12.26.08
Antara Allah dan Sang Kekasih…
Seorang perawan desa sedang pergi untuk menemui kekasihnya. Ia melewati seorang Mullah yang sedang melakukan shalat. Karena tidak tahu, ia berjalan di depan Mullah itu, suatu hal yang dilarang oleh agama. Mullah itu sangat marah, hingga ketika gadis itu kembali lewat di dekatnya, ia memarahinya.
Ia berkata. “Alangkah berdosanya, hai gadis muda, berjalan di depanku ketika aku sedang shalat.“
Gadis itu berkata, “Apa artinya shalat?“
Dijawab, “Aku sedang memikirkan Allah, Tuhan langit dan bumi.“
Gadis itu berkata, “Maafkan aku, aku belum tahu Allah dan shalat bagi-Nya, tetapi tadi aku sedang berjalan menuju kekasihku dan memikirkan kekasihku, hingga aku tak melihatmu sedang shalat. Aku heran bagaimana anda yang sedang memikirkan Allah dapat melihatku?“
Perkataan gadis itu sangat berkesan pada Mullah hingga ia berkata, “Sejak saat ini, hai gadis, engkau adalah guruku. Akulah yang harus belajar darimu.”
[dikutip dari milis sebelah, by djsjah <dj_sjah@ ...> dengan Topik: Cinta Ilahi]
12.24.08
Kau dan Anakmu
by: Anonymous

Jangan didik anakmu…
Jangan didik anakmu laki-laki
Bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya
Jangan didik anakmu laki-laki
Untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan
Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan
Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis
Dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng
Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya
Bahwa air mata adalah anugerah Tuhan yang indah
Sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya
Dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya
Jangan didik anakmu perempuan
Bagaimana menjadi cantik
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya
Jangan didik anakmu perempuan
Bagaimana untuk menyenangkan laki-laki
Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan
Jangan larang anakmu perempuan
Jika ia menikmati melompat, berlari, dan memanjat
Jika ia suka menjelajah dan mengutak-atik benda-benda
Jangan kaupaksa dia untuk duduk manis diam dan tenang
Karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri
Dan juga rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugerahkan
Telah kaubonsai dan kaurusak sejak dini
Isilah rumahmu
Dengan cinta, hikmat, dan kebijaksanaan
Bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar, dan kekuasaan
Bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan
Keindahan menikmati mentari pagi
Kehangatan rasa ketika menggenggam pasir
Kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga
Dan merdunya suara tetes-tetes hujan
Jika kau ingin anakmu rajin beribadah
Gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu
Ia takkan bisa kaupaksa berdoa dan sembahyang
Ketika dia tak dapat menangkap makna ibadah darimu
Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan
Pancarkan rasa ingin terus belajar
Nasihatmu tak akan bisa membuatnya mau membaca
Ketika dia tak pernah menyaksikan engkau menikmati buku
Jika kau ingin anakmu penuh kasih
Tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama
Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi
Jika ia tak pernah merasakan cinta darimu
Untuk anakmu
Engkau adalah teladan yang utama
Tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat
Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kauinginkan
Hiduplah demikian!
HATI SEORANG AYAH
by: Anonymous
Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah , mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian terbungkuk?”
Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab : “Sebab aku laki-laki.” itulah jawaban ayahnya.
Anak wanita itu berguman : ” Aku tidak mengerti.”
Dengan kerut-kening karena jawaban ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian ayahnya mengatakan :
“Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”
Demikian bisik ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri ibunya lalu bertanya :
“Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”
Ibunya menjawab : “Anakku, jika seorang laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.”
Hanya itu jawaban sang bunda.
Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi.
Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas
sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
“Saat Ku-ciptakan laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. “
“Kuciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. “
“Kuberikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. “
“Kuberikan keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu
dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”
“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. “
“Kuberikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap.
Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.”
“Kuberikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani. & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka.
Walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia.
Dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”
“Kuberikan kepada laki-laki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah amanah di Dunia & Akhirat.”
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh.
Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.
” Aku mendengar & merasakan bebanmu, ayah…”
Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan ayah…
With love to all father ” Jika kamu mencintai ayahmu – sekarang merasa sebagai seorang ayah kirimlah cerita ini kepada orang lain, agar seluruh orang di dunia ini dapat mencintai & menyayangi ayahnya & dan mencintai kita sebagai seorang ayah.
Berbahagialah yang masih memiliki ayah.
Dan lakukanlah yang terbaik untuknya…
Berbahagialah yang merasa sebagai ayah.
Dan lakukanlah yang terbaik untuk keluarga kita…
[catatan: ilustrasi foto dipinjam dari http://www.flickr.com/photos/arunsasi/2096705146/]
12.12.08
What Will You Plant?
(dikutip dari sumber yang annonym juga….) semoga manfaat….

If you plant honesty, you will reap trust.
If you plant goodness, you will reap friends.
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory.
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success.
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation.
If you plant openness, you will reap intimacy.
If you plant patience, you will reap improvements.
If you plant faith, you will reap miracles.
But:
If you plant dishonesty, you will reap distrust.
If you plant selfishness, you will reap loneliness.
If you plant pride, you will reap destruction.
If you plant envy, you will reap trouble.
If you plant laziness, you will reap stagnation.
If you plant bitterness, you will reap isolation.
If you plant greed, you will reap loss.
If you plant gossip, you will reap enemies.
If you plant worries, you will reap wrinkles.
If you plant sin, you will reap guilt.
12.09.08
Perlukan Cinta Melandasi Sebuah Pernikahan?
Berbicara tentang cinta, tentu kita akan berhadapan dengan jutaan pemaknaan yang sangat beragam. Dan berbicara tentang cinta, maka setiap diri pun akan memiliki keragaman cara pandang. Setiap orang memiliki subjektivitas masing-masing dalam menilai konsep cinta, baik itu ditinjau dari sudut pandang agama, psikologi, sudut pandang seorang remaja yang baru mengenalnya bahkan setiap orang di peradaban mana pun tentu akan melihat dengan pandangan yang berbeda. Baik cinta yang mengandung nilai-nilai agama atau bahkan cinta bisa dijadikan sebagai kekuatan untuk penistaan agama. Atas nama cinta orang bisa berkorban bagi Tuhannya, bagi negaranya, bagi kelompoknya, bagi kekasihnya, dan bagi siapa pun yang dia telah menjadi tumpuannya
.Persoalan kita sekarang adalah, apakah cinta itu sendiri? Dan mengapa dalam ajaran suci Nabi Muhammad Saw. ada sebagaian umatnya yang kemudian meyakini penuh bahwa landasan cinta menjadi prasyarat utama sebuah pernikahan. Menikah tanpa cinta –menurut mereka- yang akan diperoleh kelak adalah kehancuran demi kehancuran.
Apa sih sebenarnya hakikat cinta itu? Mari kita sejenak berguru kepada seorang Waliyullah abad modern yang hidup dan mengabdikan dirinya di Negeri Barat Amerika. MR. Bawa Muhayyadien menuturkan,
Seorang bijak berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap wisdom yang menyemburat seperti cahaya.
Indahnya Menggenapkan Sebagian Diin Lewat Pernikahan dan Jalan Taqwa…
Mari kita awali perenungan berikutnya dengan bersama-sama mencoba memaknai sejauh mana keindahan sebuah pernikahan? Apa yang melatarbelakangi ungkapan agung Baginda Mulia Muhammad Saw sebagaimana telah diungkapkan penulis pada awal tulisan ini, dimana menikahnya seseorang membuat dia telah berhasil mendapatkan sebagian dari diin-nya, lalu dengan jalan takwa lah seorang manusia akan memperoleh penggenapan ad-diin-nya ?
Dibutuhkan sebuah pemaknaan mendalam dari agungnya sebuah pernikahan. Dibutuhkan sebuah keasadaran baru tentang tingginya nilai pernikahan itu sendiri, apa yang membuat syariat yang Nabi Muhammad jalankan ini menjadi perkara sangat penting dan sangat berharga sekali, hingga di saat lain Rasulullah pernah mengungkapkan bahwa ikatan perjanjian yang terkuat setelah perjanjian antara Nabi dengan Allah adalah ikatan perjanjian akad pernikahan!
Mari sejenak kita merenungi ungkapan Maulana Rumi, sang waliyullah tentang hikmah sebuah pernikahan…
Rumi berkata: Siang dan malam engkau senantiasa berperang berupaya mengubah akhlak lawan jenismu, untuk membersihkan ketidaksucian mereka dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka.
Sungguh! Lebih baik mensucikan dirimu sendiri melalui mereka daripada mensucikan mereka melalui dirimu sendiri. Ubahlah dirimu sendiri melalui mereka. Temuilah kepada mereka dan terimalah apa saja yang mereka katakan, walaupun dari sudut pandangmu ucapan mereka itu terdengar aneh dan tidak adil.
Pada hakikatnya dari persoalan inilah, Muhammad Saw. Berkata, “Tidak ada kerahiban dalam Islam.”
Jalan para rahib adalah kesendirian, tinggal di pegunungan, melatih hidup tanpa perempuan dan berpaling dari dunia. Allah menunjukkan jalan yang lurus dan tersembunyi kepada Sang Nabi. Jalan apakah itu? Pernikahan! Agar kita dapat menanggung ujian kehidupan bersama dengan lawan jenis. Mendengarkan tuntutan-tuntutan mereka, agar mereka memperlaku-kan kita dengan keras, dan dengan cara demikian memperhalus akhlak kita.
12.08.08
Sudahkah Kita Termasuk Golongan Orang Yang Ber-qurban?
بســم الله الرحمن الرحيــم ، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره ،ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليّا مرشدا
أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أنّ مهمدا عبده ورسوله
عمّا بعد ،
الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر و لله الحمد
Hadirin kaum muslimin dan muslimat, kaum mu’minin dan mu’minaat, para aa’idiin dan aa’idaat.
Pagi ini, kita kembali melaksanakan iedul adha, merayakan dan mensyukuri iedul qurbaan, hari dimana umat islam di seluruh penjuru dunia berbondong bondong melaksanakan sunnah Nabi suci Ibrahim a.s. melaksanakan shalat sunnat berjamaah yang dilanjutkan dengan ibadah pemotongan hewan yang kita kurbankan untuk Allah.
Sepanjang malam hingga fajar menyingsing tadi pagi, kita semua mendengarkan takbir berkumandang tiada henti-hentinya, Sebuah takbir yang semua umat Muhammad Saw. kumandangkan, sebagai bentuk pengagungan kebesaran Allah, dan pengakuan atas kemaha-kecilan manusia, sebuah takbir yang menjunjung ke maha tinggian Allah dan merendahkan kedudukan manusia yang lemah ini, sebuah takbir yang seandainya setiap ummat mentafakkurinya akan sangat berpengaruh besar dalam menggugurkan kesombongan kita.
Karena itu alangkah berbahagianya apabila di dalam takbir demi takbir kita pun seluruhnya merasakan kemaha lemahan kita, kefakiran kita dan ketidak berdayaan dan merasakan pula hinanya manusia ketika diliputi oleh sebuah kesombongan dan kedengkian.
Allahuakbar, Allahu akbar Allahu akbar wa lillahilhamd.
Hadirin para a’idin dan a’idaat. Pada kesempatan di pagi indah penuh kesucian ini marilah kita renungkan bersama-sama hikmah ilahiyah yang sangat luhur dari jejak hidup seorang Ibrahim a.s. Sebuah jejak kehidupan yang sangat menakjubkan dari diri seorang Ibrahim yang semoga dapat dijadikan model ideal kehidupan kita pula.
Allahu Akbar Allahu Akbar walillaahil-hamd
Setelah Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari pembakaran Raja Firaun Namrud, ia mengorbankan seribu ekor domba jantan, tiga ratus ekor sapi dan seratus ekor unta sebagai wujud rasa syukurnya. Tidak pernah ada orang yang lebih dermawan daripada sang Ibrahim di saat itu.
Ketika ditanya kenapa ia rela mengurbankan begitu banyak harta, Ibrahim menjawab, “Aku telah siap untuk berkorban nyawa bagi Rabbku, mengapa aku harus keberatan mengorbankan harta? Lagipula sebenarnya kekayaan siapakah yang aku kurbankan? Hidup dan segala hartaku semuanya kepunyaan Allah. Apa yang telah aku korbankan tidak ada artinya. Aku bahkan akan mengorbankan bagi Allah milikku yang paling berharga. Jika aku dianugerai seorang anak, aku akan mengorbankannya jika Allah menghendaki.”
Itulah apa yang telah diungkapkan junjungan kita Ibrahim a.s. lalu Bagaimana dengan kita? Adakah diantara kita yang mampu berkata hal yang sama? Dan sekalipun kita tidak berada pada tingkat Nabi Ibrahim, seberapa ikhlaskah kita mengorbankan sebagian harta yang telah Allah limpahkan kepada kita, memberikan milik kita untuk sebuah pengabdian dan demi kepentingan serta kemaslahatan orang lain? Karena sesungguhnya orang yang tidak mau menolong orang lain atau beramal bagi orang lain, ia bukanlah sifat dasar seorang manusia, apalagi orang yang dekat kepada Allah.
Beberapa tahun kemudian, Allah menganugerahi Nabi Ibrahim seorang Putra bernama ismail. Ismail telah menunjukkan tanda-tanda kenabiannya sejak masih anak-anak. Ia sering ikut bepergian kemana-mana, bersama dengan ayahnya dan sekalipun masih kecil, ia sering ikut serta dalam diskusi tentang agama yang rumit.
Kemudian dalam sebuah mimpi, Allah menyampaikan kepada Nabi Ibrahim, “Wahai ibrahim, penuhilah janjimu! Engkau berkata jika engkau mempunyai seorang putra, engkau akan mengorbankannya bagi-Ku. Sekarang engkau harus memenuhi janjimu.”
Keesokan harinya, Ibrahim bertafakkur tentang mimpinya semalam, Walaupun Allah pernah muncul kepadanya dalam mimpi sebelumnya, ia menyadari pula bahwa Allah melarang pengorbanan manusia. Tidak ada sebelumnya seorang nabi yang pernah diminta untuk mengorbakan seseorang. maka sebagai gantinya ia mengorbankan seraatus ekor unta.
Malam itu Allah datang lagi kepadanya lewat mimpi dan sekali lagi memberitahukan kepadanya untuk memenuhi janjinya. Sekali lagi dalam tafakkurnya keesokan harinya nabi ibrahim as berpendapat bahwa Allah tidak pernah menginginkan pengorbanan manusia. Karenanya kembali ia mengorbankan seratus ekor unta.
Malam yang ketiga, sekali lagi Allah menyampaikan dalam mimpi nabi Ibrahim a.s. untuk mengurbankan putranya satu-satunya. Keesokan paginya nabi Ibrahim a,s memutuskan bahwa ia memang harus melaksakanan keinginan Allah tersebut.
12.02.08
Kenali Dirimu Sebelum Kau Kenali Pasanganmu di Luar Dirimu
Konsep pengenalan diri dalam agama manapun sebenarnya menjadi sala satu hal mendasar yang harus di pahami dan dijadikan sebagai penghayatan agung… demikian pula dalam ajaran Islam, sebagaimana dinyatakan oleh waliyullah Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali,
Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan, sesuai ungkapan hadis, ‘Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Rabb-nya,’ dan sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala,
Akan Kami perlihatkan ayat-ayat Kami di ufuk ini dan di dalam jiwa-jiwa mereka, hingga jelas bagi mereka bahwa itu adalah al-Haq…” QS Fushilat [41] : 53
Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuanmu tentang dirimu sendiri dari sisi lahiriyah, seperti bentuk muka, badan, anggota tubuh, dan lainnya sama sekali tidak akan mengantarmu untuk mengenal Allah. Sama halnya, pengetahuanmu mengenai karakter fisikal dirimu, seperti bahwa kalau lapar kau makan, kalau sedih kau menangis, dan kalau marah kau menyerang, bukalah kunci menuju pengetahuanmu tentang Allah.
Read the rest of this entry »
Mengumpulkan yang Terserak; Merenungi Sang Tulang Rusuk yang (Pernah) Hilang..
Kita awali dengan ungkapan mulia Baginda Rasulullah Saw. kepada Abu Hurairah r.a., dimana sebagian penggalannya beliau mengatakan,
… Hendaklah kalian memberikan nasihat kepada perempuan dengan penuh kebaikan, karena sesungguhnya mereka dicipta dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok itu ialah yang paling atas. Jika engkau ingin meluruskannya (sekaligus) niscaya engkau mematahkannya, tapi jika engkau biarkan, niscaya ia tetap bengkok. Hendaklah kalian berikan nasihat kepada perempuan dengan sebaik-baiknya….”
(HR Muttafak ‘alaih dengan lafadz dari Bukhari)
Ada hal menarik ketika kita mulai masuk kedalam sebuah upaya memaknai konsep tulang rusuk yang Nabi Mulia sebutkan, dan bagaimana Beliau menuntun terutama bagi kaum laki-laki untuk memperlakukan kaum perempuan dengan sebaik-baik perlakuan..
Mari kita awali dengan melontarkan beberapa pertanyaan pencarian makna; Mengapa Allah menciptakan Hawa dari bagian tubuh Adam? Bukankah Allah Maha Berkuasa untuk menciptakan manusia dari bahan tanah yang lain dari manapun juga, tanpa harus mengambil dari bagian tubuh wujud manusia pertamanya? Mengapa harus dari bagian tubuh Adam? Mengapa juga bagian tulang rusuk yang menjadi kehendak Allah Yang Maha Kreatif, yang menjadi simbol penciptaan Hawa sebagai pasangan sejati bagi Adam a.s.? Mengapa tidak bagian tubuh yang lain?
Read the rest of this entry »
Fitrah Diri: Kebutuhan akan Pasangan Sejati
Bayangkanlah jika kita bisa mengkhayalkan diri ditarik mundur sejauh-jauhnya hingga mencapai sebuah titik peradaban awal sang manusia, tatkala Allah pertama kali menciptakan sosok manusia pertama. Sebagai Adam. Tercipta dari tanah lempung, yang berair.. yang menjadi lumpur, lalu Dibentuk oleh Allah dengan sebaik-baik Ciptaan…
Bayangkanlah ketika kita hidup sebagai sosok Adam yang sendiri. Walaupun berada di surga yang penuh kenikmatan, tentu satu saat akan merasa kesepian. Dari rasa sepi itu, lahirlah sebuah harapan bahwa suatu saat akan hadir seseorang yang bisa menghilangkan rasa sepinya, yang menjadi pasangan hidupnya, yang menjadi pendampingnya, yang menyertainya serta menemaninya di dalam kehidupan. Menjadi sebuah sunatullah, ketika Dia Sang Maha Mencipta selalu menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Antara siang dengan malam, antara suka dengan duka, antara sempit dengan lapang, antara bumi dengan langit, antara matahari dengan bulan, antara daratan dan lautan, serta makhluk lainnya pun tercipta berpasangan, termasuk sebuah pasangan yang maha unik, antara Sang Khaaliq, sang pencipta yang berpasangan dengan sang makhluq, yang tercipta.
Mari bayangkan pula ketika kita memahami bahwa tatkala Allah lalu menghadirkan pasangan sejati bagi diri kita, yang disebutkan dalam kitab suci, diambil dari sebagian tulang rusuk kita… bagian dari tubuh kita.. dan terciptalah sosok Hawa, sebagai pasangan Adam, dan saat itu dirasakan pula oleh Adam sebagai sebuah anugerah besar Allah atasnya… mereka pun mendiami surga penuh kenikmatan, hidup bersama dan terpenuhilah fitrah dasar tidak ingin sendiri nya…
Read the rest of this entry »