07.29.08
Yang Tahu Memberitahu Yang Tidak Tahu…
Suatu hari, Nashruddin Effendy berdiri di mimbar; di depan massa, untuk memberikan nasihat. Dia berkata, “Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan kepada kalian?” Orang-orang itu menjawab, “Tidak! Kami tidak tahu.”
Kemudian Nashruddin berkata kepada mereka,
“Baiklah, kalau kalian tidak tahu… Tidak ada gunanya berbicara dengan orang-orang yang tidak tahu.” Dia pun turun dan meninggalkan mereka.
Beberapa hari kemudian, dia kembali dan berbicara pada mereka dengan pertanyaan sama, yang pernah dilontarkannya. Dia berkata, “Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan kepada kalian?” Mereka menjawab, “Ya, kami tahu.” Dia kemudian berkata, “Jika kalian sudah tahu apa yang akan saya sampaikan, saya tidak perlu lagi mengatakannya.” Lalu, dia pun pergi meninggalkan mereka.
Orang-orang itu pun kebingungan; apa yang seharusnya mereka katakan untuk menjawab pertanyaan Nashruddin itu. Namun, mereka sepakat untuk pada kesempatan mendatang, jika Nashruddin melontarkan pertanyaaan serupa, sebagian di antara mereka akan menjawab ya dan sebagian lain akan menjawab tidak.
Beberapa hari kemudian, Nashruddin kembali ke tempat itu dan berkata, “Tahukah kalian, apa yang akan saya katakan pada kalian?”
Jawaban mereka pun beragam; sebagian berkata, “Ya, kami tahu,” dan sebagian lagi mengatakan, “Tidak, kami tidak tahu.” Nashruddin berkata kepada mereka, “Baik, sebagian di antara kalian sudah mengetahuinya dan sebagian lain tidak. Karena itu, saya berharap, yang tahu memberitahu yang tidak tahu.” Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka.
ps: dikutip dari eBook oleh : Nurul Huda Kariem MR. dengan judul : CANDA ALA SUFI Penerbit Cahaya-Bogor, 2004
Filosofi Abu Nawas!
Siapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulama besar ini— sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M di Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir.
Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab”, la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.
Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana.
Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacara
memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo’akannya, maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.
Namun… demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Read the rest of this entry »
Mengapa Alhamdulillah menjadi kalimat dzikir 33 yang kedua?
[cucu] : Abah, terusin dong, kalau yang bacaan alhamdulillah itu…gimana maksudnya…dan kenapa diletakkan di urutan kedua…hayoo! maaf sekali abah, cucu-mu gak bermaksud menguji… punten..!
[kakek] : Ah, gapapa cu! emang udah kewajiban kamu bertanya, dan kewajiban abah mencoba menjawab… karena itulah maka jadilah sebuah tanya jawab….hehe…
begini,
kalimat kedua yang Nabi ajarkan adalah melafalkan dzikir alhamdulillah sebanyak 33 kali juga.. biasa disebut dengan istilah kalimat tahmid… sudah abah jelaskan sebelumnya kan, makna alhamdulillah berkaitan dengan tuntunan kanjeng Nabi sebagai ucapan kita setiap selesai mengerjakan sebuah pekerjaan apapun…
kalimat tahmid, seperti yang abah jelaskan sebelumnya adalah kalimat kebersyukuran…bertahmid adalah memuji dalam bentuk mensyukuri…. sebaik-baik pujian kepada ALlah adalah dengan memuji-Nya, tapi bukan sekedar pujian lisan belaka, Engkau Maha Hebat ya ALlah, Engkau Maha Indah ya ALlah… tapi pujian yang paling Allah sukai adalah dalam bentuk keberhasilan kita memanfaatkan apa pun karunia yang telah Dia berikan….
Read the rest of this entry »
07.28.08
Mengapa Dzikir Pertama 33 Kita Subhanallah?
[Cucu] : Abah, abah….. punten, mau tanya lagi…. Habis dari dulu kepikiran, dan belum ketemu jawabannya… Mengapa habis shalat, kita diajari mengucapkan dzikir kata-kata subhanallah sebanyak 33 kali?
[Kakek] : Begini cucuku, ini-mah apa yang abah pahami hari ini, kalimat subhanallah umumnya diterjemahkan dengan “Maha Suci Allah“… tapi ketika abah coba liat di kamus arab, akar kata subhaana itu diambil dari kata sa-bi-ha yang artinya berenang. lah, jadi kalau kalimat subhanallah jadinya buat abah lebih terasa mendalam maknanya ketika abah coba maknai dengan “berenang mengikuti kehendak Allah…” menghanyutkan diri dalam garis kehendak dan izin Allah, mengikutkan diri dalam aliran sungai kehidupan yang telah Allah gulirkan hari, walaupun tampak di mata kita itu semua menyakitkan, membuatnya menderita, membuat sengsara dan tidak sesuai harapan….
Nah, sering kali, kita-teh, si manusia yang sering gagal dalam memahami diri dan memahami betapa lemah diri ini, selalu merasa bahwa semua urusan dunia itu bisa dia atasi sendiri dengan kebanggaan akan cerdasnya akalnya, sering pula merasa bahwa semua masalah di hadapannya adalah ringan untuk di atasi bahkan akhirnya saking bangganya, saking percaya dirinya seringkali mencoba menentang setiap peristiwa yang hadir yang tidak sesuai dengan harapannya, sering mencoba mempertanyakan terus mengapa peristiwa itu begitu dan tidak begini, sering marah, kecewa dengan kegagalan demi kegagalan bahkan bisa jadi akan berujung pada sebuah pandangan bahwa Allah tidak adil, Allah menzhalimi hamba-Nya dst.dst….
Read the rest of this entry »
07.24.08
Adakah Makna Luhur Dibalik Wudlu Kita?
(Disarikan dari Buku Menjelang Hidayah Al-Ghazali dan ditambah dengan pemaknaan diri oleh Kuswandani sebagai bahan diskusi dan renungan bersama)
Wudlu menurut bahasa Arab berarti air juga memiliki arti lain sebagai pensucian, artinya sebuah tata cara yang Rasulullah Saw. ajarkan agar umatnya menggunakan air sebelum melaksanakan shalat agar tersucikan baik secara lahir maupun batinnya.
Wudlu sebagai tindakan lahiriyah seorang hamba untuk mensucikan dirinya terlebih dahulu sebelum melakukan penghadapan wajah kepada Allah yang Maha Suci.
Namun ternyata tindakan pembasuhan atau pencucian sebagian anggota tubuh ini tidak sekedar sebuah ritual membersihkan aspek lahiriah berupa jasad kita saja… dibalik aspek lahiriah ini, saya menemukan sebuahh pemaknaan lain yang tampak lebih luhur, lebih dalam, lebih menyejukkan sebagai sebuah prosesi membangun kesadaran diri akan pentingnya pensucian lahiriyah yang seharusnya berdampak pada pensucian batin kita…
Pensucian lahiriyah dengan air wudlu, dan pensucian batin kita dengan hadinya pengetahuan. Pengetahuan yang benar dimata-Nya adalah pengetahuan yang melahirkan sebuah kesadaran baru, dari kesadaran demi kesadaran seharusnya kelak akan melahirkan bentuk penghayatan. dan dari sebuah penghayatan akan hidup ini, kelak akan terbit sebuah bentuk lain dalam diri yaitu penyesalan akan kesalahan demi kesalahan masa lalu kita, keburukan kita, dan segala kelalaina serta ketergelinciran kita…
dari penyesalan inilah nurani kita akan menuntun pada sebuah ungkapan istighfar, memohon ampunan akan segala dosa dan kesalahan….
inilah bentuk proses taubat sebagai pensucian jiwa.
Seberapa layak kita memperoleh sambutan Allah Yang Maha Suci, bergantung penuh kepada kesucian lahiriyah kita dan batiniyah kita.
Read the rest of this entry »
07.23.08
Hilangnya Agama…
Hilangnya agamamu adalah karena empat faktor:
(1) Engkau tidak mengamalkan apa yang kau ketahui.
(2) Engkau mengamalkan apa yang tidak kau ketahui.
(3) Engkau tidak mencari tahu apa yang tidak kau ketahui.
(4) Engkau menolak manusia yang akan mengajarimu sesuatu yang tidak kau ketahui
(Syaikh Abdul Qadir Jailani)
Mengapa hamdalah?
[Cucu]: Abah, kenapa Nabi kita mengajari umatnya agar setiap selesai melakukan sebuah pekerjaan baik dalam bentuk apapun, kita disuruh mengucapkan hamdalah (alhmadulillaahi rabbi-l-’aalamiin) ?
[Kakek]: Yang abah mengerti hari ini mah… ucapan hamdalah itu adalah sebuah doa juga sekaligus reminder, sebuah permohonan sekaligus pengingat kita…
pertama kita mohon kepada Allah, agar kita diberi kemampuan mensyukuri apapun pekerjaan yang telah kita selesaikan, apapun hasilnya, untung atau rugi, memuaskan ataupun mengecewakan, membahagiakan ataupun menyengsarakan, membuat semakin senang atau semakin sedih, selamat ataupun celaka… apapun incu-ku… karena hakikat hamdalah adalah kebersyukuran, dan makna kebersyukuran tidak sekedar ucapan terimakasih, tapi lebih luhur jika dimaknai sebuah kemampuan memanfaatkan apapun yang sudah Allah hadirkan…
sebagai doa, agar kita bisa memohon kepada Allah diberi kemampuan memanfaatkan atas hasil apapun yang telah kita dapatkan…
sebagai reminder atau pengingat… kita diingatkan terus dengan ucapan itu agar kita dapat menerima, dan meyakini bahwa kalau Allah sudah hadirkan akhir sebuah pekerjaan itu, apapun bentuknya, tentu itu yang terbaik di mata ALlah, walaupun tampak di mata kita sebaliknya… yang bersyukur adalah mereka yang senantiasa berhasil melihat sisi baik setiap kejadian, selalu berhasil berprasangka baik dengan seluruh skenario ALlah, seluruh kejadian demi kejadian…
makanya, ada sebuah ungkapan menakjubkan dari seorang guru yang tulus…
“doa yang paling agung adalah ucapan alhamdulilaahi rabbi-l-’aalamiin”
artinya ketika kita berdoa memohon kepada ALlah agar diberi kemampuan mengucapkan hamdalah demi hamdalah dalam setiap kejadian, tanda kita sudah tergolong sebagai hamba yang bersyukur…
jika kita berhasil menjadi seperti itu….maka tunggulah karunia ALlah berikutnya akan Dia langsung bayarkan, sesuai dengan jaminan-Nya di ayat-Nya, “Siapa bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku kepadanya……”
[Cucu] : alhamdulilaah, alhamdulillah, alhamdulillah, puji syukur Ya Allah, terimakasih abah… ini makanan buat jiwa saya yang sangat berharga sekali….
07.22.08
Bulan Rajab… ada apa sih?
Rajab terdiri dari tiga huruf yang merangkaikan tiga buah kata bermakna, “Ra”, “Ja”, dan “Ba”
Huruf “Ra” mengandung makna “Rahmah” atau rahmat pertolongan, Huruf “Ja” bermakna “Jurm” atau Kejahatan, dan Huruf “Ba” bermakna “Bari’” atau Bebas dari dosa. lho whats mean? mari kita renungi kalimat Agung Sang Maha ini…
- Allah SWT berfirman: “HambaKu, kamu sekalian bersalah dikarenakan kejahatan dan dosa. Dengan rahmat/pertolongan-Ku, Aku telah memberikan ampunan terhadap kalian dari kejahatan dan dosa ini dan menyebabkan kalian tidak berdosa. Dalam pertautan dengan pembangkangan dan dosa kalian, Aku telah menganugerahkan kepada kalian bulan ini.”
- Sewaktu bulan Rajab berlalu, Allah berkata: “Hai bulanKu, Aku mau mengetahui apakah mereka cinta kepadamu? Apakah hamba-hambaKu melayanimu dengan penuh penghormatan? ” bulan Rajab tidak menjawab sedikit pun, meskipun Allah mengajukan pertanyaan yang sama, selanjutnya bulan Rajab akhirnya berkata: “Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, Engkau adalah Pembuka Tabir, Engkau telah memerintahkan hamba-hambaMu menyembunyikan kesalahan orang, Rasul-Mu memanggilku ‘Bulan Tuli.’ Aku mendengar segala sesuatu yang dilakukan hamba-hambaMu sewaktu mereka tunduk, tetapi aku tidak mendengar pengingkaran dan dosa mereka.”
- Allah Yang Maha Agung berkata: “Engkau adalah bulan-Ku, engkau tidak mendengar sedikit pun dosa. Karena engkau memberikan penerimaan kepada hamba-hambaKu bersama dosa-dosa dan pembangkangan mereka, Aku pun telah melakukan hal yang sama dan memberikan ampunan kepada mereka, demi engkau. Aku akan memberikan ampunan kepada mereka berkenaan dengan setiap dosa dan pelanggaran yang mereka lakukan, asal saja mereka mau segera bertaubat.”
- Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya, Rajab adalah bulan Tuhan; Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
- Diriwayatkan oleh Tsauban—salah seorang sahabat Nabi: “Kala itu aku bersama Nabi saw, sewaktu kami berada di sekitar pemakaman. Nabi berhenti di sana, dan mulai menangis. Dada beliau basah oleh air mata yang mengalir dari kedua matanya.” Aku menghampiri dan bertanya: “Ya Rasulullah, ibuku, bapakku dan aku sendiri adalah jaminan engkau, mengapa baginda menangis? Adakah sesuatu yang diwahyukan Allah kepada baginda? Nabi menjawab: “Hai Tsauban, mereka yang berbaring di sini, orang orang yang meninggal dunia sedang disiksa. Bukan karena itu aku menangis.” Kemudian beliau melanjutkan: “Kalau saja mereka mengisi salah satu hari di bulan Rajab dengan berpuasa dan memperbanyak ibadah di malam hari niscaya mereka akan dibebaskan dari siksaan ini.”
- Rasulullah saw berkata: “Apabila seseorang tidak tidur pada malam hari pertama di bulan Rajab dan melakukan shalat, bersujud, maka sewaktu hati-hati lain mati, hatinya tidak akan mati. Allah SWT akan membenamkan hamba tersebut dalam cinta kasih-Nya dan menyucikannya sesuci-sucinya seperti bayi baru dilahirkan. Lewat berkah malam Rajab, Allah memberikan syafaat kepada tujuh puluh orang yang tadinya akan masuk neraka.”
- Rasulullah saw bersabda: “Umatku, hendaknya kalian teliti dalam memperoleh keutamaan bulan Rajab. Bulan Rajab sesungguhnya bulannya Tuhan. Apabila seseorang mengharapkan pahala dari Allah, berpuasa sepanjang satu hari dalam bulan tersebut, surga akan menjadi kepunyaannya. Apabila dia berpuasa sepanjang dua hari dia akan memperoleh suatu posisi dalam pandangan Allah; yang tidak seorang pun di langit atau di bumi ini mampu melukiskannya. Apabila dia berpuasa sepanjang tiga hari ini dia terjaga dari kesengsaraan dunia dan siksa akhirat, terhindar dari kegilaan dan lepra. Siapa pun yang berpuasa sepanjang tujuh hari di bulan Rajab, tujuh pintu gerbang neraka akan ditutup. Apabila dia berpuasa sepanjang delapan hari, ia akan memperoleh ridha Allah, delapan pintu gerbang surga akan dibukakan untuknya. Apabila dia berpuasa sepanjang sepuluh hari, Allah akan mencukupi segala sesuatu yang dia butuhkan. Apabila dia berpuasa sepanjang lima belas hari, dosa-dosanya yang terdahulu diampuni, tetapi juga diubah menjadi amal salih. Apabila dia berpuasa sepanjang lebih dari lima belas hari, Allah akan melipatgandakan pahalanya.
- Nabi Muhammad saw. pada malam hari mi’raj, beliau memandang suatu aliran sungai di surga yang airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dari salju, dan aromanya lebih harum dari kesturi. Nabi mengajukan pertanyaan kepada Jibril as: “Siapakah yang minum dari aliran air ini?” Jibril menjawab: “Nama dan panggilan air ini adalah Rajab. Apabila salah seorang umat engkau berpuasa pada bulan Rajab dan melantunkan shalawat kepadamu, Allah akan memberikan pahala.”
Rabbi,
Sungguh terasa menyejukkan kalimat-kalimat indah di atas ini… kiranya Engkau melimpahkan hamba sebuah kekuatan untuk dapat memaknai sebenar-benarnya makna…
PS: (hatur nuhun atas postingan kang apuy, punten saya kutip buat blog ini)
Taubata-n-Nasuuhaa… sulitkah?
pesan indah terungkap dibalik perintah Sang Maha Lembut….
“Kembalilah kalian kepada Allah dengan taubata-n-nasuuha….semoga Rabb Sang Pemelihara akan menghapus sayyi’ah (keburukan) kalian, dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, ….. ( QS 66:8 )
taubata-n-nasuuha mengandung dua kata, taubat dan nasuha…taubat memiliki makna kembali, seseorang yang bertaubat adalah dia yang sedang kembali, kembali ke jalan Allah, mencari Allah kembali, seseorang yang berjuang keras untuk bisa mengenal Allah kembali…
lantas, kenapa taubat bisa dimaknai “jalan kembali”, apakah seseorang pernah mengenal-Nya? mengenal jalan-Nya? pernah berjalan bersama-Nya?
hakekatnya setiap diri manusia sebagai entitas jiwa, dia sudah pernah berjumpa dengan-Nya, berjanji di hadapan-Nya, dengan sebuah persaksian khusus, sebuah dealing antara Sang Pencipta dan Sang makhluk ciptaan… sebuah perjanjian dan pengembanan amanah dari Sang Maha Mengenal kepada hamba-Nya yang dicipta dan di beri takaran daya jangkau unik satu sama lain…amanah spesial dalam setiap diri sang hamba tentang misi apa yang akan diembannya untuk dijalankan di muka bumi sesaat ini… (QS 7:172)
Read the rest of this entry »
07.20.08
#2 [06:52:22]
MW: kang, kok saya merasa hidup ini jadi terlalu apatis..
kuswandani : gpp…namanya juga proses
MW: terlalu terhanyut dalam rutinitas pencarian status
kuswandani : itulah dunia…kenapa disimbolkan dengan lautan…karena memang menenggelamkan…
makanya Musa butuh tongkat “pengetahuan” yang tepat hingga dapat membelah lautan itu..
MW: saya menyimak
kuswandani : atau nabi Nuh dengan perahunya, selamat dari banjir… dan untuk menemukan tongkat serta membuat perahu.. butuh pengorbanan, butuh kesadaran butuh tahan ujian makian dan cercaan… itulah hidup
MW: saya menyimak
kuswandani : dan proses membuat perahu memang gak sebentar sebagaimana proses Musa mendapatkan tongkat juga gak sesaat…Musa melewati perjalalanan gurun panjang, harus shaum 40 hari.. dan mendaki bukit.. baru Allah anugerahkan tongkat itu..,
MW: saya menyimak..




