10.31.08
Sudahkah Kita Berkurban?
Bismillah ar-Rahman, ar-Rahim, semoga hamba bisa meminjam dua asma-Mu ya Rabb, semoga ini menjadi tulisan pengantar renungan kita semua. Better late than never…
Iedul Qurban, bersumber dari dua kata dalam bahasa Arab, “Ied” dari kata ‘aada – ya’uudu, artinya “kembali”. “Qurban”, dari kata qaraba-yaqrabu, “mendekat”… Iedul qurban kemudian dimaknai oleh nalar saya sebagai sebuah hari di mana setiap kita belajar untuk kembali merenungi hal apa yang dapat membuat kita dapat mendekati Dia Sang Maha Lembut.
Banyak cara setiap hamba mendekati Allah, maka salah satu cara itu dengan mengorbankan sebagian hartanya yang ditukarnya dengan daging kambing atau sapi, dengan harapan Allah menarik mereka, menerima qurban mereka sebagaimana Allah menerima qurbannya Habil sang putra Adam. Tentu yang kita kurbankan adalah harta yang memang terasa berat untuk dilepas, bukan harta yang kita keluarkan dengan ringan hati disebabkan masih sangat banyaknya sisa harta yang kita miliki. Artinya kita yang bergaji 45 juta per bulan, dengan mengeluarkan dana 1 juta untuk kambing bisa jadi belum disebut berkurban karena tidak ada rasa pengorbanan yang membuat dia sulit mengeluarkannya. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang Ibrahim bisa mengeluarkan ratusan unta untuk daging kurbannya!
Tentu logika pemikiran kita perlu diajak untuk memaknai, mengapa akhirnya kita mahfumi banyak sekali umat Islam, para saudara kita yang setiap tahun berhasil mengeluarkan sebagian dananya untuk berkurban, namun hal apa yang berhasil mereka peroleh dari penyisihan sebagian uangnya itu selain hal tersebut lewat begitu saja dengan tidak membawa perubahan sedikit pun ke dalam diri mereka, yang menunjukkan bahwa makna iedul kurban belum berhasil mereka peroleh…, ketika kedekatan dengan Allah tidak bertambah, jiwa tidak semakin halus, jasad tidak semakin beramal baik, alih-alih lewat ied itu mereka dapat menemukan amal shalih mereka.
Mungkin, (terlintas dalam benak saya) karena kita belum berhasil menemukan makna Iedul Adha, sebagai nama lain dari iedul qurban itu sendiri… “adha” memiliki makna penyembelihan, ada yang kita sembelih di setiap perayaan Iedul Adha setiap tahun.
Ketika kita belum memilki kemampuan untuk menyisihkan sebagian dana yang kita miliki dalam rangka belajar berkurban, mengorbankan harta kita, untuk menyembelih hewan kurban, kita sebenarnya telah Allah beri kemampuan melakukan penyembelihan lain, menyembelih dominasi aspek hawa nafsu dan syahwat kita, sudah waktunya sekarang, pada saat kita memasuki pergantian tahun baru ini, pergantian perilaku yang baru ini, mari kita sama-sama belajar (terutama nasihat buat saya pribadi) belajar untuk menyembelih dominasi aspek kedengkian, aspek ketakaburan, aspek buruk sangka, aspek keinginan pengakuan bahwa diri ini berharga di mata orang lain, dan segala aspek lainnya.
Ah, tidak mudah memang menyembelih semua dominasi syahwat hawa nafsu ini, untuk belajar menghargai waktu juga bukan hal yang sederhana, untuk belajar memaafkan orang lain pun juga bukan hal remeh, apalagi kita mencoba berjuang menemukan amal-amal shalih kita.
Tapi yang membuat saya pribadi senantiasa memiliki harapan kuat, karena Allah rasanya tidak pernah merasa bosan menerima dan menerima terus setiap penyesalan kita, setiap kesadaran diri yang lemah kita, setiap pengakuan dosa kita. Semoga pengakuan ini menjadi tanda bahwa kita memang butuh dan selalu membutuhkan Dia Sang Maha Pengayom dan Pembuka Jalan.
Semoga kita berhasil merayakan iedul qurban atau iedul adha kita dengan bersama2 membangun kesadaran diri. Ya Allah, semoga pengorbanan hamba demi taqarrub kepada-Mu Engkau terima, semoga Engkau beri pula hamba kekuatan untuk dapat menyembelih setiap dominasi hawa nafsu dan syahwat yang senantiasa menenggelamkan hamba. Duh Gusti… ampuni hamba.
Rasuna Said street, 4 Desember 2007, 10:26 WWIB
10.08.08
Ketika Kaget, mengapa Masya Allah?
[Cucu] Abah, boleh nanya lagi nih sama abah, apa yang selama ini biasa diucapkan, tapi kok maknanya aneh….
[Kakek] Silakan cucuku…
[Cucu] Begini abah, kenapa kalau kita menemukan hal yang tak terduga, atau diluar keinginan kita, secara reflek biasanya orang berucap kalimat: “Maasyaa Allaah…?” Memang Nabi mengajarkan kalimat itu kan? tapi maksudnya untuk apa?
[Kakek] Baiklah, abah coba jelaskan, arti harfiahnya adalah “apa-apa yang Allah kehendaki….” Tentu makna luasnya tidak berhenti disana karena kalimat itu tampak belum tuntas, bukan kalimat sempurna… seolah ada tambahannya…
Yang abah mengerti, bisa saja tambahannya…..Apa-apa yang Allah kehendaki… terjadilah…
Apa-apa yang Allah kehendaki, terwujudlah… itulah kehendak Allah yang bisa jadi tidak bersambung langsung dengan kehendak manusia…
Kalimat masya Allah bisa jadi sebuah pengingat kita sebagai hamba-Nya yang sering merasa kecewa, marah dengan apa yang telah terjadi ketika kejadian itu diluar keinginan dan kehendak kita…
Kita sering marah, sering sulit menerima sebuah keadaan… yang tidak seiring dengan keinginan.. maka Allah mengingatkannya.. itulah kehendak-Nya… walaupun tampak diluar keinginan, maka yakinilah sesungguhnya kehendak Allah jauh lebih sempurna..
Rencana Allah dibalik kejadian itu pastilah sebuah rencana terbaik yang telah Allah izinkan terjadi, dan pasti memberi sebuah pelajaran dan makna dalam dibalik itu….
Kalau Allah sudah izinkan terjadi, seharusnya kita membangun bersama sebuah kesadaran dan keyakinan bahwa pasti itu terbaik yang Dia hadirkan. Jika kita sudah berhasil membangun kesadaran dan keyakinan bahwa itu adalah sesuatu yang terbaik.. maka menjadi tugas kita untuk terus menggali apa nilai kebaikan yang telah Allah hadirkan pada peristiwa diluar dugaan kita itu…
Dengan ucapan itu. Allah mengingatkan kita untuk segera melihat kepada-Nya… bukan kepada kejadian itu atau bukan kepada manusia lain yang menjadi sebab hadirnya perisitiwa itu…
Itulah makna ucapan masya Allah cucuku… semoga Allah senantiasa memberkati kita… Amin..
Saat Doa Tidak Dikabulkan

“Apabila suatu permohonan ditahan, berarti kamu telah diberi.
Akan tetapi bila permintaanmu segera diberi,
berarti suatu anugerah yang lebih besar telah ditolak.
Oleh karena itu utamakan tidak memperoleh daripada memperoleh.
Sesungguhnya seorang hamba tidak memilih sendiri,
akan tetapi menyerah kepada iradah Allah,
yang menciptakan semua kebutuhan manusia dan yang membagi-bagikannya.”
(Muhyiddin Ibnu Arabi)
