08.31.08

Indahnya Menemukan Sang Tulang Rusuk Diri!!!

Posted in Tentang Pasangan dan Pernikahan at 3:07 pm by kuswandani

Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita.

Tanpa mereka , hati, pikiran, perasaan lelaki akan resah.

Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya.

Apalagi yang tidak ada di surga,

namun Nabi Adam a.s tetap merindukan Siti Hawa.

Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri, atau puteri.

Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh

lelaki, tetapi kalau sendiri yang tidak lurus,

tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.

Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus.

Luruskanlah mereka dengan petunjuk Allah,

karena mereka diciptakan begitu rupa oleh-Nya.

Didiklah mereka dengan panduan dari-Nya:

Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar…

Jangan hibur mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita…

Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah…

Kenalkan mereka kepada Allah, Dzat yang kekal, di situlah kuncinya

Akal setipis rambutnya, tebalkan ia dengan ilmu….

Hati yang serapuh kaca, tebalkan ia dengan iman….

Perasaan yang selembut sutera, hiasilah ia dengan akhlak….

Suburkanlah, karena dari situlah nanti mereka akan nampak

penilaian dan keadilan Tuhan.

Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik

dunia, presiden ataupun perdana menteri ataupun women gladiator.

Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan.

Itu bukan diskriminasi Tuhan.

Sebaliknya di situlah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang

lembut itulah yang mengandung-kan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan,

jutawan dan wan-wan lain

Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.

Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.

Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan,

bahkan mereka pula membengkokkan.

Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh kaum perempuan…daripada

perempuan yang dirusak oleh laki-laki…

Sebodoh-bodoh perempuanpun bisa menundukkan sepandai-pandainya lelaki.

Itulah akibat apabila wanita tidak kenal Tuhan.

Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki.

Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun

akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri

dan bapak akan kehilangan puteri .

Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara.

Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.

Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepemimpinan.

Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah, pimpinlah diri sendiri

dahulu kepada-Nya.

Jinakkan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.

Jangan mengharap istri seperti Siti Fatimah,

Kalau pribadi belum lagi seperti Sayidina Ali.

(ps. Mohon maaf saya belum berhasil menemukan sumber asli, dan penulis asli dari tulisan indah ini….

semoga hikmah, keberkahan dan aliran pahala senantiasa mengalir kepada sang penulis… karena maknanya yang cukup dalam…. )

08.30.08

History of Prayer

Posted in belajar merenung at 1:40 am by kuswandani


Aku memohon diberi Kekuatan….
Dan ALLAH memberikan Kesulitan agar membuatku menjadi kuat.
Aku memohon agar menjadi Bijaksana….
Dan ALLAH memberiku Masalah demi masalah untuk diselesaikan dan disikapi dengan sebaik-baik penyikapan.

Aku memohon Kekayaan….
Dan ALLAH memberi saya Bakat, Waktu, Kesehatan, dan Peluang hingga akhirnya aku menemukan nilai sebuah kekayaan lahir dan batinnya…

Aku memohon Keberanian….
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.

Aku  memohon Rasa Cinta….
Dan ALLAH memberikan orang orang bermasalah untuk dibantu

Aku memohon Keberanian….
Dan ALLAH memberikan hambatan untuk dilewati.

Saya memohon Kelebihan….
Dan ALLAH memberiku jalan untuk menemukannya.

“ Aku tidak menerima apapun yang kuminta….
…….Akan tetapi Aku menerima semua yang seharusnya aku butuhkan ”

(ps..hatur nuhun teh opi-sidoarjo… bait lama dari sang anonym,  dikutip lagi dan disesuaikan redaksinya….)

(gambar saya unduh dari swaramuslim.net/islam/more.php?id=5348_0_4_0_M)

08.26.08

Rasulullah, Pengemis Tua, dan Satu Sen

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 10:17 am by kuswandani

oleh Bawa Muhaiyaddeen

Cucu-cucuku tersayang, perempuan maupun laki-laki. Tuhan telah menempatkan seluruh kekayaan-Nya di dalam diri kita. Dia telah menganugrahkan kepada kita kekayaan mubarokat, kekayaan tiga dunia. Temukanlah khazanah ini melalui perilaku yang baik. Kekayaan itu benar-benar ada, namun tersembunyi jauh di dalam diri kita. Kita sendirilah yang telah menguburnya, terpendam oleh rasa iri dan dengki, dan kini kita musti menggalinya dalam-dalam untuk memperoleh kembali kekayaan itu. Kita musti mengeruk dan menepis jauh-jauh kegelapan untuk memperolehnya.

Anak-anakku terkasih. Untuk menjelaskannya, ijinkan aku bercerita tentang sebuah kisah. Cerita tentang Rasulullah s.a.w.

Di kota Madinah, tersebutlah seorang tua. Hidupnya sangatlah nestapa. Kesulitan demi kesulitan menimpanya, masalah demi masalah. Ia mengadukan nasib hidupnya ini kepada orang-orang yang kemudian menyuruhnya pergi ke tempat ini dan itu. Awalnya ia memohon kepada raja dan raja berkenan membantunya, namun pak tua itu tak beroleh banyak dari uluran tangannya. Lalu ia pergi ke para guru yang kemudian membantunya ala kadarnya, namun ia tetap miskin. Tampaknya tak seorang pun sanggup mengangkat kesulitan yang dihadapinya. Tak satu pun cara mampu mengubah keadaannya. Dan tiada henti ia bertanya siapa gerangan yang dapat mengakhiri kesengsaraan hidupnya ini.

Lalu, seseorang memberi nasihat kepadanya, “Temuilah Rasulullah s.a.w. dan mintalah tolong kepadanya. Ia tinggal di ujung sana. Pergilah kepadanya.”

Maka pengemis tua itu pergi menemui Muhammad s.a.w., “Wahai, Rasulullah. Kehidupanku sungguh sulit,” ujarnya. “Aku datang meminta tolong kepadamu demi mengakhiri kenestapaan ini.”

“Wahai, saudaraku, sebab itukah kau datang kemari? Bagus sekali,” jawab Rasulullah s.a.w. “Baiklah, kini serahkan kepadaku semua yang kau miliki.”
Read the rest of this entry »

Selamat Datang Ramadhan Mulia!! Bolehkah merindu-Mu?

Posted in Ramadhan-kan Hamba Ya Allah!! at 5:00 am by kuswandani

Ya Allah, sungguh ingin sekali hamba merasakan kerinduan menemui bulan mulia-Mu,

sebagaimana rindunya Nabi Agung Saw, yang setiap jelang ramadhan selalu menyambutnya penuh sukacita…

Rabbi, hadirkan kerinduan sejati ini… hadirkan sebuah kebersemangatan diri… hadirkan sebuah detik demi detik masa yang ditunggu, hari yang mempesona, ah, boleh kan ya Rabb, hamba iri-kan ini…..?

Juga hamba mohon…please….

Dijauhkan dari segala jenis bentuk kemalasan menghancurkan ini, kepayahan beribadah, rasa kantuk tak produktif, pikiran-pikiran kosong melalaikan, buruk sangka berkepanjangan, canda tak bermakna, keluhan demi keluhan… keburukan demi keburukan, kedengkian demi kedengkian…

Hamba mulia-Mu, kanjeng Nabi, bisa  merasakan nikmatnya rasa lapar…. nikmatnya memberi dan memberi, nikmatnya menahan diri dari keburukan demi keburukan…. bolehkan hamba meraskannya juga…

Hamba mulia-Mu, kanjeng Nabi, mampu berdiri tegak hingga bengkak kaki, dalam shalatnya, panjang sujudnya, dan rukuknya…. apakah ini juga boleh hampa pinta?

Hamba mulia-Mu, kanjeng Nabi, mampu dengan lirih, berdzikir, merenungi diri, tafakkur penuh kerinduan… ini hamba-Mu… tengah memimpikan itu…sudikah kiranya Engkau anugerahkan…

Ya Ilahi…

hari demi hari…

semakin dekat menemui Ramadhan-Mu…. siapkah hamba? mampukah hamba peroleh semua hadiah dibalik agungnya ramadhan-Mu?

di 30 hari-Mu, temukan hmba pada hari-hari kesadaran akan jutaan dosa diri, dan permohonan ampunan dan kesucian diri,

temukan hamba pada hari-hari hamba menghiasi diri dengan kebaikan demi kebaikan-Mu, perkenan-Mu….

dan akhirnya… siapa yang tidak mengangankan hari-hari anugerah lailatulqada-Mu ya Allah.. duh indah nian…..

ah, ya Allah…

Tak terlukiskan… apalagi yang akan hamba pinta… hambalah sang peminta-minta… Engkau Sang Pemberi…

ini pengemis-Mu ya Rabbi… kasihanilah hamba…

Allah…

Allah…

Allah……

(gambar saya unduh dari sunniy.wordpress.com/)

08.25.08

06.21 Wib, 25 Agustus 2008, senin…

Posted in belajar merenung at 8:04 pm by kuswandani

itulah angka-angka dan kalimat, yang tampil menyertai kehadiran sang amanah bagi bapaknya… amanah bagi ibunya…

titipan dari Dia Sang Maha Pemelihara….

Rabbi, kiranya Engkau pula yang kelak akan menurunkan kekuatan bagi kami dalam menjalani amanah-Mu..

menuntun hamba-Mu yang lahir di hari-hari jelang ramadhan-Mu….

Rabbi, kiranya Engkau pula yang menjadi tumpuan sebenar-benar pengharapan kami, untuk bisa mengenalkan kepada anak kami ini, asma-Mu, sifat-Mu, dan tindakan-tindakan mulia-Mu…..

ajarkan kami agar kami pun bisa mengenalkan rahasia indah sebuah kesabaran dalam menghadapi luasnya lautan dunia menjebak ini…

ajarkan kami, agar kami pun bisa mengenalkan rahasia indahnya sebuah rasa syukur dalam memanfaatkan setiap karunia apa pun yang telah Engkau hadirkan…

Rabbii…

Tak ada lagi ruang kata-kata bagi sebagai rasa syukur mendalam kami dalam menyambut sang putera ini…

kami hanya mampu mengantarkan sebuah doa…. Engkau Sang Pengabul…

kami hanya mampu mengantarkan sebuah harapan… Engkau Yang Mewujudkan harapan itu…

kami hanya mampu mengantarkan sebuah kebergantungan… Engkau yang menyambutnya…

duh Gusti…

ampuni dari segala ketergelinciran dan kelalaian kami….

..

08.15.08

Rasulullah Saw. dan Pengemis Yahudi Sang Penghina…

Posted in belajar merenung at 4:09 pm by kuswandani

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah
lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

ps. makasih buat sdr. adang atas mailing kisah ini… punten saya bajak ke sini.. semoga manfaat buat kita semua…

Indahnya Pengetahuan Kebenaran!!

Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 12:39 am by kuswandani

Berkata Imam Asy Syafi’I ra. :

Barangsiapa tiada menjaga dirinya maka tak bergunalah ilmunya.

    Barangsiapa ta’at kepada Allah Ta’ala dengan ilmu, maka bermanfaatlah bathinnya.

      Tidak seorangpun melainkan ia ada orang yang menyukainya dan ada orang yang membencinya. Apabila    demikian adanya, maka hendaklah engkau bersama orang yang ta’at kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

        • Diriwayatkan Bahwasanya Abdul Qadir bin Abdul ‘Aziz adalah seorang yang saleh dan wara’. Ia bertanya kepada Imam Asy Syafi’I ra. tentang beberapa masalah tentang wara’. Dan Imam Asy Syafi’I pun merasa senang dengan menerima kedatangannya karena wara’-nya. Dan pada suatu hari ia bertanya kepada Imam Asy Syafi’I:

        “Manakah yang lebih utama apakah sabar, ataukah diuji atau ataukah diberi keteguhan hati?…”

        Maka menjawab Imam Asy Syafi’I ra. :

        • “Diberi keteguhan hati itu derajat para Nabi, dan tak ada keteguhan hati selain sesudah adanya ujian. Apabila ia diuji maka ia bersabar, dan apabila telah bersabar maka teguhlah hatinya. Tidakkah kamu mengetahui bahwasanya Allah Ta’ala menguji Ibrahim as kemudian beliau dianugerahinya keteguhan hati. Dia menguji Musa as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati. Dia menguji Ayyub as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati, dan Dia menguji Sulaiman as kemudian Dia memberikannya keteguhan hati dan menganugerahinya kerajaan.

        • Keteguhan hati adalah derajat yang paling utama. Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

        “  Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf dimuka bumi (Mesir).”

        (Qs. Yusuf 21)

        • Dan Ayyub as diteguhkan hati oleh Alah setelah ujian besar. Allah Ta’ala berfirman:

        “ Dan Kami kembalikan keluarganya ke-padanya dan Kami lipatgandakan bilangan mereka.

        (Qs. Al  Anbiya 84)”

        • Ditanyakan kepada Imam Asy Syafi’I ra.:

        “Kapankah seseorang itu dipandang sebagai seorang yang ‘alim?….”

        • Beliau pun menjawab: ”Apabila ia yakin pada suatu ilmu, lalu dipelajarinya ilmu itu. Kemudian ia menempuh ilmu-ilmu yang lain, maka dilihatnya mana yang belum diperolehnya. Maka ketika itu, barulah ia menjadi orang yang ‘alim.”

        • Aku ingin manusia mengambil manfaat dari ilmu yang ini dan dari ilmu-ilmu lain yang ada padaku, meskipun sedikit.
        • Aku tidak pernah diskusi dengan seseorang lalu saya suka ia salah.

        • Aku tidak pernah berbicara kepada seseorang melainkan aku suka ia mendapat taufiq, kebenaran, pertolongan dan pemeliharaan dari Allah Ta’ala. Dan saya tidak pernah berbicara dengan seseorang sedangkan saya mengindahkan agar Allah menjelaskan kebenaran itu pada lidahku atau lidahnya.

        • Saya tidak menyampaikan kebenaran dan bukti kebenaran itu atas seseorang, lalu ia menerimanya daripadaku, melainkan saya takut kepadanya dan saya percaya akan kasih sayangnya. Sebaliknya, kalaulah orang itu menyombongkan diri kepadaku terhadap kebenaran dan ia menolak hujjah (bukti kebenaran), maka jatuhlah orang itu dari pandanganku dan aku menolak berhadapan dengan dia.”

        08.14.08

        Terimalah…!

        Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 10:26 pm by kuswandani

        Ketentuan Allah tidak dapat ditolak oleh siapapun juga.
        Terimalah…maka kalian akan merasakan ketenangan.

        Datangnya siang dan malam apakah hendak kalian tolak?
        Saat malam datang, terimalah….suka ataupun tidak.
        Begitu juga saat datangnya siang.
        Itulah ketentuan Allah dan kadar yang diberikan atas kalian.

        Ketika malam kefakiran datang, abaikan terangnya kekayaan.
        Saat datang sakit, terimalah…abaikan kesehatan.
        Jika datang apa yang kalian benci, maka terimalah…dan abaikan apa yang kalian cintai.
        Sambutlah rasa sakit, siksa, kemiskinan dan hilangnya kekayaan dengan hati yang tenang

        Janganlah menolak apapun berupa ketentuan dan takdir-Nya, sehingga kalian binasa dan keimanan kalian hilang, hati kalian keruh dan nurani kalian menemui kematian.

        Allah SWT berfirman:
        Aku adalah Allah yang tiada Tuhan selain Aku.
        Barangsiapa menerima ketentuan-Ku, sabar menghadapi ujian-Ku, mensyukuri nikmat-Ku.
        Kucatat ia sebagai orang-orang yang benar.
        Sebaliknya siapa yang tidak menerima ketentuan-Ku, tidak sabar menghadapi ujian-Ku, tidak mensyukuri nikmat-Ku,
        maka carilah Tuhan selain Aku!

        (Syekh Abdul Qadir Jailani)

        08.12.08

        Jalan Sang Rumi….

        Posted in Berguru ke Mereka Yuk? at 3:12 pm by kuswandani

        Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
        maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

        Begitulah caranya!

        Jika engkau hanya mampu merangkak,
        maka merangkaklah kepada-Nya!

        Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
        maka tetaplah persembahkan doamu
        yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
        karena Tuhan, dengan rahmat-Nya
        akan tetap menerima mata uang palsumu!

        Jika engkau masih mempunyai
        seratus keraguan mengenai Tuhan,
        maka kurangilah
        menjadi sembilan puluh sembilan saja.

        Begitulah caranya!

        Wahai pejalan!
        Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
        ayolah datang, dan datanglah lagi!

        Karena Tuhan telah berfirman:
        “Ketika engkau melambung ke angkasa
        ataupun terpuruk ke dalam jurang,
        ingatlah kepada-Ku,

        karena Aku-lah jalan itu.”

        08.07.08

        Hadiah Bagi Tebakan Jitu…

        Posted in sisi lain hidup: tersenyumlah!! at 3:04 pm by kuswandani

        Baginda Raja Harun Al Rasyid kelihatan murung. Semua menterinya tidak adayang sanggup menemukan jawaban dari dua pertanyaan Baginda. Bahkan para penasihat kerajaan pun merasa tidak mampu memberi penjelasan yang memuaskan Baginda. Padahal Baginda sendiri ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya.

        Mungkin karena amat penasaran, para penasihat Baginda menyarankan agar Abu Nawas saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu.

        Tidak begitu lama Abu Nawas dihadapkan. Baginda mengatakan bahwa akhirakhir ini ia sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan menyingkap dua rahasia alam.

        “Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?” tanya Abu Nawas ingin tahu.

        “Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku.” kata Baginda.

        “Bolehkah hamba mengetahui kedua teka-teki itu wahai Paduka junjungan  hamba.”

        “Yang pertama, di manakah sebenarnya batas jagat raya ciptaan Tuhan kita?” tanya Baginda.

        “Di dalam pikiran, wahai Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas tanpa sedikit  pun perasaan ragu, “Tuanku yang mulia,” lanjut Abu Nawas ‘ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu manusia tidak akan pernah tahu di mana batas jagat raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas.”

        Baginda mulai tersenyum karena merasa puas mendengar penjelasan Abu  Nawas yang masuk akal. Kemudian Baginda melanjutkan teka-teki yang kedua.

        “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak jumlahnya : bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut?”

        “Ikan-ikan di laut.” jawab Abu Nawas dengan tangkas.

        “Bagaimana kau bisa langsung memutuskan begitu. Apakah engkau pernah menghitung jumlah mereka?” tanya Baginda heran.

        “Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkapi dalam jumlah besar, namun begitu jumlah mereka tetap banyak seolah-olah tidak pernah berkurang karena saking banyaknya. Sementara bintang-bintang itu tidak pernah rontok, jumlah mereka juga banyak.” jawab Abu Nawas meyakinkan.

        Seketika itu rasa penasaran yang selama ini menghantui Baginda sirna tak berbekas. Baginda Raja Harun Al Rasyid memberi hadiah Abu Nawas dan  istrinya uang yang cukup banyak.

        Next page