang lebih tinggi lagi, yaitu keinginannya untuk mengenal Tuhannya, dan mengabdi kepada-Nya.

Al-Quran surat Adz-Dzariat ayat 60 menegaskan bahwa tidaklah Allah ciptakan jin dan manusia itu melainkan untuk mengabdi pada-Nya. Jadi pada dasarnya manusia dan jin memiliki sebuah tujuan sama dalam penciptaannya yaitu sebagai pengabdi kepada Sang Pencipta.

Namun sayang sekali, sebagaimana diungkap oleh kata-kata suci Nabi Saw, “Setiap bayi yang lahir berada dalam kesucian, maka orangtuanyalah yang me-Yahudi-kan, me-Nashrani-kan dan me-Majusi-kannya.” Bayi yang suci lahir dalam keadaan putih bersih, maka orangtuanyalah yang memiliki andil sangat besar dalam menentukan masa depan sang bayi, apakah dia akan dididik sebagai seorang yang membenci kejahatan atau justru di didik –secara tidak disengaja- menjadi manusia yang turut memperbesar tindakan kejahatan.

Saya lebih memahami bahwa pengertian hadis di atas tidak bisa hanya dipahami dengan pandangan lahiriah belaka, namun lebih mengarah pada pemahaman lain yang lebih mendasar. Penjelasan Nabi Saw.

Bahwa anak bisa saja di Yahudi-kan, di Nashrani-kan dan di Majusi-kan lebih ke arah sebuah penanaman karakter mereka, bukan sekedar pemahaman garis agama secara formal saja. Setiap orang tua bisa saja beragama Islam secara formal, tetapi berapa banyak anak-anaknya yang muslim memiliki karakater yang dimiliki oleh bangsa Yahudi dan Nashrani serta Majusi.

Karakter Yahudi memiliki sisi yang sangat menonjol dengan aspek yang sangat mencintai duniawi, dan karkter yang menyertainya adalah ketakaburan, kemalasan, kelicikan dalam bertindak, kecerdasan yang dimanfaatkan untuk kepentingan dunia dan perolehan harta demi kepentingan mereka saja, iri, dengki, emosional yang tidak terkendali, bangga diri atau ujub, ria, dan segala keburukan dari dalam diri yang tidak nampak secara lahiriyah. Sebuah potensi keburukan yang apabila ditindak lanjuti dengan perbuatan melahirkan kejahatan demi kejahatan yang merugikan tatanan masyarakat.

Juga syahwat atau dorongan yang bersifat keinginan memenuhi kebutuhan material, keinginan makan yang berlebihan, menumpuk harta, kerakusan duniawi, gila jabatan dan termasuk syahwat yang berkaitan dengan dorongan seksuil antar lawan jenis atau sesamanya. Ketika orang tua secara tidak sadar mendidik anak-anak mereka untuk bersikap materialistik, segala sesuatu akan beres apabila ada uang, maka karakter Nasharni tengah ditanamkan secara bertahap ke dalam diri anak tersebut. Dan akibat buruk yang terjadi ketika dia telah beranjak dewasa, dengan karakter gila hartanya, dia rela berbuat kejahatan apa pun asalakan dapat memenuhi kebutuhan syahwatnya berupa penumpukkan harta, atau kejahatan seksual dan lain-lainnya .

Karakter Nashrani lebih dikenal sebagai karakter yang berkaitan dengan upaya agar dunia dihilangkan dalam kehidupannya, semua hidup hanya diserahkan pada Tuhan yang dia pandang membutuhkan seorang hamba yang sepenuhnya mengabdi total… itulah bentuk kerahiban….

Sedangkan karakter Majusi lebih saya pahami sebagai karakter berelemen api, sebuah elemen yang membentuk alam Iblis laknatullah, hidup hanya untuk berbuat kerusakan, anti pengabdian pada Allah, mengobarkan permusuhan, dll dll…

Itulah yang terjadi dalam sebuah tatanan masyaraat Indonesia seksarang yang keadaannya carut-marut, dan gonjang-ganjing. Masyarakat Muslim terlihat saling menghancurkan, saling memaki, saling mengkambinghitamkan kesalahan. Satu sama lain saling berbuat kejahatan dengan gayanya dan versinya msaing-masing, tanpa sedikitpun di antara mereka merasa telah berbuat kejahatan yang tersembunyi.

Kejahatan yang justru kerusakannya lebih meluas lagi. Kesuksesan syetan baik dari kalangan jin ataupun manusia –sebagaimana disebutkan secara eksplisit dalam surat An-Naas- adalah menjadikan manusia yang menjadi objek godaan mereka, agar memandang baik perbuatan buruk yang mereka lakukan.

Demikianlah yang terjadi sampai detik ini. Manusia Indonesia telah berubah menjadi manusia yang biasa berbuat kejahatan tanpa disadari keburukannya. Minimnya kesadaran beragama menjadikan mereka pun tidak pernah merasa perlu untuk selalu berintrospeksi akan kekurangan dirinya. Hawa Nafsu yang sangat mendominasi banyak manusia indonesia menjadikan kehormatan, kebanggaan diri, serta kelicikan menjadi makanan sehari-hari yang mereka butuhkan.

Dalam kondisi seperti inilah, ketika penyakit bangsa Indonesia telah cukup akut, penyakit menular yang tengah mewabah dan berjangkit ke setiap kalangan masyarakat, penyakit diri yang sangat besar, Hawa Nafsu dan Syahwat yang menjadi virus mematikan bangsa yang kini telah sukses membuat masyarakat dunia menilai terbalik terhadap bangsa yang dulunya adalah ramah, selalu bergotong royong, adat timur yang lemah lembut dan sifat baik lainnya, sungguh sangat diperlukan sebuah terapi massal, pengobatan yang menyeluruh ke setiap tatanan masyarakat. Penyakit yang bersumber dari dalam dan harus disembuhkan pula dari dalam.

Maka agama dan pemahaman yang benar tentang agamalah nampaknya bisa menjadi obat paling efektif dalam menyembuhkan penyakit menahun ini.

Allah menjamin setiap saat bahwa pada saat kita telah berpengetahuan baik tentang agama, kemudian berusaha terus memahami dengan benar dan mengaplikasikannya secara menyeluruh, maka Dia yang akan menurunkan sebuah rasa ketenangan dalam menjalankan hidup, pintu rizqi halal dan thayyib yang terbuka, tatanan masyakat yang tertata rapih, dan akhirnya akan terbentuk sebuah generasi yang hebat dengan landasan agama keberserah dirian yang utuh serta keyakinan yang kuat di dalam diri setiap individu bahwa Allah beserta mereka kemana pun mereka menghadap.

Mudah-mudahan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: