July 18, 2008

HUBUNGAN ANTARA TAKDIR DAN MUSIBAH

Posted in Telaah ayat dan hadis mulia at 6:42 am by kuswandani

Ditegaskan didalam ash-shahih dari Umm Habiibah bahwa Rasulullah Saw. mendengarnya sedang berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, senangkanlah aku dengan suamiku, Rasulullah; dengan saudaraku, Mu’awiyah; dan dengan bapakku, Abu Sofyan.” Maka Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Engkau memohon kepada Allah tentang rezeki yang telah dibagi dan ajal yang telah ditetapkan. Tidak akan disegerakan sedikitpun darinya sebelum waktunya dan tidak pula diakhirkan sedikitpun darinya sesudah tiba waktunya. Kalau engkau memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu daari siksaan di dalam kubur dan siksaan di dalam neraka, maka Allah adalah pemberi pertolongan.”

Shadr ad-Diin al-Qunawi di dalam bukunya, Pancaran Spiritual, telaah 40 hadis sufistik, menjelaskan bahwa hadis di atas adalah hadis yang cukup sulit untuk kita pahami, sebagaimana dijelaskan pula dalam hadis yang lain, ketika Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap sesuatu memiliki qadha dan qadar hingga orang lemah dan orang cerdas.” Tidak ada seorang pun di antara para ulama yang berbeda pendapat dalam hal bahwa ketentuan qadha dan qadar adalah mencakup setiap sesuatu dan meliputi seluruh maujud (segala yang ada) dan aspek-aspeknya berupa sifat, perbuatan, keadaan dan sebagainya. Jadi, apa perbedaan sesuatu yang dilarang Nabi Saw. untuk didoakan dan anjuran untuk mencari keselamatan dari siksaan neraka dan siksaan kubur?

Kita ketahui bahwa hal-hal yang ditakdirkan itu mencakup dua aspek, yaitu: aspek yang khusus mengenai hal-hal universal dan aspek yang khusus mengenai hal-hal parsial. Hal-hal universal yang dikhususkan bagi manusia telah dikabarkan oleh Nabi Saw. bahwa hal tersebut terbatas pada empat hal saja, yaitu umur, rezeki, ajal serta kesengsaraan dan kebahagiaan. Dan ditambah dengan persoalan jodoh pun berada di antar empat hal tersebut.

Di dalam hadis tentang penciptaan janin, beliau bersabda, “Pada bulan keempat malaikat datang kepadanya, lalu meniupkan padanya ruh. Dia bertanya, ‘Wahai Tuhanku, apakah dia laki-laki atau perempuan? Sengsara atau bahagia? Apa rezekinya? Apa amalannya? Apa ajalnya?’ Maka Al-Haqq mendiktekan dan malaikat itu menuliskan. Beliau bersabda, “Tuhanmu mengisi penciptaan, akhlak, rezeki, ajal, dan kesengsaraan atau kebahagiaan.”

Di dalam hal-hal parsial Allah Swt. berfirman, “Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu wahai manusia dan jin.” (QS Al-Rahmaan [55]: 31).

Oleh karena itulah maka aspek-aspek parsial itu tidak terbatas maka tidak tertentu sebutannya, Kemunculan sebagiannya dan perolehannya oleh manusia kadang-kadang bergantung pada sebab dan syarat. Barangkali doa, usaha, dan muamalah adalah termasuk bagian darinya. Artinya, hal itu tidaklah ditentukan perolehannya tanpa adanya syarat itu, berbeda dengan empat hal pertama. Bagi manusia dan makhluk lain yang biasa bekerja keras, di dalam empat hal itu tidak ada tujuan, kerja keras, dan usaha. Melainkan hal itu merupakan akibat qadha dan qadar dari Allah berdasarkan ilmu-Nya yang terdahulu dan telah tertentu secara azali dan abadi menurut keterkaitan dengan objeknya.
Inilah perbedaan antara apa yang dilarang Nabi Saw. untuk didoakan dan yang dianjurkannya.

Maka marilah kita kaji persoalan ini. Telah kita jelaskan bahwa di dalam hal itu terdapat ilmu dan rahasia. Jika kita perhatikan, niscaya akan kita ketahui sejumlah rahasia dari perintah, larangan, nasihan, anjuran, ancaman, dan sebagainyaa. Allah mengatakan yang benar dan menunjukki siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.
Pert
anyaan pertama yang timbul dalam pikiran kita adalah, apa sebenarnya pengertian dari qadha dan qadar ? saya pribadi berpendapat bahwa qadha bermakna, ketetapan yang digariskan pada diri manusia yang berbeda antara satu makhluk dengan yang lainnya. Sedangkan qadar atau bisa kita pahami dengan kadar, ukuran, kapasitas dan potensi manusia yang telah Allah berikan, yang semua ini berkaitan erat dengan qadha atau ketetapan yang telah Allah berikan kepada sang hamba. Bagaimana mekanisme ketetapan Allah itu diterapkan dalam diri manusia secara universal,

Berikut ini kisah perjalanan hidup Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib r.a. dia berkata: Ketika kami mengikuti sebuah pemakaman jenazah di Baqi’ al-Gharqad, saat itu Nabi Saw. duduk sedang kami mengelilinginya. Kemudian beliau memegang tongkat kecil yang digunakannya utuk mengorek-ngorek tanah lalu bersabda, “Tiada seorang pun di antara kalian, bahkan tidak ada suatu jiwa manusia melainkan sudah ditentukan tempatnya di sorga atau neraka, nasib baik atau celaka.

Salah satu sahabatnya bertanya, “Ya Rasulullah, apakah tidak lebih baik kita menyerah saja pada ketentuan itu dan tidak usah beramal? Maka jika ia beruntung, akan sampai kepada keuntungannya, dan bila celaka maka akan sampai pada binasanya. Maka Nabi Saw. bersabda, “Adapun mereka yang telah tercatat sebagai orang yang beruntung, maka akan dimudahkan jalan kepada keberuntungannya, sedangkan mereka yang menjadi orang yang celaka, maka akan dimudahkan pula pada jalan kecelakaannya.

Kemudian Nabi Saw. membaca ayat suci,
‘Adapun orang yang suka berderma dan bertakwa dan membenarkan kebaikan, maka akan Kami mudahkan baginya segala amal kebaikan. Adapun orang yang bakhil dan merasa kaya, maka akan Kami mudahkan baginya jalan yang sempit lagi sukar…(QS Al-Lail [92]: 5 – 10).

Memahami hadis di atas, tidak berarti kita hanya pasrah saja terhadap ketentuan Allah tersebut, karena ketika kita lahir, kita sama sekali buta dengan qadha atau ketetapan Allah tersebut! Apakah kita termasuk ahli surga atau ahli neraka? Penentuan kita sebagai penghuni surga atau neraka, berada pada dataran pengetahuan Allah semata! Kita hanya mampu memahami tanda-tanda kecilnya saja dari ketetapan Allah tersebut.

Pada tahap awal kehidupan kita pun, Allah tidak menjelaskannya kecuali hanya diberi kebebasan untuk memilih antara dua jalan. Jalan kesesatan atau jalan petunjuk….

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah mereka yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya…” (QS Al-Syams [91]: 8 – 10).

Di sinilah garis kebebasan manusia berjalan. Akal dan hati nurani yang akan memutuskan jalan mana yang akan kita tempuh, apakah jalan kebaikan atau sebaliknya jalan keburukan yang selalu kita capai.

Dalam dataran ini pula ketika kita berada dalam kebutaan tentang jalan, kita akan menggantungkan sepenuhnya pada Dia yang Maha Tahu, dan memberikan jalan yang Dia ridlai, inilah apa yang kita sebut dengan shiratal mustaqim. Allah pun akan memberikan jalan-Nya sesuai dengan seberapa besar perjuangan sang hamba dalam mendekati Dia.

Maka pada hari perhitungan nanti, akan kita temukan sebuah kesepakatan yang tidak terelakan lagi. Sebuah kepastian dan ini yang menunjukkan ke-Mahatahuan Allah Swt. akan masa lalu dan masa depan hingga akhir zaman nanti. Sebuah keniscayaan bahwa pastilah keadilan Allah akan berjalan. Apa yang manusia lakukan di muka bumi dimana mereka yang berkehendak penuh, baik keburukan atau pun ketakwaan, pasti akan berkesesuaian dengan ketetapan yang telah digariskan pada usia 4 bulan kehamilan bayi!

Dalam sisi inilah Allah Mahatahu bahwa seorang hamba “A” yang telah ditetapkan di alam lahir sebagai seorang ulama besar, dia akan menjalankan kehidupannya pun sejalan dengan arah ketetapan tersebut, dimudahkan pada proses menjadi ulama dan sebaliknya akan dipersulit untuk menjadi seorang penjahat.

Pada tataran kehidupan dunia, Allah memberi kebebasan kepada sang hamba tersebut untuk berbuat sekehendaknya sesuai dengan kapasitas atau kadar akal yang dia miliki. Kalau pun ada peran Allah di sana, itu bergantung pada kedekatan sang hamba untuk bertaqarrub dengan Sang Pencipta, dan mohon bimbingan untuk dimudahkan pada misi hidup dan ketetapan yang telah Allah gariskan di alam azalinya.

Dalam hadis yang lain lebih tegas lagi Rasulullah menjelaskan tentang persoalan ketetapan dan kadar hamba Allah. Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Imran bin Hushain r.a. berkata,

“Apakah sekarang ini sudah diketahui mana ahli surga dan ahli neraka?” Jawab Nabi Saw. “Ya!” Lalu ia bertanya kembali, “Lalu untuk apakah orang beramal?” Jawab Nabi Saw., “Tiap orang beramal untuk apa yang telah diciptakan Allah baginya, atau untuk mencapai apa yang dimudahkan oleh Allah baginya.”

Dari beberapa penjelasan hadis dan ayat Alquran di atas kita dapat memahami bahwa Allah telah menetapkan qadha-Nya yang tidak bisa kita rubah, demikian pula dengan kadar yang telah Allah anugerahkan kepada kita, harus kita syukuri apa adanya.

Namun yang harus kita pahami bahwa takdir yang telah Allah tetapkan itu haruslah kita cari, Kita tidak diperkenankan untuk menyerah kepada ketentuan Allah, sebagaimana dilakukan oleh kaum jabariyah, tapi justru kita harus mencari apa sebenarnya ketetapan yang telah Allah gariskan kepada kita, karena kita benar-benar tidak diberi pengetahuan sedikitpun oleh Allah ketika kita hidup, tapi kita sendiri yang harus berjuang untuk menemukannya dan mendapatkan penjelasan tentang takdir kita tersebut.

Dan Rasulullah pun menjelaskan apa yang semestinya dilakukan, yaitu sebenarnya kemudahan apa yang telah Allah kadarkan buat kita? Kita harus berjuang untuk menemukan kemudahan dalam hidup kita itu sebenarnya apa, maka kemudahan itulah yang akan mengantarkan kita pada takdir Allah.

Demikian pula kalau kita tarik pada persoalan misi hidup manusia di muka bumi, sebagai khalifah, sebagai pemakmur bumi, sebagai saksi Allah, itu semua berkaitan erat dengan konsep pemakmuran bumi sesuai dengan kemudahan yang kita peroleh dari Dia Sang Pencipta.

Sehingga kalau kita dimudahkan dalam bidang teknologi misalnya, kita akan bisa menjadi seorang khalifah dalam urusan teknologi, sebagai pemakmur bumi dalam urusan tersebut, dan otomatis kita juga dapat menjadi saksi akan ke-Mahabesaran Allah pada aspek teknologi yang kita jalankan, dengan energi yang seminimal mungkin karena Allah telah memudahkan bekerja di bidang tersebut, dan hasil yang kita capai pun akan maksimal. Inilah konsep misi hidup yang berkaitan erat dengan qadha dan qadar yang telah Allah tetapkan buat kita.

Dan kaitannya dengan musibah, bahwa ada bentuk musibah yang memang sudah ditetapkan oleh Allah, tapi juga ada musibah yang terjadi akibat perbuatan diri sendiri. atau menurut pendapat lain disebutkan bahwa ada tiga jenis ujian, dilihat dari perbuatan manusia atau apa yang telah ditetapkan kepada manusia:

1. Yang pertama, adalah Allah menurunkan musibah sebagai bentuk ujian. Menguji ketahanan seorang hamba, apakah dia benar-benar bergantung hanya kepada Allah tidak. Menguji dia agar kuat dalam tempaan kesulitan dan kepayahan. Agar dia selalu merasa kecil dan akhirnya selalu membutuhkan kehadiran Sang Maha Kuasa.

2. Kedua, adalah peringatan. Agar seorang hamba lebih berhati-hati terhadap masa depannya, karenanya dia diingatkan sedini mungkin akan akibat keteledoran atau akibat ketidak hati-hatiannya dalam menjalankan hidup.

3. Bentuk adzab. Kadang ketika manusia lalai dan akhirnya melakukan sebuah dosa, maka atas kemurahan-Nyalah Allah memberinya musibah sebagai kafarat pembersih dosa yang telah dia lakukan.
Oleh karena itu, bagi mereka yang merindukan perjumpaan dengan Ilahi Rabbi, merindukan kedekatan dengan-Nya, dia tidak akan pernah khawatir dengan apa yang akan menimpanya keesokan harinya. apakah musibah atau anugerah. Yang selalu dia pikirkan, apakah amalnya Allah kehendaki atau tidak.

Akhirnya, saya tutup kajian singkat ini dengan petikan hadis qudsi, dimana Allah berfirman kepada malaikat-Nya, “Pergilah kepada hamba-Ku. Lalu timpakanlah bermacam-macam ujian kepadanya karena Aku rindu mendengar suaranya…” (HQR Thabrani yang bersumber dari Abu Umamah r.a.)

Nabi juga pernah bersabda, “Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum Mu’minin pria atau wanita, yang mengenai dirinyaa, hartanya, anaknya, tetapi ia tetap bersabar, ia akan menemui Allah dalam keadaan tidak berdosa. (HR Thurmudzi).

Wallahu A’lam bish-Shawab.

Referensi:
1. Alquran al-Karim, dan terjemahannya terbitan Saudi Arabia.
2. Hadis Qudsi, KHM Ali Usman dkk, CV Diponegoro, Bandung, 1996
3. Pancaran Spiritual, Telaah 40 Hadis Sufistik, Shadrr ad-Din al-Qunawi, Penerbit Lentera, Jakarta, 1998
4. Al-Lu’lu wal Marjan, Muhammad Fuad Abdul Baqi, PT Bina Ilmu, Jakarta, 1982
5. Catatan Kajian Tasawuf, Drs. Zamzam Ahmad Jamaluddin, Msi, Bandung, 1993

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: