July 10, 2008

Fitrah Diri: Kebutuhan akan Pasangan Sejati

Posted in belajar merenung at 10:13 pm by kuswandani

Bayangkanlah jika kita bisa mengkhayalkan diri ditarik mundur sejauh-jauhnya hingga mencapai sebuah titik peradaban awal sang manusia, tatkala Allah pertama kali menciptakan sosok manusia pertama. Sebagai Adam. Tercipta dari tanah lempung, yang berair.. yang menjadi lumpur, lalu Dibentuk oleh Allah dengan sebaik-baik Ciptaan…

Bayangkanlah ketika kita hidup sebagai sosok Adam yang sendiri. Walaupun berada di surga yang penuh kenikmatan, tentu satu saat akan merasa kesepian. Dari rasa sepi itu, lahirlah sebuah harapan bahwa suatu saat akan hadir seseorang yang bisa menghilangkan rasa sepinya, yang menjadi pasangan hidupnya, yang menjadi pendampingnya, yang menyertainya serta menemaninya di dalam kehidupan. Menjadi sebuah sunatullah, ketika Dia Sang Maha Mencipta selalu menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Antara siang dengan malam, antara suka dengan duka, antara sempit dengan lapang, antara bumi dengan langit, antara matahari dengan bulan, antara daratan dan lautan, serta makhluk lainnya pun tercipta berpasangan, termasuk sebuah pasangan yang maha unik, antara Sang Khaaliq, sang pencipta yang berpasangan dengan sang makhluq, yang tercipta.

Mari bayangkan pula ketika kita memahami bahwa tatkala Allah lalu menghadirkan pasangan sejati bagi diri kita, yang disebutkan dalam kitab suci, diambil dari sebagian tulang rusuk kita… bagian dari tubuh kita.. dan terciptalah sosok Hawa, sebagai pasangan Adam, dan saat itu dirasakan pula oleh Adam sebagai sebuah anugerah besar Allah atasnya… mereka pun mendiami surga penuh kenikmatan, hidup bersama dan terpenuhilah fitrah dasar tidak ingin sendiri nya…

Berikut ini Surat Albaqarah dalam Quran Suci mengabadikan kisahnya dengan indah:
“Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim. (QS 2:35)

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (QS 2:36)

Dan tatkala waktu berjalan, Allah berkehendak lain, dengan menguji mereka untuk tidak mendekati pohon khuldi. Uniknya Allah pun menciptakan Iblis Sang Penggoda yang membuat mereka tergoda dan memakan buah terlarang tersebut, hingga akhirnya Allah menjatuhkan mereka ke bumi… Itulah awal mula dosa dilakukan Hawa dan Adam…. Pakaian mereka di tanggalkan Allah, itulah pakaian keimanan yang terlepas karena mengikuti ajakan Iblis sebagai syetan yang terus berupaya menggodanya hingga akhirnya kehendak-Nya yang lain berlaku,

Adam diturunkan ke bumi, dengan membawa sebuah konsekwensi yang tidak sederhana dibalik kesalahan pelanggaran tragedi buah khuldi itu. Disamping adanya amanah menjadi khalifah di bumi,
dan adanya kesenangan hidup yang bereda di bumi, Adam pun berhadapan dengan sebuah garis takdir lain dimana kelak anak keturunannya akan menjadi musuh bagi sebagian lainnya..

Adam terpisah jauh dari Hawa… Dan dibalik keterpisahannya dengan pasangan sejatinya, dia mengalami sebuah penyesalan atas segala titik lemahnya sebagai manusia…Hadir sebuah kesadaran bahwa sebagai manusia Adam tidak luput dari kesalahan, namun sebagai makhluk yang diberikan kemmapuan akal dan hati, Adam menyesal dan penyesalannya itu terwujudkan dalam sebuah pertaubatannya..

Adam terpisah, lalu sadar akan kesalahan dirinya dan kelemahan imannya, maka bertaubatlah ia dengan sebesar-besarnya taubat.. hingga Allah pun akhirnya berkenan menerima taubatnya.
Dan tatkala taubatnya diterima, maka dengan kekuasan-Nya pula, Adam kembali dipertemukan oleh Allah dengan bagian dari dirinya… pertemuan kembali dengan pasangannya yang mempersyaratkan hadirnya sebuah pertaubatan seorang manusia yang tercipta dari tanah…

Lantas, apa hubungannya kisah yang mengharu biru sang Adam dan Hawa, dari kehidupan surga dengan segala kenyamanannya, kemudian jatuhnya mereka pada sebuah kesalahan yang dilakukan hingga diturunkannya ke bumi serta keterpisahan dengan Hawa, sang tulang rusuknya, dengan kita yang hari ini hadir ribuan tahun melampaui mereka berdua. Adakah keterkaitan sejarah itu dengan sejarah hidup kita juga?

Apakah sejarah peradaban manusia pertama di masa lalu yang tertuang dalam semua kitab suci langit benar-benar mengandung sebuah pelajaran besar bagi peradaban kita hari ini? Tentu ada dan sangat memberi pengajaran besar bagi kita dan sampai kapan pun peradaban itu berjalan hingga akhir zaman kelak. Demikian pula apa yang dialami oleh Adam dengan pasangan sejatinya adalah hal yang menjadi perjalanan hidup kita juga di era sekarang ini.

Kita berawal dalam kehidupan “surga”, dalam dunia anak yang tanpa ada beban hidup, tanpa rasa bersalah, tanpa kekhawatiran, penuh keceriaan, penuh harapan masa depan, penuh warna hidup, itulah surga yang pernah kita rasakan.

Tatkala usia beranjak remaja, dimana kebaikan dan keburukan mulai dikenali, maka pada saat itu pula mulai dikenallah sebuah kesalahan, kekhilafan berbuat dengan segala latar belakangnya. Saat itu pulalah manusia mulai mengenal sebuah dosa yang mengakibatkan kehidupan surga menjadi hilang, karena kehidupan berikutnya adalah kehidupan penuh godaan, penuh ujian dalam memilah dan memlih kebaikan di antara keburukan. Maka pada fase inilah tokoh anak keturunan Adam mulai di “turun”-kan ke bumi.

Akhirnya, ketika waktu berjalan, usia semakin dewasa, cara pandang hidup semakin luas, kesadaran seseorang akan makna hidup mulai tumbuh, dan ruang berfikir serta bertafakkur semakin luas, akan dirasakan oleh orang tersebut ada sebuah penyesalan diri atas setiap kesalahan yang selama ini dia lakukan. Hadir sebuah kesadaran atas lemahnya diri ini dan tenggelamnya dia dalam lautan dunia yang mulai menyesakkan. Luas tapi menghimpit hidupnya. Tampak lebar tapi sebenarnya ada kesempitan dalam hati kecilnya. Saat itulah fitrah diri yang dasarnya suci dan mencari kebenaran sejati mulai menuntun dia untuk bisa membangun sebuah penyesalan, sebuah kebutuhan untuk bertaubat dan kembali kepada Jalan Keselamatan, sebagaimana bertaubatnya Adam dari dosa pelanggaran.

Maka pada saat itu pula lah, dalam sunatullahnya, Allah pun menyambut pertaubatan setiap Bani Adam, siapapun mereka, dari kalangan manapun mereka, bahkan sebesar apa pun dosa yang mereka lakukan, ketika mereka menyadari sesuatu dan sadar pula akan segala kesalahannya, niscaya Allah Yang Maha Penggugur Dosa akan memberikan ampunan dan menerima taubatnya.

Maka sebagaimana dirasakan oleh Adam ketika Allah Swt. menyambut taubatnya dengan memberikan ampunan serta dipertemukannya kembali dia dan pasangan sejatinya, maka sang Bani Adam pun kelak akan Allah sambut tatkala mereka bertaubat, berupa ampunan, pertolongan dan yang terbesar dalam kehidupan dunia adalah sebuah anugerah dipertemukannya dengan bagian dari dirinya, yaitu tulang rusuk nya atau pasangan sejatinya yang sejak zaman azali telah Allah tetapkan sebagai pasangannya.
Bukankan setiap manusia dicipta dan setelah berwujud, Allah ciptakan pula pasangannya.

Pasangan yang seperti apa yang akan hadir, tentu pasangan yang menjadi bagian dari dirinya. Pasangan yang akan memiliki keselarasan dengannya karena ia tercipta dari bagian tubuhnya…

Mari kita renungi sejenak QS 4:1 demi menguatkan keyakinan kita akan hakikat diri yang berasal dari sesuatu yang tunggal,

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, dan Dia menciptakan daripadanya pasangannya, dan memperkembang-biakkan dari mereka berdua laki-laki dan perempuan yang banyak. Maka bertakwalah kepada Allah yang beserta-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan juga saling mengikat dalam kasih sayang. Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kalian.”

Demikian keagungan ayat Allah yang Dia gelar di bumi ini, dimana pada dasarnya setiap diri manusia yang tersusun atas ruh, jiwa dan jasad ini, telah Allah cipta dengan pasangannya masing-masing yang Dia Ta’ala ambil dari bagian diri yang satu itu.

Berawal dari jiwa yang satu, dari diri yang satu, itulah kesatuan wujud atau ketunggalan ciptaan. Dan tatkala sebagian kecil dari yang satu itu diambil kemudian menjadi diri yang lain, maka yang terjadi adalah sosok Adam sebagai diri tunggal pertama yang merasa kehilangan bagian dirinya, dan sosok Hawa yang menjadi diri yang lain namun senantiasa ingin menemukan sumbernya, menemukan bagian terbesar dirinya. Kehadiran dua sosok inilah yang akan menjadi penyempurna satu sama lain dan akhirnya akan mewujud menjadi diri yang tunggal kembali.

Kisah penciptaan manusia bernama Adam dari segumpal tanah lempung, dan penciptaan Hawa yang diambil dari tulang rusuk Adam, bukanlah sekedar kisah sejarah belaka yang tanpa hikmah dan tuntunan. Ada makna agung yang terkandung dibalik kisah tersebut, dan makna itulah yang akan menjadi sebuah panduan indah bagi setiap penggali ayat demi ayat suci yang membuktikan kebenaran kata-kata Ilahi Rabbi.

Betapa luhur nya konsep keberpasangan dalam sepanjang sejarah peradaban manusia. Fitrah dasar sang laki-laki yang selalu merindukan hadirnya pendamping hidup, yang kelak akan dapat menyempurnakan keberadaan wujudnya sebagai manusia di hadapan Allah. Yang kelak akan dapat mengarungi lautan kehidupan dengan segala bentuk ujian angin ribut, taufan persoalan keseharian dan segala jenis tantangan lainnya.

Seperti itulah konsep pasangan seharusnya dibangun. Terbangun dalam sebuah keselarasan, bagaikan sebuah puzzle dimana sosok Adam atau laki-laki menjadi sebagian puzzle dan sosok Hawa atau perempuan adalah bagian lainnya. Tentunya puzzle itu akan saling melengkapi jika kedua belah pihak pun memahami bentuk pecahan puzzle dirinya masing-masing. Dan di sinilah persoalan terbesar yang sedang dihadapi oleh mereka yang tengah merindukan bagian puzzlenya hadir… Sangat tidak mudah bagi seseorang menemukan keselarasan diri dengan sosok yang dia duga adalah bagian puzzle-nya.

Butuh sebuah perenungan mendalam, butuh sebuah penghayatan setiap saat dan senantiasa pula menyerahkan setiap pilihan dirinya pada pilihan Dia Yang Maha Berkemampuan menghimpunnya…
Demikianlah apa yang hari ini kemudian dikenal masyarakat sebagai pasangan yang berjodoh..yang sama sekali tidak diukur ketika pasangan tersebut berhasil melangsungkan pernikahan. Demikian pula keberjodohan tidak bisa diukur pula oleh tidak adanya keributan dan pertentangan pendapat apalagi perbedaan tersebut hanyalah sekedar berbeda dari sudut pandang lahiriyah terhadap sebuah persoalan.

Keberjodohan sebuah pasangan benar-benar diukur dari keserasian bagian jasad dirinya dan bagian jiwanya… Sebuah keserasian aspek jasadiah dan aspek batiniah seorang laki-laki dengan aspek yang sama dari diri perempuan sebagai pasangannya.

Bisakah hal ini terjadi? Bukan hal yang mudah memang menemukan sebuah keserasian semisal itu. Sebuah perjuangan sangat hebat, jika perjuangan itu dipahami sebagai ikhtiar akal lahiriyah kita dalam menempuhnya dan mencarinya. Namun indahnya adalah ketika ruang ikhtiar kita dibuka lebih lebar dan diserahkannya sebagian besar ruang itu pada rasa keberserahdirian kepada Allah Sang Pengatur Kehidupan.

Akan menjadi lebih ringan buat gerak sang manusia yang maha lemah ini tatkala mencoba menemukan kesesuaian dan keselarasan diri dengan calon pasangan itu ketika yang dilibatkan juga adalah aspek permohonan dan doa di dalam setiap istikharah kehidupannya. Disamping akal lahir pun tetap bekerja dan berikhtiar membangun kesesuaian dan keselarasan dalam membangun komunikasi, membangun pemahaman bersama, dan pengetahuan demi pengetahuan baik tentang urusan pasangan khususnya dan hal lain yang menunjang proses pernikahannya kelak…

“Berbuatlah!” itu firman suci Allah Azza wa Jalla, “…maka niscaya Aku beserta Rasul dan kaum Mukminin akan menyaksikan apa yang kita kerjakan” (lihat QS 9:105)

Itulah tugas kita layaknya manusia lemah, berbuat, berbuat dan berikhtiar…perjuangkan diri menemukan dan terus mengenal daya jangkau kita dan daya pikul kita dalam mengarungi kehidupan ini, maka niscaya Allah beserta para Rasul-Nya dan kaum Mukminin akan menyaksikan, akan mengawasi dan akan turut meringankan perjalanan ini.. Yakinilah!!

Dalam persoalan bekerja ini, jika dihubungkan juga dengan pekerjaan yang landasannya adalah pengabdian, sebagaimana diajarkan oleh Nabi mulia kita, maka pengabdian yang paling tulus adalah tatkala setiap pekerjaan apa pun yang kita lakukan adalah di dasari atas pengenalan kita akan jati diri kita sendiri..

Jika kita telah mengenali diri, mengenali apa yang menjadi kelebihan diri dan sekaligus segala kekurangannya, niscaya kita akan menemukan sebuah keyakinan utuh akan pentingnya menemukan pasangan diri kita yang akan bertindak sebagai penggenap kekurangan puzzle kita. Menjadi pelengkap apa yang masih dirasakan penuh kekurangan ini. Dan itulah tujuan pertama di dalam keberagaman penuh keberserahan diri ini.

bismillah, menyerah atas semua kelemahan ini Gusti…

7 Comments »

  1. Cinug said,

    Kang Dani…
    Ini Nugie…
    Bagus sekali mengkaitkan antara perjalanan hidup nabi Adam dengan perjalanan hidup seorang insan sebagai anak cucu Adam.
    ….
    Adam mengawali hidupnya di surga dengan ditemani oleh Hawa, kemudian melakukan kesalahan sehingga diusir ke bumi dan dipisahkan dengan pasangannya, yaitu Hawa. Setelah Adam bertaubat, dipersatukanlah Adam dan Hawa.
    ….
    Begitu juga seorang manusia keturunan Adam, memulai hidupnya dengan kesucian dan keceriaan semasa kecil. Itulah masa-sama surga. Tapi, kalau dipikir2, ada bedanya dengan kehidupan Adam di surga. Di masa kecil kita (yang menjadi masa surga dalam analogi ini), kita tidak ditemani pasangan kita. Jadi kita sendirian hidup dalam masa surga ini. Tidak seperti nabi Adam yang sudah ditemani oleh Hawa ketika di surga.
    Gmn tuh kang..?
    Jadi analoginya ada yang tidak selaras ya..?

  2. addaani2008 said,

    hehe, memang tidak semua bentuk analogi itu selalu menampilkan semua sisinya, saya mencoba menganalogikan sebuah kebahagiaan sebagai anak kecil yang tidak disibukkan oleh kepusingan orang tuanya dalam menghadapi setiap masalah yang hadir. itulah kehidupan surga kita… life is beautiful…
    itulah pendekatan yang bisa saya sampaikan demi mencoba menjangkau hakekat sebenarnya yang tak terbahasakan…
    how?

  3. bagus banget mas dani..
    saya sudah lama berpikir ini, buat saya inilah soulmate itu..

    dulu saya berpikir, soulmate itu harus diupayakan. soulmate itu kata kerja. maka saya selalu berusaha tuk itu. tapi pada perjalanannya saya merasa ada “kuasa tuhan” ttg soulmate, dan mas dani menjawabnya di dua tulisannya di blog baru ini.. bravo🙂
    saya suka makna pertobatan dan kesadaran tuk pencapaian soulmate di tulisan sebelumnya.

    meski ini secara teoritis mampu menjabarkan dan menjawab tanya dalam benak saya, selebihnya saya berserah padaNya dan pada ikhtiar saya sebagai makhlukNya. makasih..

    terus menulis yaa..😀

  4. kuswandani said,

    kok mba anis hobi muji sih..? ati2… yang muji biasanya saya lempari pasir ke muka.. itu kebiasaan yang ingin saya tiru dari Imam Ali Kw.

    cari dong yang perlu dikritiknya….
    sieun sekali bagi saya, sebuah pujian selalu berhasil membuat saya kehilangan kemampuan mengetahui titik lemah, dan titik kesalahannya…
    eh, bukan titik, noda hitam besar malahan…

    maka,
    hayu atuh saling nutupi kekurangan masing-masing,
    saling nambal mana yang bisa di tambal, saling bangun terus konsep diri kita, besama-sama yah.. sehingga tercipta bangunan indah maha karya dari sebuah gedung pemahaman kebenaran…
    saling lengkapi, saling sangga dengan tiang diri kita masing2… wong rumah pemahaman dan rumah pikiran saya masih belum kokoh kok…

    punten yaah..
    jangan muji lagi… pliiiis..

  5. ya sudah ga akan dipuji lagi nih.. hehehe, maksudnya sih memotivasi🙂

    sadari saja kalau sudah lewat semua masa “tumpang tindih”, puji dan maki sudah sama saja. ok? selamat melewati semua itu satu demi satu..

  6. dimas said,

    Assalamualaikum mas Dani🙂

    Subhanallah…

    Terima kasih mas Dani telah menyempatkan waktunya untuk berbagi kepada kita semua.

    Wassalamualaikum

  7. kuswandani said,

    @mba anis,
    hehe, maafin saya.. bukan berarti gak boleh komentar…justru saya perlu masukan dan belajar kepada yang sudah nyemplung duluan…
    ayo dong kritisi nya…

    @dimas,
    makasih, semoga makanan ini dapat dicerna dan tidak membuat keracunan….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: