09.29.08
Hidangan Menakjubkan dari Sang Rumi
Manakala orang mendengar bahwa di suatu kota seorang manusia yg baik memperoleh karunia dan pemberian yg menakjubkan, ia akan pergi ke sana dengan harapan dapat memperoleh bagian. Karena karunia Allah begitu masyhur dan seluruh dunia mengetahui Kebaikan-Nya, mengapa engkau tidak memohon kepada-Nya? Mengapa engkau tidak berhasrat pada jubah-jubah kebesaran dan emas-emas kemurnian? Kau duduk dalam kedunguan dan berkata, “Jika (memang) Dia menghendaki, Dia akan memberikan sesuatu”, dan engkau tidak memohon sesuatu pun. Lihatlah seekor anjing yg tidak memiliki akal ataupun pemahaman, manakala ia lapar dan tidak menemukan makanan, ia datang padamu dgn mengibas-ngibaskan ekornya. Artinya, “Berilah aku makanan karena aku tidak mempunyai makanan dan engkau memilikinya”.
Hal ini mengindikasikan adanya suatu pemahaman. Kini jelaslah, kau tiada bedanya dengan anjing, yg tidur di atas debu dan berkata, “Jika dia ingin, dia akan memberikan aku makanan”. Ia menggonggong dan mengibas-ngibaskan ekornya, kau juga, mengibas-ngibaskan ekormu dan memohon kepada pada Allah! Memohonlah, karena di hadapan Ar-Rahmaan, permohonan dikabulkan! Karena engkau bukan pewaris kebaikan, mintalah dari seseorang yg tidak kikir dan memiliki banyak kekayaan.
(Fihi ma Fihi 171-172/180)
Mereka berkata bahwa pada akhirnya, cinta adalah keinginan dan kebutuhan akan sesuatu. Karenanya, kebutuhan adalah akar, dan sesuatu adalah cabang. Kataku: Bagaimanapun juga, manakala engkau berbicara, engkau bicara tentang kebutuhan, engkau wujudkan kebutuhanmu itu. Karena engkau menginginkan apa yg telah engkau ungkapkan lewat kata-kata, akan terwujudlah ia! Maka, kebutuhan adalah yg utama, dan kata-kata mengalir karenanya. Tapi, dalam hal ini, kebutuhan telah ada tanpa kata-kata, cinta & kebutuhan tidak dapat disebut sebagai cabang dari kata-kata.
Seseorang berkata: Tapi tujuan dari kebutuhan adalah kata-kata. Maka bagaimana mungkin tujuan adalah cabang? Guru menjawab: Cabang-cabang selalu menjadi tujuan dari akar-akar, suatu pohon ada karena cabang-cabannya.
(Fihi ma Fihi 139/148)
Al-Qadiir, Yang Maha Kuasa, tidak memberkati
sesuatu pun tanpa kebutuhan.
Jika tiada kebutuhan bagi dunia, Tuan dari penduduk
dunia tidak akan pernah menciptakannya.
Jika bumi yg bergempa ini tidak membutuhkan
gunung-gunung, akankah Dia menciptakannya?
Andaikata tiada kebutuhan akan cakrawala, Dia
tidak akan mewujudkan tujuh langit dari non-wujud.
Matahari, bulan, dan bintang-bintang, bagaimana
mungkin menampak jika tiada tersirat kebutuhan?
Jadi, simpul segala wujud adalah kebutuhan.
Kelengkapan manusia adalah keluasan dari kebutuhannya.
Maka, oh manusia yg penuh dengan kebutuhan, segeralah tambah kebutuhanmu! Lalu Lautan Karunia akan melimpah dalam kemurahan. Para pengemis dan si pincang di jalanan menunjukkan kebutuhan mereka pada orang-orang.
Kebutaan, kepedihan, rasa sakit, dan derita,
sehingga orang-orang akan menaruh iba.
Pernahkah seorang pengemis berkata, “Wahai manusia, berilah aku roti karena aku memiliki kekayaan, gudang-gudang, dan meja yg lebar!”?
(Matsnawi II 3274-83)
Read the rest of this entry »
09.28.08
Berkawan Dengan Orang Bodoh atau Orang Alim
Ibnu Athaillah Al-Iskandari menuntun kita:
“Engkau bersahabat dengan orang bodoh tetapi tidak mengikuti hawa nafsunya, lebih baik bagi kamu daripada engkau bersahabat dengan orang alim, tetapi suka mengikuti hawa nafsunya. Tak mungkin ilmu itu dimiliki orang alim, apabila ia menyenangi hawa nafsunya, dan dimana letak kebodohan orang bodoh yang tidak menuruti nafsunya.”
Bersahabat itu sangat penting, karena akan menambah dan meluaskan pergaulan dan meniadakan hidup kesendirian atau individual. Sebab pergaulan akan menghidupkan rasa solidaritas. Oleh karena itu, memilih teman bergaul diperlukan agar terhindar dari pengaruh jelek yang akan merusak pribadi seseorang, dan mengaburkan kesucian dari wajahnya. Demikian juga bergaul dengan orang berilmu yang saleh akan mendapatkan ilmu dan kesalehannya, sedangkan bergaul dengan orang yang bodoh dan rusak akan mendapatkan kebodohan dan kerusakannya.
Sedangkan teman sepergaulan yang paling baik ialah bergaul dengan orang bodoh tetapi berbudi pekerti baik dan saleh. Sebaliknya, sejelek-jelek pergaulan adalah bergaul dengan orang pandai, tetapi suka mengikuti hawa nafsu.
Gambaran dari hadis Nabi Muhammad saw. dalam bergaul diibaratkan pergaulan itu seperti berteman dengan penunggu tungku besi (tukang besi), dan penjual minyak wangi. Bergaul dengan tukang besi membuat kita berbau asap yang merusak hidung dan kerongkongan kita. Sedangkan bergaul dengan penjual minyak, ia akan ikut menghirup wanginya minyak tersebut, walaupun bukan pemiliknya. Hanya orang yang arif dan saleh sajalah yang mampu memahami perumpamaan dari hadits Nabi Muhammad saw.
Memang memilih teman bergaul sangat menentukan sifat dan akhlak seseorang. Seorang hamba yang menuju makrifat, selain memilih teman bergaul, juga wajib berhati-hati dalam pergaulan. Sebab hanya ada dua pilihan, akan terangkat ke maqam ketaatan dan makrifat, atau akan terjerumus ke lembah maksiat dan kerusakan.
Akan tetapi kadang-kadang terjadi orang-orang berilmu dan pemimpin umat terjerumus ke lembah hawa nafsu dan kemaksiatan, karena ilmunya tidak mampu melepaskan diri dari godaan hawa nafsu. Barangkali orang bodoh tanpa ilmu, lebih mudah menghindari hawa nafsu dan langkah maksiat. Memang kadang-kadang kebodohan menyelamatkan. Kepandaian kadang-kadang membuat orang merasa mampu berhadapan dengan pengaruh dunia melalui ilmunya, akan tetapi ternyata ia lemah ketika berhadapan dengan kenyataan. Mengapa? Karena kadang-kadang orang pandai merasa mampu lalu sombong, dan di saat sombong itulah nampak kelemahannya. Ia bisa terjebak masuk ke wilayah hawa nafsu, sadar atau tidak sadar.
Hamba yang sedang berjalan menuju makrifat dan kesalehan serta keihsanan, perlu menempatkan dirinya dalam pergaulan penuh kewaspadaan. Kemudian memberikan kekuatan bagi diri kita dengan doa dan zikir, sedekah, selain ibadah wajib lainnya. Mengasyikkan diri dalam ibadah, dan bergaul dengan orang-orang saleh, para ulama, menjadi dasar penting bagi hamba yang sedang menuju makrifat.
Untuk mendapatkan ridha Allah di dunia dan akhirat, maka hendaklah seorang hamba melakukan riyadhah dan mujahadah terus menerus sehingga ia mencapai maqam makrifat yang bertahap dari waktu ke waktu sampai kepada kesempurnaannya. Menempatkan Allah di atas segala kepentingan duniawi dalam pergaulan hidup itulah jalan yang benar dari perjalanan si hamba mendekati Allah SWT.[]
Bagaimana Mencari Sahabat?
Ibnu Athaillah Al-Iskandari berkata:
“Janganlah kalian bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan semangat beribadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati Allah SWT. Apabila kalian berbuat salah, ia mengatakan bahwa itu adalah kebaikan, sebab kalian bersahabat dengan orang yang perilakunya lebih jelek dari diri kalian sendiri.”
Pembicaraanmu dengan seorang sahabat dalam pergaulan dengan cara yang baik dan sopan santun, diajarkan dalam dasar-dasar agama Islam. Demikian percakapan itu menjadi dasar dalam pergaulan hidup manusia yang dapat diambil manfaatnya. Pada dasarnya persahabatan itu mempengaruhi hidup manusia. Memilih pergaulan sebagai cara memperbagus persahabatan sama pentingnya seorang memilih makanan yang cocok dengan seleranya, juga makanan yang memberi manfaat bagi kesehatan.
Bergaul dengan orang saleh, tentu saja akan memperoleh kesalehannya. Bergaul dengan orang berakhlak buruk, ia akan mendapatkan akhlak buruk juga. Berbicarapun demikian. Berbicara selalu menjadi ukuran bagaimana keadaan seseorang. Nilai seseorang diukur dari ucapannya. Ucapan yang sesuai dengan tuntunan Nabi saw. adalah yang mampu menggerakkan semangat, beramal dan beribadah, serta sebagai pemicu amalan yang diridhai oleh Allah. Sabda Rasulullah saw “Bergaul hendaklah dengan sesama orang beriman, dan makanan yang disajikan dimakan oleh orang-orang yang taqwa” (HR Abi Daud dan Tirmidzi).
Ketahuilah, bahwasanya pokok sengketa manusia itu berasal dari pergaulan. Pergaulan yang tepat adalah memilih dan menyaring, orang yang akan bersama kita, persahabatan yang tepat adalah mendapatkan orang yang tidak hanya bisa tertawa di kala kita senang, tetapi juga menangis bersama kala kita susah.
Bersahabat memang penting, lebih penting lagi adalah kebaikannya, dan menghindari sahabat yang membawa kerusakan (mafsadah). Sebaik-baik orang yang bersahabat ialah mereka yang berjumpa karena Allah dan apabila berpisah juga karena Allah. Jangan sampai sahabat kita akan menenggelamkan kita sendiri, karena harus mengikuti kemauan mereka, tanpa mengetahui tujuan dan arah yang jelas dan bermanfaat. Sufyan Ats- Tsaury berkata, “Apabila kalian bergaul dengan orang banyak tentunya harus mengikuti mereka. Barangsiapa yang mengikuti mereka, tentu harus mengambil hati mereka, barangsiapa yang mengambil hati mereka, akan binasa seperti mereka.”
Bersahabatlah dengan orang yang akan menyelamatkanmu di dunia dan akhirat, melepaskanmu dari bencana yang sengaja atau tidak disengaja. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Biasanya kalian suka mengikuti sepak terjang sahabat-sahabatmu, maka hendaklah kalian suka memilih orang yang akan menjadi sahabatmu.” (HR Ahmad dan Tabarany).
Khalifah Ali mengingatkan, “Kawan yang paling jelek ialah orang yang suka mencari-cari kesalahanmu, dan mengajak kamu bermuka dua.”[]
Mengapa Saya Beri’tikaf?
(berikut ini tulisan sahabat dan saudara saya, Muhammad Sigit Pramudya. Dan atas izinnya untuk dihidangkan di blog ini dg beberapa penyesuaian redaksi agar dapat di “santap” oleh pembaca lebih banyak lagi sehingga keberkahannya pun bertambah, insya Allah. semoga hidangan ini memberi makna dalam bagi kita semua….) ilustrasi gambar saya unduh dari http://kaffah4829.wordpress.com/2006/10/11/itikaf/
******
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa itikaf.
Sudah pamitan sama anak dan istri, sampai jumpa di Idul Fitri nanti, insya Allah. Sudah berbackpack, dengan pakaian yg cukup hingga lebaran.
Semoga sampai di Idul Fitri, dengan hati baru, bukan barang baru (ini motto yg sedang beredar di perempatan2 jalan Dago, yang disponsori oleh BaBe – Barang Bekas –> toko junkyard). Tendensius, tapi lucu.
Dan lucu juga setelah mengamati itikafnya itu sendiri. Ternyata bagi banyak umat Islam, itikaf itu bermakna di masjid bersama-sama. Jadi kalo tidak bersama-sama, tidak rame, tidak ngariung, bukan itikaf namanya.
Makanya ketika ada beberapa beberapa jamaah yang datang ke sebuah Masjid kecil di Dago dengan niat beritikaf, tapi begitu menyaksikan tidak banyak orang yang hadir, maka dia membatalkan itikafnya. Ah… kalo sendirian-mah itikaf di rumah aja lah…
Lho… sejak kapan ada itikaf di rumah?
dan sejak kapan itikaf harus ramai2?
Read the rest of this entry »
09.03.08
Doa ke-3, Renungan ke-3 di dalam ramadhan ke-3
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ الذِّهْنَ وَ التَّنْبِيْهَ وَ بَاعِدْنِيْ فِيْهِ مِنَ السَّفَاهَةِ وَ التَّمْوِيْهِ وَ اجْعَلْ لِيْ نَصِيْبًا مِنْ كُلِّ خَيْرٍ تُنْزِلُ فِيْهِ، بِجُوْدِكَ يَا أَجْوَدَ الْأَجْوَدِيْنَ
Yaa Allah! Berikanlah aku rezki akal dan kewaspadaan dan jauhkanlah aku dari kebodohan dan kesesatan. Sediakanlah bagian untukku dari segala kebaikan yang kau turunkan, demi kemurahan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Dermawan dari semua dermawan!
Renungan diri…..
Rizki adalah sebuah karunia… karunia dari Dia Sang Pemberi Rizki, bisa dalam bentuk kelapangan harta, kelapangan pengetahuan, kelapangan keturunan, kelapangan pekerjaan….dll… itulah rizki, dan tidak banyak manusia di bumi ini yang sadar betul bahwa nafas yang dihembuskannya pun adalah sebuah rizki dari-Nya…
Yang mampu sang hamba lakukan adalah memohon dan memohon, diberi kelapangan rizki tersebut… yang mampu hamba lakukan adalah meminta karunia itu….
Namun, tidak ada permohonan dan permintaan dan doa yang lebih Allah dengar selain permohonan dari seorang hamba yang mengedepankan terlebih dahulu pengabdian tulus pada-Nya….
Indah nian ayat “iyyaka na’budu.. wa iyyaaka nasta’iin” dalam al-fatihah kita…
Kepadamu kami mengabdi ya Rabbi, dan kepada-Mu pula kami memohon pertolongan….
Dalam ayat mulia tersebut betapa Allah memberi peluang besar bagi sang hamba untuk bisa mendapatkan pertolongan…. Sepanjang pengabdiannya tulus pula dipanjatkan dihantarkan…. Pengabdian sepenuhnya ketika sang hamba berjuang untuk bersabar atas segala musibah, bersyukur atas setiap anugerah dan ridla menerima ketetapan-Nya yang selalu terbaik di mata-Nya…..
Ya Allah, ya Gusti….
Jadikan kami sebagai pengabdi yang tulus… hingga anugerah rizki pun Engkau limpahkan tanpa ada ketertundaan….
Dan tidak ada anugerah rizki yang lebih luhur ya Rabbi, selain anugerah akal yang sehat… akal lahir hamba dan akal batin hamba…
Ampuni kami ya Allah…. Atas segala kelalaian kami…
09.02.08
doa ke-2, renungan ke-2, ramadhan-2
اَللَّهُمَّ قَرِّبْنِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Yaa Allah, dekatkanlah aku kepada keridhoan-Mu. Jauhkanlah aku dari kemurkaan serta balasan-Mu. Berilah aku kemampuan untuk membaca ayat-ayat-Mu, dengan rahmat-Mu, Wahai Maha Pengasih dari semua yang mengasihi
Renungan diri
Ridla Allah, seperti apakah bentuknya? kapan seseorang berhasil mendapatkan ridla ALlah… pemaknaan yang dirasakan diri ini adalah… ridla ALlah akan Dia hadirkan, tatkala kita berhasil membangun keridlaan dengan semua apa pun yang telah Dia izinkan terjadi…
selama kita mengeluhkan apa yang ada di tangan kita, selama kita tidak puas dengan semua garis takdir yang telah ALlah izinkan hadir, dan kita menghadapinya, selama itu pula keridlaan Allah pun akan sangat sulit dapat kita rasakan.
kelapangan diri, karena Dia yang melapangkan, dan Dia telah lapangkan karena kita berhasil membangun sebuah rasa ridla penuh penerimaan, rasa rela dan lapang dengan apa pun yang telah digulirkan, apapun yang hari ini kita dapatkan.
karena itu, minimal kita perlu belajar tidak mengeluhkan dengan apa yang terjadi, belajar puas dengan apa yang sudah Dia hadirkan, semoga hal itu yang akan memancing keridlaan Allah hadir pula.
dan kapan kemampuan membaca ayat itu Dia hadirkan pula? tatkala indera pembaca ayat, pembacaan tanda kehidupan, pembacaan tanda dari kehendak-Nya, itu telah ALlah jernihkan, itulah indera mata di dalam batin kita. kita hanya bisa memohon kesucian-Nya, memohon kejernihan indera batin ini, semoga kelak Dia bersihkan, Dia sucikan dan Dia hadirkan kemampuan diri ini dalam membaca tanda-tanda kehidupan di alam dunia ini.
Rahmat pertolongan dan kasih-Mu senantiasa kami rindukan ya Rabbi.
09.01.08
Doa ke-1, Renungan ke-1, Ramadhan-1
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ صِيَامَ الصَّائِمِيْنَ وَ قِيَامِيْ فِيْهِ قِيَامَ الْقَائِمِيْنَ
وَ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِيْنَ
وَ هَبْ لِيْ جُرْمِيْ فِيْهِ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَ اعْفُ عَنِّيْ
يَا عَافِيًا عَنِ الْمُجْرِمِيْنَ
Yaa Allah! Jadikanlah puasaku sebagaimana puasanya orang-orang yang benar-benar berpuasa,dan ibadah malamku sebagai ibadah orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah malam.
dan jauhkan aku dari tidurnya orang-orang yang lalai, hapuskanlah dosaku, Wahai Tuhan Sekalian Alam, ampunilah aku, wahai Pengampun Para Pembuat Dosa
….
Puasa yang berasal dari istilah arab Shaum bermakna “penjagaan” yang terpahami hari ini adalah saat bisa berpuasa yang menahan diri, puasa yang mencoba membangun penjagaan diri melalui perantara rasa lapar…
menjaga diri dari segala hal yang Allah benci…

