July 16, 2008

Indahnya Menggenapkan ad-Diin Lewat Pernikahan dan Jalan Taqwa…

Posted in belajar merenung at 3:58 pm by kuswandani

Mari kita awali perenungan berikutnya dengan bersama-sama mencoba memaknai sejauh mana keindahan sebuah pernikahan? Apa yang melatarbelakangi ungkapan agung Baginda Mulia Muhammad Saw sebagaimana telah diungkapkan penulis pada awal tulisan ini, dimana menikahnya seseorang membuat dia telah berhasil mendapatkan sebagian dari diin-nya, lalu dengan jalan takwa lah seorang manusia akan memperoleh penggenapan ad-diin-nya ?

Dibutuhkan sebuah pemaknaan mendalam dari agungnya sebuah pernikahan. Dibutuhkan sebuah keasadaran baru tentang tingginya nilai pernikahan itu sendiri, apa yang membuat syariat yang Nabi Muhammad jalankan ini menjadi perkara sangat penting dan sangat berharga sekali, hingga di saat lain Rasulullah pernah mengungkapkan bahwa ikatan perjanjian yang terkuat setelah perjanjian antara Nabi dengan Allah adalah ikatan perjanjian akad pernikahan!

Mari sejenak kita merenungi ungkapan Maulana Rumi, sang waliyullah tentang hikmah sebuah pernikahan…

Rumi berkata: Siang dan malam engkau senantiasa berperang berupaya mengubah akhlak lawan jenismu, untuk membersihkan ketidaksucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka.

Sungguh! Lebih baik mensucikan dirimu sendiri melalui mereka daripada mensucikan mereka melalui dirimu sendiri. Ubahlah dirimu sendiri melalui mereka. Temuilah kepada mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak adil.

Pada hakikatnya dari persoalan inilah, Muhammad Saw. Berkata, “Tidak ada kerahiban dalam Islam.”
Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, melatih hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan! Agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan jenis. Mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlaku-kan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.

Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; Sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari telah ini, buatlah dirimu bersih.

Ketahuilah bahwa mereka itu bagaikan pakaian; Di dalamnya engkau dapat membersihkan ketidakmurnianmu dan engkau sendiri menjadi bersih.

Singkirkan dari dirimu kebanggan, iri, dan dengki sampai engkau alami kesenangan dalam perjuangan dan penderitaanmu. Melalui tuntutan-tuntutan mereka temukanlah kegembiraan ruhaniah, setelah itu engkau akan tahan terhadap penderitaan semacam itu, dan engkau tidak akan berlalu dari penindasan, karena engkau melihat keuntungan yang mereka berikan.

Jalan dari Sang Nabi adalah seperti ini; Menganggung kesedihan itu perlu untuk membantu kita membuang egoisme, kecemburuan dan kebanggaan.

Menahan sakit dari keinginan-keinginan berlebihan dari pasangan kita, sakitnya beban ketidak adilah, dan ratusan ribu macam sakit lainnya yang tidak terbatas, agar jalan ruhaniah dapat menjadi jelas.

Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat. Jalan Muhammad adalah dengan menanggung penindasan dan kesakitan yang ditimbulkan oleh lelaki dan perempuan satu sama lain.

Jika engkau tidak dapat menempuh jalan Muhammad, setidaknya tempuhlah jalan Isa, sehingga dengan demikian engkau tidak sepenuhnya berada di luar jalan ruhaniah. Jika engkau mempunyai ketenangan untuk menanggung seratus hantaman, dengan memandang buah dan panen yang lahir melalui mereka, atau jika engkau diam-diam meyakini di dalam kalbumu,

“Walaupun saat ini aku tidak melihat hasil panen dari penderitaan ini, pada akhirnya aku akan meraih harta karun.” Bahwa engkau akan meraih harta karun, benar; dan yang jauh lebih berlimpah dibandingkan dengan yang pernah engkau inginkan dan harapkan.

Jika sekarang ini, kata-kata di atas tidak berpengaruh kepadamu, nanti, jika engkau tumbuh lebih dewasa, mereka akan meninggalkan kesan yang mendalam. Inilah bedanya antara bercakap-cakap dengan pasangan, dan dengan seorang sahabat.

Ketika engkau berkata-kata kepada pasanganmu, mereka tetap saja seperti semula dan tidak akan mengubah cara-cara mereka karena apa yang engkau katakan.

Kata-katamu tidak akan sedikitpun mempengaruhi mereka, bahkan membuat mereka semakin kukuh. Contohnya, ambillah dan genggamlah sepotong roti, dan jangan berikan kepada orang lain, sambil mengatakan, “Aku tidak akan memberikannya kepada siapa pun.

Jangankan memberikannya, aku bahkan tidak akan memperlihatkannnya.” Katakanlah jika roti itu kemudian telah dibuang dan anjing-anjing tidak akan mau memakannya, karena, -katakanlah roti di tempatmu demikian berlimpah dan murah- akan tetapi ketika engkau mulai menolak memberikannya, semua orang akan bersikeras, sambil memohon dan mengeluh. “Kami ingin melihat roti itu yang engkau tahan dan simpan.” Terlebih-lebih jika engkau menyimpannya selama setahun, seraya bersikeras bahwa engkau tidak akan memberikannya atau memperlihatkannya, maka ketertarikan mereka tidaklah berhingga, karena, “Semakin seseorang dilarang, semakin ingin ia melanggarnya.”

Semakin sering engkau mengatakan kepada pasanganmu, “Jagalah dirimu agar tetap bersembunyi, semakin besar keinginan mereka mempertontonkan diri. Dan dengan tersembunyinya mereka, semakin bertambah keinginan lawan jenis kepada mereka. Demikianlah, engkau terjepit di tengah-tengah, meningkatkan keinginan kedua belah pihak; sementara itu engkau menganggap dirimu sendiri seorang yang memperbaiki orang lain!

Demikian uraian indah bagaimana Maulana Rumi mendeskripsikan nilai agung sebuah pernikahan. Dengan jalan pernikahan, maka akan dirasakan sebuah kehidupan penuh dengan tantangan dan ujian. Ketika menikah, maka setiap diri akan semakin banyak menemukan pengetahuan tentang dirinya, karena itu, alangkah bijaknya seandainya setiap diri senantiasa melihat pasangan itu sebagai cermin yang akan memantulkan kualitas diri masing-masing. Ketika seseorang melihat sebuah cermin dan dikenali kemudian sekian kekurangan yang ada dibalik pantulan cermin itu, maka yakinilah bahwa itulah kekurangan yang melekat dalam diri kita.

Ketika kita menemukan kekurangannya tersebut maka akan lebih agung apabila bahtera rumahtangga itu disibukkan oleh upaya perbaikan diri masing-masing, sebelum setiap diri melihat dan menyibukkan diri dengan kekurangan pasangannya…

Dan akhirnya kembali kepada pembahasan dari bab sebelumnya, bahwa jalan pernikahan adalah sebuah jalan yang luhur dimana setiap diri akan setiap saat menemukan kualitas dirinya masing-masing. Setiap diri akan berjalan berproses mengenali diri masing-masing, dengan demikian ketika sebuah kesadaran akan kelemahan diri itu hadir, maka semoga yang terbersit pada langkah berikutnya adalah sebuah rasa diri yang lemah yang membutuhkan Dzat Yang Mahakuat.

Akan lahir sebuah kesadaran diri yang penuh ketergelinciran dan kemudian hadir pula sebuah rasa butuh akan bimbingan Allah, diri yang sering terjatuh, maka tumbuhlah rasa butuh akan pengayoman-Nya. Seperti inilah jalan takwa yang penulis pahami… Lewat pernikahan, diri akan dikenali semakin dalam, dan lewat pernikahan pula, proses membangun diri mengenali diri demi pengenalan Ilahi pun terbangun secara perlahan.

Namun sebaliknya apabila orientasi pernikahan hanya ditujukan agar seseorang mendapatkan kenikmatan, kesenangan dunia, kebanggaan diri, keangkuhan atas kesempurnaan dirinya, dan semakin sulit pula buat orang tersebut untuk dapat mengenali kekurangan dirinya… maka tunggulah kehancuran demi kehancuran.. akan tenggelam bahtera rumah tangga itu di kedalaman sangat jauh dari kehidupan dunia yang sangat kompleks ini. Ditenggelamkan dan dihempas semakin jauh ke dasar laut, hingga penderitaan demi penderitaan pun tercipta secara perlahan tapi pasti. Itulah neraka dunia yang dibangun di atas dasar pernikahan yang hampa.

Ya Rabbi,
Perkenankan hamba memahami diri dengan sebenar-benarnya pemahaman…

8 Comments »

  1. Bukuspesial.com said,

    “Jalan dari Nabi Isa a.s. adalah bergulat dengan kesepian dan tidak meladeni syahwat.”

    ==> kalo kata DanBrown di Da Vinci Code kan Nabi Isa juga punya istri dan punya anak🙂

  2. fitra said,

    eh maaph itu yang keluar malah nama situs jualan, hehe

  3. kuswandani said,

    ga papa kok, sambil menawarkan ladang usaha juga… gak usah sungkan mba fitra…hehe… kita sodara kok..

    wah, kalau saya bandingkan antara pendapat dan hikmah dari Maulana Rumi sang waliyullah sekaliber beliau dengan pendapat penelitian Dan Brown…hehe..
    punten, saya lebih memilih pendapat Rumi…wong hikmah nya sudah saya dapatkan… gak tau kalau dari akang Dan Brown, saya udah dapat pelajaran apa… palingan baru sensasional dan kekaguman saya atau keuletan penelitiannya ajah…

    tapi tentu saja, semua orang akan memberikan sumbangsih pengetahuan sesuai dengan kapasitas masing-masingnya kok…

    selalu ada sisi benarnya bergantung dari arah mana kita memandangnya..

    peaece…

  4. niniw said,

    “Menanggung dan menahan penindasan dari pasanganmu itu bagaikan engkau menggosokkan ketidak murnianmu kepada mereka. Akhlakmu menjadi baik melalui kesabaran; Sementara akhlak mereka menjadi buruk melalui pendominasian dan agresi mereka. Jika engkau telah menyadari telah ini, buatlah dirimu bersih. ”

    gileee…sussah banget kang yang begini ini… menjadi sabar dengan tidak menjadi pasif (haha..itu mah bukan sabar kali, ya.. tapi mutung..)

  5. kuswandani said,

    @rani,
    so pasti dibuat susah atuh oleh Allah, karena yang Maha Penyabar kan Dia, bukan kita, dan kita adalah maha tidak bersabar, maka logikanya… kita minta dulu secuil kesabaran-Nya, niscaya kita akan diberikan bergantung sedalam apa pengharapan kita nya…

    tanpa menemukan sebuah ujian yang sulit, kita tidak pernah bisa menemukan kesadaran tinggi akan betapa lemahnya diri ini dan betapa besarnya rasa butuh kita kepada-Nya…

    dan, dalam pemahaman saya,
    sabar itu letaknya di elemen jiwa, sebuah sikap tenang,
    pikiran dan perenungan terus diaktifkan untuk bisa memaknai setiap kejadian, mensikapi dengan penuh kesadaran…

    wah, kalimat Abu Yazid al-Busthami berikut ini bener-bener menggetarkan saya…
    “Kesabaran adalah sebuah sikap tenang yang Allah hunjamkan kepada setiap hamba yang dicintai-Nya… sama tenangnya dia antara ketika mendapatkan sebuah musibah dengan tenangnya ketika memperoleh anugerah”

    semoga manfaat…

  6. pasangan kita adalah wajah kita
    menjadi refleksi sikap dan prilaku kita juga
    walau mungkin kesadaran ini tidak datang bersamaan..
    tapi di sanalah makna kesabaran..

  7. kuswandani said,

    sepakat sekali ceu anis,
    kita melihat pasangan, kita sedang bercermin,
    maka
    buruk rupa cermin dibelah emang sangat Allah gak sukai kan…
    buruk rupa kita, membuat kita belajar perbaiki diri terus, dan saya yakin,
    jauh lebih ringan kita sibukkan diri untuk perbaiki diri dibandingkan dengan kita disibukkan untuk selalu asyik melihat kekurangan pasangan kita sendiri…
    dan saya meyakini sekali, tatkala kita berhasil membangun diri yang terus berjuang untuk perbaiki diri, niscaya Allah pun akan menyambut tindakan kita dengan indahnya dalam bentuk perbaikan hati pasangan kita tercinta…!!
    saya yakini itu hari ini ceu anis…
    semoga Allah senantiasa menuntun kita… amin..

  8. Mirna anggia said,

    Sedang belajar untuk itu kang…kadang..dan bahkan seringnya lupa bahwa sedang berhadapan dengan diri sendiri…:(


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: